Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Kamis, 14 April 2016

On 12:28 by elsapuspita in    No comments
pic. by wartakesehatan


Karena pernah mengalami betapa tersiksanya saat buang air kecil tak lancar, akhirnya saya jadi cari-cari info, baca-baca juga... kenapa manusia harus minum. Sebenarnya bukan nggak tahu juga sih tapi mengingatkan kembali, utamanya buat pribadi.
Tubuh manusia pada dasarnya terdiri dari 80 % air pada bayi, dan 60 % air pada orang dewasa. Ini menunjukkan bahwa tubuh memang sangat membutuhkan kandungan air yang banyak setiap harinya. Para ahli sendiri merekomendasikan dalam sehari, kita mengkonsumsi air minum minimal 8 gelas (ukuran gelas 200 ml). Berarti tubuh kita harus memiliki asupan air sebanyak 1 – 2 liter per hari.
Ada benarnya juga dokter “galak” itu bilang kalau saya nggak perlu membantah dengan mengatakan sering minum. Toh hasil lab sudah menunjukkan kalau saya kurang minum. Waktu itu memang saya mau bilang kalau saya ga lupa sama minum, tapi memang setelah diingat-ingat minumnya jarang banget. Xixiii ,,, okey setelah mengakui artinya harus memperbaiki diri dong. Karena kekurangan asupan air dalam tubuh ternyata memang bisa mengakibatkan hal yang tidak menyehatkan.
Akibat kurang minum air putih dapat berdampak kronis bagi pencernaan, terutama ginjal. Ini beberapa bahaya dari kekurangan cairan dalam tubuh/kurang minum air putih :
1. Tubuh kekurangan garam dan cairan.
2. Tubuh bisa mengalami dehidrasi, kondisi dimana cairan dalam tubuh tidak tercukupi. Dehidrasi bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan, kulit mengalami kekeringan, sakit kepala hingga merasa lemas dan cemas.
3. Kurang Minum Mengganggu Fungsi Otak, seperti kehilangan konsentrasi hingga gampang lupa. Hal ini terjadi karena kurangnya asupan oksigen yang mengalir ke otak. Akibatnya, sel-sel otak menjadi tidak berkembang bahkan tidak aktif hingga menciut dan akhirnya seseorang menjadi lemot.
4.  Mengalami Masalah Ginjal. Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh yang memiliki fungsi untuk menyaring racun dalam darah dari hasil metabolisme sehingga darah akan menjadi bersih dan bisa didistribusikan ke seluruh tubuh. Karenanya, tubuh jangan sampai kekurangan cairan sebab jika hal itu terjadi, maka ginjal akan bekerja lebih keras dan akhirnya sisa kotoran akan menumpuk di ginjal karena tidak bisa dikeluarkan oleh sistem kemih dengan baik. Ketika urin yang dikeluarkan berwarna keruh, maka itu merupakan salah satu ciri bahwa tubuh sangat membutuhkan air sesegera mungkin.
5.  Terkena Infeksi Kandung Kemih. Kurang minum air putih dapat membuat seseorang terkena infeksi kandung kemih. Gejala-gejalanya bisa berupa meningkatnya suhu badan, tidak dapat menahan buang air kecil, nyeri saat buang air kecil dan nyeri tekan pada tulang kemaluan. Dengan minum air putih, maka bakteri akan mudah keluar dari saluran kemih dan resiko infeksi kandung kemih dapat berkurang.

Air memiliki peran penting untuk kelancaran sistem organ tubuh seperti :    mengatur suhu tubuh, membantu melarutkan mineral, membantu ginjal dan hati melarutkan sisa metabolisme, dan membawa oksigen serta nutrisi pada seluruh jaringan sel. Jadi jangan abaikan tubuh agar tak kekurangan asupan air. Selain sehat, kulit juga menjadi lebih cerah. Yuk biasakan minum air 8 gelas sehari.  


#ODOP
#OneDayOnePost
#Tulisanke23


Sabtu, 09 April 2016

On 12:31 by elsapuspita in    No comments
pic. by tharanaikata

Beberapa waktu lalu saya sudah merasa kurang enak dengan tubuh ini, terutama saat buang air kecil. Sebentar sebentar ke belakang tapi berasa nggak tuntas. Bulak balik terus sampai cape. Perut bagian bawah berasa penuh dengan air tapi nggak lancar keluar. Jadinya merasa ‘berat’.
Saat perjalanan pulang ke rumah saya curhat sama maylopelope :
“yah, udah 3 hari nih rasanya Bunda nggak enak banget kalau buang air kecil. Kayak udah pipis tapi di sini tuh berasa ga keluar semua,” kataku sambil menunjuk perut bagian bawah
“Periksa ke dokter atuh,”
“Justru itu, Yah. Bunda nggak mau ke dokter. Ayah antar Bunda ke Ustad saja ya, Yah?” pintaku. Maylopelope nggak bersuara.

***

Sampai rumah saya coba nge-chat Teteh via WA.
“Bu, Ustad besok ada di rumah ga ya?” tulisku di pesan WA.
“Kenapa?”
“Ini, Bu.... blablabla... saya ceritain keluhannya
“Ooohhh,,, ke dokter saja. Dulu juga Teteh pernah ngalamin kayak gitu. Periksa ke dokter.” Itu sarannya
“Ok deh kalo begitu,” tulisku tergugu
Malam itu tidurku gelisah. Bukan karena takut ke dokter tapi karena perutku seperti menyimpan bergalon-galon air. Wahhhh terlalu lebay ya??? Ahhh pokoknya sakit weh... 

***

Pagi, sekalian mengantar anak sekolah, akhirnya saya putuskan untuk ijin kerja dan minta maylope-lope antar ke dokter. Jam belum menunjukkan angka 8, loket pendaftaran pun belum dibuka tapi pasien sudah berjajar dan terus bertambah. Okey,,, harus sabar.
Beberapa saat kemudian loket dibuka. Dan saya mendapat antrian pertama sebagai pasien dokter Ag*st*n*. Tak lama kemudian saya dipanggil. Hati, perasaan dan pikiran dibuat enjoy. Saya tersenyum sambil menyapa wanita berbaju putih itu. Wanita yang saya yakin dokter itu memberi isyarat dengan tangannya mempersilahkan saya duduk.
 “Apa keluhannya, Bu?”
“Ini, Dok,,,” bla-bla-bla saya ceritakan keluhannya. Belum selesai, dokter kemudian menyuruh saya untuk periksa air seni. “Silahkan periksa di Lab”, perintahnya tegas. “Nanti kembali lagi ke sini.”
Klinik ini memang lengkap. Saya nggak perlu keluar untuk cek lab. Masih di gedung ini juga saya kemudian menuju lab. Cek urine.
Setelah menunggu kurang lebih 30-45 menit, akhirnya hasilnya keluar juga. Saya sempet ngintip hasilnya, tapi ya nggak ngerti, hasilnya itu apa??? Hihiiii... okey, nanti saya akan mendapatkan penjelasan dari dokter.  Langsunglah saya menuju ruangan dokter utnuk memberikan hasil cek lab.
Dokter membuka hasil report lab. Kemudian dengan lantang dia berkata (senada dengan hampir membentak) “Ibu mau kerjasama dengan saya, nggak?”
Jujur saja mendengar kata dengan nada seperti itu saya kaget. “Kerja sama untuk apa Dok?” tanyaku
“Iya, Ibu mau kerjasama dengan saya nggak?”
“Siap, dok.”
“Bener, nih?” tanyanya keras, mengetahui jawabanku seolah tak yakin.  Okey, terus terang saya bingung dengan dokter ini. Tentunya, saya akan mau bekerjasama dengan dokter, kan kepengen sehat.
“Kalau Ibu mau sehat ibu harus mau kerjasama dengan saya. Setiap pasien yang mau sehat harus kerjasama dengan dokternya kan.”
 “Iya, Dok saya siap bekerjasama. Memang hasil labnya kenapa ya, Dok?” tanyaku.
“Udah, Ibu banyak minum air putih. Ingat ya, air putih. Setiap 1 jam sekali minum satu gelas. Ga ada alasan lupa. Simpan dekat ibu satu gelas air putih. OK?” katanya meminta persetujuanku.
Sementara dipikiranku berputar keraguan,,, bagaimana harus banyak minum? Rasa-rasanya diperut ini saja rasanya air belum terkeluarkan.  Trus itu hasil labnya gimana? Penjelasannya...
“Ok, Dok,,, memang hasil labnya kenapa, Dok?” tanyaku  
“Ooooo ini sudah jelas, Ibu positif infeksi kandung kemih. Ibu kurang minum.” Saya mau mangap ketika dokter itu berseru, “Jangan bilang Ibu rutin minum. Bohong itu!”
“Apa bukan karena nahan pipis, Dok?” tanyaku penasaran, karena memang beberapa hari terakhir saya harus nahan-nahan b a k. Lagi diperjalanan, susah nyari toilet, atau Wc nya lagi dipake lah atau ketika lagi on air,,, tiba-tiba kebelet, ya diselesaiin dulu bahasannya baru bisa melenggang ke tandas.
“Nggak,,, bukan itu. Ibu kurang minum air putih. Lihat hasilnya air seni ibu keruh sekali,” jelasnya sementara matanya memperhatikan hasil lab.
“Kalau minum air teh boleh nggak, Dok?” tanyaku. Soalnya saya memang paling senang minum air teh, apalagi teh hangat agak-agak panas.
“Masih ngebantah juga. Minum air putih. Titik.” Serunya. “Okey, saya beri antibiotik untuk infeksinya. Habiskan ya...”
Walau sedikit upset dengan cara menjelaskannya, saya tetep bilang terima kasih untuk pelayanannya.

Pulang dari klinik langsung ke kantor dan bertugas lagi. Hari ini, gelas di meja selalu terisi penuh, agar tidak lupa minum air. Saya harus banyak minum air putih. Itu pesan ibu dokter. 


#ODOP
#OneDayOnePost
#Tulisanke22

Selasa, 29 Maret 2016

On 14:55 by elsapuspita in ,    6 comments
pic. by vavai


"Tuh kan pas ada kesempatan, pas saya harus segera on air. Dari tadi memang di depan komputer. ngecek medsos, nyari-nyari bahan,, surfing kemana-mana, buka gmail n akhirnya inget kalau saya punya blog... setumpuk ide sudah meracau sejak beberapa bulan lalu tapi ya itu lahhhhh... saya keteter waktu euy... mo nulis, anak minta makan, ke dapur dulu dong. Giliran mo lanjutin nulis lihat setrika setumpuk,,, beres nyetrika mata dah ngantuk. Hadeuhhhh.... gini amat ya nasib ... 😩 "

Itu tulisan saya dulu yang tertinggal di draft. Sudah lama bersarang, tapi tak pernah berkembang. Ya... iyaaa lah nggak bakalan kalau bukan kita yang mengembangkannya dengan menambahkan tulisannya. Tulisan di atas tadi menggambarkan betapa sulitnya saya membagi waktu saat itu. Keinginan besar tapi kesempatan seolah tak pernah mampir. Selalu saja ada halangan yang membuat waktu menulis tak pernah terjadi. Betapa susahnya "mencuri-curi" waktu untuk menulis. Dan keadaan itu yang membuat saya merasa permisif sekali. Andai tak bisa membuat tulisan tak apalah, toh kamu cape, toh kamu punya pekerjaan di rumah yang wajib kamu kerjakan, toh kamu juga banyak kerjaan di kantor, belum lagi nemenin anak-anak belajar, nyiapin keperluan mereka, nyiapin makannya juga, dlsb, dlsb,,,, kamu juga harus punya waktu buat santai dong,,, Dan banyak alasan yang lainnya yang menjadi pembenaran saat saya tak menulis.

Belum lagi alasan mandek, nggak ada ide. Padahal ide kan bisa dimana saja ya? Bang Syaiha bilang, kejadian sehari-hari saja bisa jadi ide tulisan, koq. Memang bener, Bang. tapi ide-ide itu akan terkalahkan dengan kata malas. ya,,, malas. Ini barangkali yang sangat tepat untuk keadaan saya waktu itu (sekarang juga masih ada,,, tapi kadarnya mulai berkurang-kurang. heeee...). Saya malas menuliskan setiap ide yang mampir. Sepertinya memang butuh buku catatan atau notes agar setiap ide yang terlintas langsung bisa terekam lewat tulisan.

Pensil kalau ujungnya sudah terlalu bulat, bagi saya agak kurang enak buat digunakan. Tulisan terlihat bengkak-bengkak, menulispun jadi tak bersemangat. Ibarat kata perlu menajamkan pensil, tak ada serutannya, ditambah nggak ada usaha buat nyari cutter keq atau menggunakan pisau dapur saja... hihiii... jadinya yaaa,,, tumpul gitu deh. Nahhh,,, begitu juga dengan ide menulis, kalau nggak diasah pasti selalu ada alasan dan kata "nggak ada ide" atau "otak lagi tumpul" menjadi teman yang setia.

Tampaknya memang harus ada perubahan yang saya lakukan. Setidaknya dimulai dengan 3M :

1. Mempunyai niat. Ya... Niat menulis agar bisa berbagi. Berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan berbagi kebaikan karena Allah. Ini penting, agar setiap tulisan kita bernilai ibadah :)

2. Mempunyai jadwal untuk menulis. Sooo,,, Menjadwal ulang kegiatan dengan memasukan waktu menulis adalah yang penting. Ini yang saya dapat dari teman-teman di ODOP. Jika membiasakan diri dengan kata "nanti jika ada waktu" maka bersiap saja kita akan sukses tak menuliskan apa pun. Jadi selalu sediakan waktu untuk menulis ya,,, :)

3. Mempunyai buku catatan/notes menjadi wajib untuk menulis ketika tiba-tiba ide mengalir. Apalagi jika menggunakan fasilitas di henpon masih agak kesulitan atau kurang kekinian (seperti saya... hihiii...). Jadi,,, jangan biarkan "moment ide" melenggang begitu saja.

Sebulan di ODOP kemarin, tentunya membawa dampak yang baik (alhamdulillah). Okey, ini hanya mengingatkan diri saja, agar cepat melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang baik, bukan?


#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike22
#Tulisanke21

Jumat, 25 Maret 2016

On 10:10 by elsapuspita in    8 comments


Jumat berkah... Insyaallah rejeki melimpah :)
            Jumat,  Sabtu, Minggu akan jadi hari yang sangat sibuk buatku. Jauh-jauh hari kami (bersama adikku) sudah merencanakan untuk bergabung bersama dengan teman-teman lainnya mengisi bazar di acara Seminar Motivasi Setia Furkon di Pendopo Garut, untuk hari Jumat. Sabtu dan Minggu kami sudah harus ngisi booth di STTG.
            Setelah mengikuti bazar pertama di acara Nonton Bareng Film “Tausyiah Cinta”, kami merasa “ketagihan”. Ini merupakan media yang pas banget untuk memperkenalkan produk yang kami miliki.
            Ingat ketika ada pameran dalam rangka Hari Jadi Garut, kami coba buat nyari partner biar bisa gabung ngisi booth di sana. Tapi hingga pameran menjelang usai kami tak menemukan ‘rekan’ itu. Husnudzon saja. Barangkali belum saatnya, siapa tahu tahun depan jika dipanjangkan usia, kami bisa ikut bergabung di pameran seperti itu.  Dan akhirnya itu menjadi mimpi kami. Sampai ketika kami bertemu dengan panitia Nobar tadi. Itulah jawaban dari mimpi kami.
Sejauh ini kami tak pernah menyangka bisa mengikuti  bazar. Apalagi pekan ini kami akan mengikuti 2 acara dalam waktu yang berturut-turut. Ini artinya, kami juga harus siap dengan ketersediaan barang kami. Walaupun kami harus pontang-panting mempersiapkannya disela kesibukan yang seakan tak pernah bertemu letter S. Tapi, ini menyenangkan dan kami sangat menikmatinya
Ini merupakan salah satu kejadian/pengalaman yang mengesankan. Disaat Allah menjawab setiap mimpi dan doa umatNya dengan caraNya,  menyadarkan betapa nggak ada apa-apanya kita tanpa kekuatan dariNya. Kami yakin, rencana-rencanaNya selalu terukur dengan cermat. 
Ini Accessories Salsa "From the bottom of OUR heart with love" 😉
Jangan lupa mampir di booth kami ya,,,, :)


 #ODOP
#OneDayOnePost
#harike20
#Tulisanke15


#SalsaAccessories, #AccessoriesSalsa, #Souvenir #bros #anekabros #handmade #handycraft


Jumat, 18 Maret 2016

On 18:02 by elsapuspita in    3 comments

Jika disuruh untuk menjelaskan isi buku itu ibarat ditanya mimpi. Mimpi apa semalam? Saya hanya tahu itu mimpi yang menyenangkan atau menakutkan tanpa bisa menceritakan mimpi itu dengan detail. Tidak, saya tidak bisa menceritakan mimpi, termasuk mimpi yang menyenangkan sekalipun. Hanya garis besarnya saja. Misalnya, betapa senangnya saat dalam mimpi itu, saya disapa oleh walikota bandung dan istri. Beda dengan kakak atau adik atau orang lain yang bisa bercerita lancar tentang mimpi-mimpinya.
Begitu juga saat disuruh bercerita tentang buku apa yang saya baca. Beuuuhhh.... ini termasuk kelemahan saya, barangkali. Karena setiap setelah membaca buku, saya nggak bisa menjelaskan dengan detail tentang apa yang saya. Saya hanya bisa berkata “Buku yang bagus. Silakan baca.” Jika ditanya buku tentang apa? Maka saya akan jawab garis besarnya saja. Misalnya, “Tentang komunikasi (Jurnalistik/pemasaran/kehidupan hewan, dll), pokoknya keren deh. Coba kamu baca. Kalau sudah baca, nanti share ya...”
“lhoh!” lha iya, saya akan lebih ingat jika setelah membaca kemudian ada teman yang mengulasnya. Jangankan untuk buku-buku yang serius gitu, kumcer atau novel saja, setelah selesai bacanya, saya nggak bisa ingat. Sepertinya untuk hal ini, saya lebih ke tipe auditory.
Tapi, tunggu dulu. Nampaknya bukan hanya masalah buku saja. Setiap kali nonton film. Begitu keluar dari bioskop, lupa deh saya, tadi ceritanya gimana ya? Lupa semua nggak sih, tapi saya jarang bisa cerita dari a – z dengan lengkap. Pasti ada part-part yang hilang. Dan kalau saya cerita, pasti orang nggak ngerti. Heheeee... ceritanya lompat-lompat nggak karuan. Kalau diingetin, baru bilang, “o,,,iyaa, ya,,, itu setelah adegan yang ini ya?” Sadis banget ya,,,
Makanya saat memasuki tantangan minggu ketiga, saya bingung. Mo nulis apa? Jujur saja sudah cukup lama saya nggak lahap buku. Tapi kalau baca news letter, atau media online (bukan medsos ya...) saya termasuk rajin. Yaaa,,, itu karena memang keharusan sebagai host di program yang saya bawakan di radio. Tapi ya itu tadi,,, informasi yang saya dapat tidak bertahan lama di memory. Apa karena memory saya full ya??? 😁
Entah juga saya belum sempat search atau tanya-tanya, apakah yang saya alami ini suatu penyakit? Atau...???
Tapi karena harus menuliskan buku terbaik yang saya baca. Saya jadi mengingat-ngingat lagi. Ada 3 buku yang saya ingat judul dan covernya.

pic. by google

Pertama “Seni Berbicara, kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Dimana Saja” - Larry King. Ini buku tentang seni berkomunikasi. Nggak banyak teori karena lebih cenderung berbicara tentang pengalaman si penulis. Tapi kita bisa dapat banyak ilmu luar biasa tentang cara berkomunikasi yang baik. Yang paling menarik bagi saya adalah bagian dimana dia bercerita saat pertama kalinya dia siaran di radio. Hampir mirip dengan apa yang saya alami saat awal-awal siaran. twewewww!!!
pic. by google
Kedua buku “Chicken Soup For The Couple’s Soul”. Buku yang berisi kisah-kisah yang menginspirasi tentang cinta dan kebersamaan. Kisah-kisah yang menyentuh dan beberapa diantaranya membuat air mata menetes tak terasa.
pic. by google
Ketiga buku “Chicken Soup For The Teenage Soul”. Buku yang berisi kisah-kisah tentang kehidupan, cinta dan pembelajaran. Buku yang menarik. Cerita-ceritanya menyentuh hati.
Yups. Itu 3 buku yang paling saya ingat diantara buku-buku yang lain. Tapi kalau disuruh ceritain apa yang ada didalamnya. Saya nyerah. Pokoknya isinya bagus, menarik dan inspiratif.
Wah,,, saya jadi kangen nih, pengen baca-baca lagi ni buku...  



#ODOP
#OneDayOnePost
#harike15
#Tulisanke13

(*Masih punya hutang 2 tulisan. Pisss! Heeee...)    

Kamis, 17 Maret 2016

On 18:42 by elsapuspita in    No comments


          



Saat duduk di bangku kelas 6, saya dan kakak dipercaya oleh wali kelas untuk tampil di acara perpisahan sekolah. Kami tak lihai, tapi buat mereka (Teman-teman & guru), kami ini istimewa karena bisa menari tarian tradisional. Kami sekolah di sekolah swasta, sekolah non Muslim, teman-teman kami dominan Chinese. Terlihat mereka sangat kagum dengan sesuatu yang berbau tradisional.  Kami bisa menari karena Mam’ memasukkan kami di Pondok Olah Seni Sari Kota Inten. Beberapa tarian kami kuasai, yaitu Tari Yapong, Tari Dewi dan Tari Pohaci.
Kami sempat tampil saat acara kunjungan sekolah satu yayasan dari Tasik. Jadwal menari kami sesuai dengan rundown yang kami terima adalah +- jam 6/7 malam (saya kurang yakin * lebih banyak ke lupa lagi. xixiii...) yang saya ingat penampilan kami di jadwal lebih dulu dari tarian yang akan dibawakan oleh tim tamu.  Namun karena acara molor dan tim tamu kegerahan dengan pakaian yang meriah dan dandanan yang super, serta ‘menghormati’ tamu (denger-denger guru kami, bilang begitu) maka penampilan kami mundur ke penghujung acara dengan beberapa gelintir penonton, diantaranya guru kami dan orang-orang yang kasihan karena kami tak ada yang nonton. (tragis ya... heheee... banget!). Setelah tim tamu tampil dengan modern dance-nya yang energik, para penonton berhamburan keluar, memilih berphoto ria dengan grup dance yang penampilannya seperti penari-penari Guruh Soekarno Putra yang di jamannya benar-benar menjerat mata.
Waktu itu, perasaan kami biasa-biasa saja. Hanya memang menari kami tak ‘bersemangat’. Bukan karena kami down, tapi lebih karena memang tari Dewi itu halus dan lembut, kesannya kalau dalam basa Sunda itu seperti leuleus meuyeu (lemes). Ditambah kami sudah terserang ngantuk. Bayangkan saja, dandan dan nunggu tampil dari jam 5 sore, ternyata naik panggung jam 9 malam. Sebagai anak yang masih imut waktu itu, jam segitu ya waktunya ketemu bantal, dong. Ya sudah, kita abaikan saja pengalaman yang kurang menyenangkan, sebenarnya. Kami dicuekin.
Barangkali karena teman dan guru kami sangat appreciate dengan kemampuan menari kami. Maka saat perpisahan itu kami didaulat untuk menari jaipongan. Padahal jujur saja, kami tak bisa menari jaipong. Hanya saja saat itu lagi booming tari jaipong Daun Pulus. Kami sudah jelaskan kalau kami tak bisa jaipongan. Kami hanya ikut-ikutan goyang saja. Tak pakai pakem atau aturan yang penting enak jatuhnya saja. Belum layak buat tayang di panggung.  Tapi guru kami tetep keukeuh kami harus jaipongan.
Karena request itulah, maka kami belajar nari jaipong dari Teh Atik, teman Mam’. Tapi belajar nari itu ga bisa sehari dua hari, lho. Kami belajar nari Dewi saja perlu waktu lama sampai akhirnya kami bisa mengikuti ujian kenaikan tingkat ke tari selanjutnya yaitu tari Pohaci. Ini kami harus belajar nari jaipong +- seminggu dua minggu. Jujur saja tidak semua gerakan dapat dikuasai. Sementara acara perpisahan semakin mendekat. Yaaa,,, akhirnya gerakan kami modif sesuai kemampuan kami saat itu. Poko’e joged! Ehhh salah poko’e kami harus tampil jaipongan. Begitulah kira-kira kasusnya. :D
Apakah kami bisa tampil menari Jaipong di acara perpisahan sekolah?
lanjutannya di episode berikutnya ya.... 😉😉😉

#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike11

Selasa, 15 Maret 2016

On 17:13 by elsapuspita in    3 comments

Akhirnya saya bisa duduk manis di angkot 02. Bagian depan pula. Sengaja. Saya (maaf) nggak ingin terganggu dengan penumpang lain. Hari ini saya merasa kelelahan, setelah sebelumnya saya ‘diajak’ berlama-lama ngetem di angkot 06. Okey,,, saya bisa rasakan panasnya siang ini sambil menikmati semilir angin dari jendela yang terbuka lebar.
      Di dekat pertigaan Bratayudha Sudirman segerombolan anak muda menyetop mobil yang saya tumpangi. Kemudian anak muda yang saya taksir umurnya belasan  tahun itu meminta uang, “Bah 2 rebu lah, rokok,”katanya sambil mengacungkan 2 jari tangannya. Pak sopir yang dipanggil Abah  itu memberikan uang. “Bah sing ridho nya. Didoakeun sing salamet dan bla bla bla,,,”
Ini bukan kali pertama saya mendapati anak-anak muda ini ‘memalak’ para sopir angkot. Waktu itu, di tempat yang sama ada anak muda yang menyodorkan permen satu biji dan si sopir diharuskan memberinya uang 2 rebu perak. Sambil menjalankan mobilnya si sopir menggerutu. Saya nggak tahu apa setiap angkot yang lewat ke sana harus ‘setor’ uang pada anak-anak itu tiap satu putaran atau pada putaran tertentu, misalnya. Sepertinya ini pungutan liar, toh beberapa kali pula saya dapati, walaupun mereka berikan uangnya tapi para sopir itu agak menggerutu.        
Sedari tadi pas saya duduk manis di depan, dekat pak sopir, baru saat itu saya memperhatikan pak sopir di sebelah saya. Melihat wajah dan perawakannya, ternyata dia orang tua dengan badan kecil, tinggi, rambut yang mulai memutih, gigi yang sudah tidak lengkap lagi, kulit tangan yang terlihat keriput. Pantaslah dia dipanggil abah. Saat itulah saya mulai beranikan untuk bertanya pada si abah. Berceritalah dia. Tiga tahun lagi usianya akan sampai di 60. Baru 2 tahun ia jalani sebagai sopir angkot. Sebelumnya dia pulang pergi bawa bis dari Singaparna – Jakarta. “hiji weh panyawat Abah mah, asma. Pami tos katirisan sok kambuh. Ieu teh salah sahijina kusabab sok ngarokok.” (satu saja penyakit Abah itu, Asma. Kalau kedinginan suka kambuh. Sakit ini salah satu sebabnya karena dulu Abah suka merokok). Begitu, Abah menceritakan dirinya. Karena itu pula 6 tahun lalu Abah mulai meninggalkan rokok. Untuk poin terakhir ini saya sangat senang sekali mendengarnya. Semoga Abah selalu diberi kesehatan.
Dengan 2 anak yang sudah menikah pantasnya Abah bisa beristirahat menikmati masa tuanya. Tapi itu tidak dilakukannya. Selama dia masih bisa berusaha dia tak ingin menyusahkan anak-anaknya.
Kontras sekali dengan anak-anak muda yang hanya menadahkan tangannya, meminta pada setiap sopir angkot yang lewat. Maafkan saya jika saya salah. Tapi melihat anak-anak muda itu hanya duduk-duduk diam di pinggir jalan kemudian memberhentikan angkot dan meminta uang untuk rokok berasa miris. Mereka tidak malu dengan gelar anak muda yang harusnya bisa berkarya lebih dari si Abah. Yang harusnya punya semangat untuk melakukan yang terbaik dalam hidup untuk keluarganya minimal untuk dirinya sendiri. Aahhh,,,, kemana rasa malu mereka?
Sebagai anak muda seharusnya bisa memanfaatkan peluang masa mudanya untuk maju dan berubah pada kebaikan. Bahwa peluang itu tidak akan kembali. Seperti pesan Rasulullah : manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, saat sehat sebelum sakit, masa lapang sebelum sempit, masa terang sebelum masa gelap.
Semoga kita juga anak-anak kita bisa menangkap setiap peluang untuk menuju pada perubahan yang lebih baik.


#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike10

     
        


Sabtu, 12 Maret 2016

On 11:59 by elsapuspita in    4 comments
pic. by sigambar

Perkenalkan, nama saya bukan “Kamu” atau “Hei” apalagi “Hei Kamu”.   Panggil saya Elsa atau Icha. Seorang pemalu yang tidak bisa apa-apa. Addduhhh,,, kata-kata apa ini? Memperdaya sekali.  Salah! Saya bisa menulis. Nah,,, ini kata memberdayakan.
Tulisan pertama di majalah kampus. Waktu itu saya diberi kepercayaan oleh Wiwi, Ketua Hima di Fakultas yang saya ada di dalamnya. Diberi waktu +- 3 hari buat bikin cerpen. Alhamdulillah berhasil. Judulnya “Batman Kasarung”. Luar biasa saya tercengang dengan hasilnya. Haiiii saya bisa menulis!
Walaupun terlambat, 2013 saya baru punya diary digital, itu berkat dorongan seorang teman. Menulis tertatih-tatih dan beberapa kali mengikuti lomba menulis. Bukan untuk mencari gelar atau berburu juara. Saya hanya ingin mengasah kemampuan saja. Lagian kalau ikutan lomba seperti itu saya mau nggak mau harus menulis. Dikejar deadline ternyata mendorong saya untuk berpikir keras membuat suatu tulisan.
Makanya nggak pernah menyangka jika beberapa tulisan saya ternyata berhasil mencuri perhatian juri. Ini beberapa tulisan yang pernah meraih juara (walaupun bukan juara utama, yang terpenting saya juara menaklukkan keraguan dan ketakutan saya tentang dunia menulis ini).
Saya menjadi salah satu pemenang di lomba blog tentang PLN dalam rangka 68th Hari Listrik Nasional #PLN_Bersih. Tulisannya bisa tengok di sini.
Setahun kemudian saya ikut lagi lomba blog masih tentang PLN dalam rangka 69th Hari Listrik Nasional. Kali ini, walaupun saya tidak menjadi pemenangnya tapi saya mendapat penghargaan langsung dari Humas PLN Area Garut saat itu, Bapak Wahyudin yang menyampaikan langsung piagamnya. Tulisannya ada di blog ini juga. Klik di sini ya... 
Ada lagi beberapa perlombaan nulis lainnya yang saya ikuti dan ada diantaranya yang berhasil menjadi pemenangnya walaupun bukan juara utama.  Seperti saat mengikuti lomba menulis di FF-nya Sariayu Martha Tilaar dan  lomba nulis arti cantik yang digelar You C 1000.
Prestasi ini jadi penyemangat saya untuk menulis. Tapi setahun terakhir kemarin semangat menulis drop banget. Kehilangan moment buat menulis bahkan buat nengok lomba-lomba. Data perlombaan hanya sekedar menuhin memori saja tanpa pernah diikuti. Makanya ketika ada ODOP saya merasa  tertantang. Semoga saja saya bisa berhasil melaluinya. Karena pada dasarnya, walaupun tulisan saya beginih inih,,, tapi saya bisa menulis... pede nih... hahaaa...
Saya lebih suka dikenal sebagai ibu rumah tangga yang bekerja dari pada disebut wanita karier dengan 2 anak. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing (cita-cita yang apa adanya). Culun. Sepertinya itu tak tepat untukku, so... alhamdulillah Allah tak ijinkan itu.
Orang nggak bakal percaya kalau saya bilang saya ini introvert. Bagaimana percaya kalau tiap hari nyerocos berakrab ria dengan para pendengar di radio. Itu saat saya siaran. Kalau ketemu langsung saya diem nggak ngomong-ngomong. Hahaaaa... itu dulu. Sekarang lebih bisa menyesuaikan dirilah,,, sedikit. Heeee... Introvert yang kecemplung di dunia broadcast.
Karena kerja di radio ini orang nyangka saya pinter ngomong. Dikit-dikit diminta ngemci padahal jujur weh saya teh malu da kalau di depan banyak orang mah. Beda kalau di radio hanya di depan mic n perangkat siaran saja. Makanya berasa ditodong saat diminta jadi pembicara di acara Sarasehan Forum Pengurangan Risiko Bencana Garut. Ini pertama kali saya berada di depan podium. Makanya saya ajukan juga rekan duet di siaran buat nemani dengan dalih kami adalah satu paket, jika undang saya harus sama rekan saya juga.  Strategi biar ada yang nemenin grogi.... xixiii... akhirnya kami bisa lewati saat-saat horor itu dengan baik walaupun kaki gemeteran dan jantung berdegup-degup.  
Walaupun udah emak-emak (emak-emak muda... hahaaaa...) tapi sempat ‘diseret’ teman ikut komunitas PMG “Penulis Muda Garut”. Sempet juga nulis beberapa cerpen yang tadinya ingin dibukukan tapi sampai sekarang belum dipublish. Nunggu waktu yang tepat atau masih malu, entahlah.... barangkali nanti saya posting di blog ini saja.
Semangat berkarya!


Elsa Puspita (Icha)
Fb : Elsa Rugeri
Twitter : @elsa_rugerifm
IG : elsarugerifm
Email : elsa_rugerifm@gmail.com

#ODOP
#One DayOnePost
#Harike9