Selasa, 29 Maret 2016
![]() |
| pic. by vavai |
"Tuh kan pas ada kesempatan, pas saya harus segera on air. Dari tadi memang di depan komputer. ngecek medsos, nyari-nyari bahan,, surfing kemana-mana, buka gmail n akhirnya inget kalau saya punya blog... setumpuk ide sudah meracau sejak beberapa bulan lalu tapi ya itu lahhhhh... saya keteter waktu euy... mo nulis, anak minta makan, ke dapur dulu dong. Giliran mo lanjutin nulis lihat setrika setumpuk,,, beres nyetrika mata dah ngantuk. Hadeuhhhh.... gini amat ya nasib ... 😩 "
Itu tulisan saya dulu yang tertinggal di draft. Sudah lama bersarang, tapi tak pernah berkembang. Ya... iyaaa lah nggak bakalan kalau bukan kita yang mengembangkannya dengan menambahkan tulisannya. Tulisan di atas tadi menggambarkan betapa sulitnya saya membagi waktu saat itu. Keinginan besar tapi kesempatan seolah tak pernah mampir. Selalu saja ada halangan yang membuat waktu menulis tak pernah terjadi. Betapa susahnya "mencuri-curi" waktu untuk menulis. Dan keadaan itu yang membuat saya merasa permisif sekali. Andai tak bisa membuat tulisan tak apalah, toh kamu cape, toh kamu punya pekerjaan di rumah yang wajib kamu kerjakan, toh kamu juga banyak kerjaan di kantor, belum lagi nemenin anak-anak belajar, nyiapin keperluan mereka, nyiapin makannya juga, dlsb, dlsb,,,, kamu juga harus punya waktu buat santai dong,,, Dan banyak alasan yang lainnya yang menjadi pembenaran saat saya tak menulis.
Belum lagi alasan mandek, nggak ada ide. Padahal ide kan bisa dimana saja ya? Bang Syaiha bilang, kejadian
sehari-hari saja bisa jadi ide tulisan, koq. Memang bener, Bang. tapi
ide-ide itu akan terkalahkan dengan kata malas. ya,,, malas. Ini
barangkali yang sangat tepat untuk keadaan saya waktu itu (sekarang juga
masih ada,,, tapi kadarnya mulai berkurang-kurang. heeee...). Saya malas
menuliskan setiap ide yang mampir. Sepertinya memang butuh buku catatan
atau notes agar setiap ide yang terlintas langsung bisa terekam lewat
tulisan.
Pensil kalau ujungnya sudah terlalu bulat, bagi saya agak kurang enak buat digunakan. Tulisan terlihat bengkak-bengkak, menulispun jadi tak bersemangat. Ibarat kata perlu menajamkan pensil, tak ada serutannya, ditambah nggak ada usaha buat nyari cutter keq atau menggunakan pisau dapur saja... hihiii... jadinya yaaa,,, tumpul gitu deh. Nahhh,,, begitu juga dengan ide menulis, kalau nggak diasah pasti selalu ada alasan dan kata "nggak ada ide" atau "otak lagi tumpul" menjadi teman yang setia.
Tampaknya memang harus ada perubahan yang saya lakukan. Setidaknya dimulai dengan 3M :
1. Mempunyai niat. Ya... Niat menulis agar bisa berbagi. Berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan berbagi kebaikan karena Allah. Ini penting, agar setiap tulisan kita bernilai ibadah :)
2. Mempunyai jadwal untuk menulis. Sooo,,, Menjadwal ulang kegiatan dengan memasukan waktu menulis adalah yang penting. Ini yang saya dapat dari teman-teman di ODOP. Jika membiasakan diri dengan kata "nanti jika ada waktu" maka bersiap saja kita akan sukses tak menuliskan apa pun. Jadi selalu sediakan waktu untuk menulis ya,,, :)
3. Mempunyai buku catatan/notes menjadi wajib untuk menulis ketika tiba-tiba ide mengalir. Apalagi jika menggunakan fasilitas di henpon masih agak kesulitan atau kurang kekinian (seperti saya... hihiii...). Jadi,,, jangan biarkan "moment ide" melenggang begitu saja.
Sebulan di ODOP kemarin, tentunya membawa dampak yang baik (alhamdulillah). Okey, ini hanya mengingatkan diri saja, agar cepat melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang baik, bukan?
#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike22
#Tulisanke21
Jumat, 25 Maret 2016
On 10:10 by elsapuspita in Cerita Bunda 8 comments
![]() |
| Jumat berkah... Insyaallah rejeki melimpah :) |
Jumat, Sabtu, Minggu akan jadi hari yang sangat sibuk buatku.
Jauh-jauh hari kami (bersama adikku) sudah merencanakan untuk bergabung bersama
dengan teman-teman lainnya mengisi bazar di acara Seminar Motivasi Setia Furkon
di Pendopo Garut, untuk hari Jumat. Sabtu dan Minggu kami sudah harus ngisi
booth di STTG.
Setelah
mengikuti bazar pertama di acara Nonton Bareng Film “Tausyiah Cinta”, kami
merasa “ketagihan”. Ini merupakan media yang pas banget untuk memperkenalkan
produk yang kami miliki.
Ingat
ketika ada pameran dalam rangka Hari Jadi Garut, kami coba buat nyari partner
biar bisa gabung ngisi booth di sana. Tapi hingga pameran menjelang usai kami
tak menemukan ‘rekan’ itu. Husnudzon saja. Barangkali belum saatnya, siapa tahu
tahun depan jika dipanjangkan usia, kami bisa ikut bergabung di pameran seperti
itu. Dan akhirnya itu menjadi mimpi kami. Sampai ketika kami bertemu
dengan panitia Nobar tadi. Itulah jawaban dari mimpi kami.
Sejauh ini kami tak pernah menyangka bisa
mengikuti bazar. Apalagi pekan ini kami akan mengikuti 2 acara dalam
waktu yang berturut-turut. Ini artinya, kami juga harus siap dengan
ketersediaan barang kami. Walaupun kami harus pontang-panting mempersiapkannya
disela kesibukan yang seakan tak pernah bertemu letter S. Tapi, ini
menyenangkan dan kami sangat menikmatinya
Ini merupakan salah satu kejadian/pengalaman yang
mengesankan. Disaat Allah menjawab setiap mimpi dan doa umatNya dengan
caraNya, menyadarkan betapa nggak ada apa-apanya kita tanpa kekuatan
dariNya. Kami yakin, rencana-rencanaNya selalu terukur dengan cermat.
![]() |
| Ini Accessories Salsa "From the bottom of OUR heart with love" 😉 |
![]() |
| Jangan lupa mampir di booth kami ya,,,, :) |
#OneDayOnePost
#harike20
#Tulisanke15
#SalsaAccessories, #AccessoriesSalsa,
#Souvenir #bros #anekabros #handmade #handycraft
Jumat, 18 Maret 2016
On 18:02 by elsapuspita in Cerita Bunda 3 comments
Jika disuruh untuk menjelaskan isi buku itu ibarat
ditanya mimpi. Mimpi apa semalam? Saya hanya tahu itu mimpi yang menyenangkan
atau menakutkan tanpa bisa menceritakan mimpi itu dengan detail. Tidak, saya
tidak bisa menceritakan mimpi, termasuk mimpi yang menyenangkan sekalipun.
Hanya garis besarnya saja. Misalnya, betapa senangnya saat dalam mimpi itu,
saya disapa oleh walikota bandung dan istri. Beda dengan kakak atau adik atau
orang lain yang bisa bercerita lancar tentang mimpi-mimpinya.
Begitu juga saat disuruh bercerita tentang buku apa yang
saya baca. Beuuuhhh.... ini termasuk kelemahan saya, barangkali. Karena setiap
setelah membaca buku, saya nggak bisa menjelaskan dengan detail tentang apa
yang saya. Saya hanya bisa berkata “Buku yang bagus. Silakan baca.” Jika
ditanya buku tentang apa? Maka saya akan jawab garis besarnya saja. Misalnya,
“Tentang komunikasi (Jurnalistik/pemasaran/kehidupan hewan, dll), pokoknya keren
deh. Coba kamu baca. Kalau sudah baca, nanti share ya...”
“lhoh!” lha iya, saya akan lebih ingat jika setelah
membaca kemudian ada teman yang mengulasnya. Jangankan untuk buku-buku yang
serius gitu, kumcer atau novel saja, setelah selesai bacanya, saya nggak bisa
ingat. Sepertinya untuk hal ini, saya lebih ke tipe auditory.
Tapi, tunggu dulu. Nampaknya bukan hanya masalah buku
saja. Setiap kali nonton film. Begitu keluar dari bioskop, lupa deh saya, tadi
ceritanya gimana ya? Lupa semua nggak sih, tapi saya jarang bisa cerita dari a
– z dengan lengkap. Pasti ada part-part yang hilang. Dan kalau saya cerita,
pasti orang nggak ngerti. Heheeee... ceritanya lompat-lompat nggak karuan.
Kalau diingetin, baru bilang, “o,,,iyaa, ya,,, itu setelah adegan yang ini ya?”
Sadis banget ya,,,
Makanya saat memasuki tantangan minggu ketiga, saya
bingung. Mo nulis apa? Jujur saja sudah cukup lama saya nggak lahap buku. Tapi
kalau baca news letter, atau media online (bukan medsos ya...) saya
termasuk rajin. Yaaa,,, itu karena memang keharusan sebagai host di program yang saya bawakan di
radio. Tapi ya itu tadi,,, informasi yang saya dapat tidak bertahan lama di memory. Apa karena memory saya full ya??? 😁
Entah juga saya belum sempat search atau tanya-tanya, apakah yang saya alami ini suatu penyakit?
Atau...???
Tapi karena harus menuliskan buku terbaik yang saya
baca. Saya jadi mengingat-ngingat lagi. Ada 3 buku yang saya ingat judul dan
covernya.
![]() |
| pic. by google |
Pertama “Seni Berbicara, kepada Siapa Saja, Kapan
Saja, Dimana Saja” - Larry King. Ini buku tentang seni berkomunikasi. Nggak
banyak teori karena lebih cenderung berbicara tentang pengalaman si penulis. Tapi kita
bisa dapat banyak ilmu luar biasa tentang cara berkomunikasi yang baik. Yang
paling menarik bagi saya adalah bagian dimana dia bercerita saat pertama
kalinya dia siaran di radio. Hampir mirip dengan apa yang saya alami saat
awal-awal siaran. twewewww!!!
![]() |
| pic. by google |
Kedua buku “Chicken Soup For The Couple’s Soul”. Buku
yang berisi kisah-kisah yang menginspirasi tentang cinta dan kebersamaan.
Kisah-kisah yang menyentuh dan beberapa diantaranya membuat air mata menetes
tak terasa.
![]() |
| pic. by google |
Ketiga buku “Chicken Soup For The Teenage Soul”. Buku
yang berisi kisah-kisah tentang kehidupan, cinta dan pembelajaran. Buku yang
menarik. Cerita-ceritanya menyentuh hati.
Yups. Itu 3 buku yang paling saya ingat diantara
buku-buku yang lain. Tapi kalau disuruh ceritain apa yang ada didalamnya. Saya
nyerah. Pokoknya isinya bagus, menarik dan inspiratif.
Wah,,, saya jadi kangen nih, pengen baca-baca lagi ni buku...
Wah,,, saya jadi kangen nih, pengen baca-baca lagi ni buku...
#ODOP
#OneDayOnePost
#harike15
#Tulisanke13
(*Masih punya hutang 2 tulisan. Pisss! Heeee...)
Kamis, 17 Maret 2016
On 18:42 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
Saat duduk di bangku kelas 6, saya dan kakak dipercaya oleh wali kelas untuk tampil di acara perpisahan sekolah. Kami tak lihai, tapi buat mereka (Teman-teman & guru), kami ini istimewa karena bisa menari tarian tradisional. Kami sekolah di sekolah swasta, sekolah non Muslim, teman-teman kami dominan Chinese. Terlihat mereka sangat kagum dengan sesuatu yang berbau tradisional. Kami bisa menari karena Mam’ memasukkan kami di Pondok Olah Seni Sari Kota Inten. Beberapa tarian kami kuasai, yaitu Tari Yapong, Tari Dewi dan Tari Pohaci.
Kami sempat tampil saat acara kunjungan sekolah satu yayasan dari Tasik. Jadwal menari kami sesuai dengan rundown yang kami terima adalah +- jam 6/7 malam (saya kurang yakin * lebih banyak ke lupa lagi. xixiii...) yang saya ingat penampilan kami di jadwal lebih dulu dari tarian yang akan dibawakan oleh tim tamu. Namun karena acara molor dan tim tamu kegerahan dengan pakaian yang meriah dan dandanan yang super, serta ‘menghormati’ tamu (denger-denger guru kami, bilang begitu) maka penampilan kami mundur ke penghujung acara dengan beberapa gelintir penonton, diantaranya guru kami dan orang-orang yang kasihan karena kami tak ada yang nonton. (tragis ya... heheee... banget!). Setelah tim tamu tampil dengan modern dance-nya yang energik, para penonton berhamburan keluar, memilih berphoto ria dengan grup dance yang penampilannya seperti penari-penari Guruh Soekarno Putra yang di jamannya benar-benar menjerat mata.
Waktu itu, perasaan kami biasa-biasa saja. Hanya memang menari kami tak ‘bersemangat’. Bukan karena kami down, tapi lebih karena memang tari Dewi itu halus dan lembut, kesannya kalau dalam basa Sunda itu seperti leuleus meuyeu (lemes). Ditambah kami sudah terserang ngantuk. Bayangkan saja, dandan dan nunggu tampil dari jam 5 sore, ternyata naik panggung jam 9 malam. Sebagai anak yang masih imut waktu itu, jam segitu ya waktunya ketemu bantal, dong. Ya sudah, kita abaikan saja pengalaman yang kurang menyenangkan, sebenarnya. Kami dicuekin.
Barangkali karena teman dan guru kami sangat appreciate dengan kemampuan menari kami. Maka saat perpisahan itu kami didaulat untuk menari jaipongan. Padahal jujur saja, kami tak bisa menari jaipong. Hanya saja saat itu lagi booming tari jaipong Daun Pulus. Kami sudah jelaskan kalau kami tak bisa jaipongan. Kami hanya ikut-ikutan goyang saja. Tak pakai pakem atau aturan yang penting enak jatuhnya saja. Belum layak buat tayang di panggung. Tapi guru kami tetep keukeuh kami harus jaipongan.
Karena request itulah, maka kami belajar nari jaipong dari Teh Atik, teman Mam’. Tapi belajar nari itu ga bisa sehari dua hari, lho. Kami belajar nari Dewi saja perlu waktu lama sampai akhirnya kami bisa mengikuti ujian kenaikan tingkat ke tari selanjutnya yaitu tari Pohaci. Ini kami harus belajar nari jaipong +- seminggu dua minggu. Jujur saja tidak semua gerakan dapat dikuasai. Sementara acara perpisahan semakin mendekat. Yaaa,,, akhirnya gerakan kami modif sesuai kemampuan kami saat itu. Poko’e joged! Ehhh salah poko’e kami harus tampil jaipongan. Begitulah kira-kira kasusnya. :D
Apakah kami bisa tampil menari Jaipong di acara perpisahan sekolah?
lanjutannya di episode berikutnya ya.... 😉😉😉
#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike11
Selasa, 15 Maret 2016
On 17:13 by elsapuspita in Cerita Bunda 3 comments
Akhirnya saya bisa duduk manis di angkot 02. Bagian depan pula.
Sengaja. Saya (maaf) nggak ingin terganggu dengan penumpang lain. Hari ini saya
merasa kelelahan, setelah sebelumnya saya ‘diajak’ berlama-lama ngetem di
angkot 06. Okey,,, saya bisa rasakan panasnya siang ini sambil menikmati
semilir angin dari jendela yang terbuka lebar.
Di
dekat pertigaan Bratayudha Sudirman segerombolan anak muda menyetop mobil yang
saya tumpangi. Kemudian anak muda yang saya taksir umurnya belasan tahun
itu meminta uang, “Bah 2 rebu lah, rokok,”katanya sambil mengacungkan 2 jari
tangannya. Pak sopir yang dipanggil Abah itu memberikan uang. “Bah
sing ridho nya. Didoakeun sing salamet dan bla bla bla,,,”
Ini bukan kali pertama saya mendapati anak-anak muda ini ‘memalak’
para sopir angkot. Waktu itu, di tempat yang sama ada anak muda yang
menyodorkan permen satu biji dan si sopir diharuskan memberinya uang 2 rebu
perak. Sambil menjalankan mobilnya si sopir menggerutu. Saya nggak tahu apa
setiap angkot yang lewat ke sana harus ‘setor’ uang pada anak-anak itu tiap
satu putaran atau pada putaran tertentu, misalnya. Sepertinya ini pungutan
liar, toh beberapa kali pula saya dapati, walaupun mereka berikan uangnya tapi
para sopir itu agak menggerutu.
Sedari tadi pas saya duduk manis di depan, dekat pak sopir, baru
saat itu saya memperhatikan pak sopir di sebelah saya. Melihat wajah dan
perawakannya, ternyata dia orang tua dengan badan kecil, tinggi, rambut yang
mulai memutih, gigi yang sudah tidak lengkap lagi, kulit tangan yang terlihat
keriput. Pantaslah dia dipanggil abah. Saat itulah saya mulai beranikan untuk
bertanya pada si abah. Berceritalah dia. Tiga tahun lagi usianya akan sampai di
60. Baru 2 tahun ia jalani sebagai sopir angkot. Sebelumnya dia pulang pergi bawa
bis dari Singaparna – Jakarta. “hiji weh panyawat
Abah mah, asma. Pami tos katirisan sok kambuh. Ieu teh salah sahijina kusabab
sok ngarokok.” (satu saja penyakit Abah itu, Asma. Kalau kedinginan suka
kambuh. Sakit ini salah satu sebabnya karena dulu Abah suka merokok). Begitu,
Abah menceritakan dirinya. Karena itu pula 6 tahun lalu Abah mulai meninggalkan
rokok. Untuk poin terakhir ini saya sangat senang sekali mendengarnya. Semoga
Abah selalu diberi kesehatan.
Dengan 2 anak yang sudah menikah pantasnya Abah bisa beristirahat
menikmati masa tuanya. Tapi itu tidak dilakukannya. Selama dia masih bisa
berusaha dia tak ingin menyusahkan anak-anaknya.
Kontras sekali dengan anak-anak muda yang hanya menadahkan
tangannya, meminta pada setiap sopir angkot yang lewat. Maafkan saya jika saya
salah. Tapi melihat anak-anak muda itu hanya duduk-duduk diam di pinggir jalan
kemudian memberhentikan angkot dan meminta uang untuk rokok berasa miris.
Mereka tidak malu dengan gelar anak muda yang harusnya bisa berkarya lebih dari
si Abah. Yang harusnya punya semangat untuk melakukan yang terbaik dalam hidup
untuk keluarganya minimal untuk dirinya sendiri. Aahhh,,,, kemana rasa malu
mereka?
Sebagai anak muda seharusnya bisa memanfaatkan peluang masa
mudanya untuk maju dan berubah pada kebaikan. Bahwa peluang itu tidak akan
kembali. Seperti pesan Rasulullah : manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa
tuamu, saat sehat sebelum sakit, masa lapang sebelum sempit, masa terang
sebelum masa gelap.
Semoga kita juga anak-anak kita bisa menangkap setiap peluang
untuk menuju pada perubahan yang lebih baik.
#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike10
Sabtu, 12 Maret 2016
On 11:59 by elsapuspita in Cerita Bunda 4 comments
![]() |
| pic. by sigambar |
Perkenalkan, nama saya bukan
“Kamu” atau “Hei” apalagi “Hei Kamu”. Panggil saya Elsa atau Icha.
Seorang pemalu yang tidak bisa apa-apa. Addduhhh,,, kata-kata apa ini?
Memperdaya sekali. Salah! Saya bisa menulis. Nah,,, ini kata
memberdayakan.
Tulisan pertama di majalah
kampus. Waktu itu saya diberi kepercayaan oleh Wiwi, Ketua Hima di Fakultas
yang saya ada di dalamnya. Diberi waktu +- 3 hari buat bikin cerpen.
Alhamdulillah berhasil. Judulnya “Batman Kasarung”. Luar biasa saya tercengang
dengan hasilnya. Haiiii saya bisa menulis!
Walaupun terlambat, 2013 saya
baru punya diary digital, itu berkat dorongan seorang teman. Menulis
tertatih-tatih dan beberapa kali mengikuti lomba menulis. Bukan untuk mencari
gelar atau berburu juara. Saya hanya ingin mengasah kemampuan saja. Lagian
kalau ikutan lomba seperti itu saya mau nggak mau harus menulis. Dikejar
deadline ternyata mendorong saya untuk berpikir keras membuat suatu tulisan.
Makanya nggak pernah menyangka
jika beberapa tulisan saya ternyata berhasil mencuri perhatian juri. Ini
beberapa tulisan yang pernah meraih juara (walaupun bukan juara utama, yang
terpenting saya juara menaklukkan keraguan dan ketakutan saya tentang dunia
menulis ini).
Saya menjadi salah satu
pemenang di lomba blog tentang PLN dalam rangka 68th Hari Listrik Nasional
#PLN_Bersih. Tulisannya bisa tengok di sini.
Setahun kemudian saya ikut lagi lomba blog masih tentang
PLN dalam rangka 69th Hari Listrik Nasional. Kali ini, walaupun saya tidak
menjadi pemenangnya tapi saya mendapat penghargaan langsung dari Humas PLN Area
Garut saat itu, Bapak Wahyudin yang menyampaikan langsung piagamnya. Tulisannya
ada di blog ini juga. Klik di sini ya...
Ada lagi beberapa perlombaan
nulis lainnya yang saya ikuti dan ada diantaranya yang berhasil menjadi
pemenangnya walaupun bukan juara utama. Seperti saat mengikuti lomba
menulis di FF-nya Sariayu Martha Tilaar dan lomba nulis arti cantik yang
digelar You C 1000.
Prestasi ini jadi penyemangat
saya untuk menulis. Tapi setahun terakhir kemarin semangat menulis drop banget.
Kehilangan moment buat menulis bahkan buat nengok lomba-lomba. Data
perlombaan hanya sekedar menuhin memori saja tanpa pernah diikuti. Makanya
ketika ada ODOP saya merasa tertantang. Semoga saja saya bisa berhasil
melaluinya. Karena pada dasarnya, walaupun tulisan saya beginih inih,,, tapi
saya bisa menulis... pede nih... hahaaa...
Saya lebih suka dikenal
sebagai ibu rumah tangga yang bekerja dari pada disebut wanita karier dengan 2
anak. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama
turis asing (cita-cita yang apa adanya). Culun. Sepertinya itu tak tepat
untukku, so... alhamdulillah Allah tak ijinkan itu.
Orang nggak bakal percaya
kalau saya bilang saya ini introvert. Bagaimana percaya kalau tiap hari
nyerocos berakrab ria dengan para pendengar di radio. Itu saat saya siaran.
Kalau ketemu langsung saya diem nggak ngomong-ngomong. Hahaaaa... itu dulu.
Sekarang lebih bisa menyesuaikan dirilah,,, sedikit. Heeee... Introvert yang
kecemplung di dunia broadcast.
Karena kerja di radio ini
orang nyangka saya pinter ngomong. Dikit-dikit diminta ngemci padahal jujur weh
saya teh malu da kalau di depan banyak orang mah. Beda
kalau di radio hanya di depan mic n perangkat siaran saja. Makanya
berasa ditodong saat diminta jadi pembicara di acara Sarasehan Forum
Pengurangan Risiko Bencana Garut. Ini pertama kali saya berada di depan podium.
Makanya saya ajukan juga rekan duet di siaran buat nemani dengan dalih kami
adalah satu paket, jika undang saya harus sama rekan saya juga. Strategi
biar ada yang nemenin grogi.... xixiii... akhirnya kami bisa lewati saat-saat
horor itu dengan baik walaupun kaki gemeteran dan jantung berdegup-degup.
Walaupun udah emak-emak
(emak-emak muda... hahaaaa...) tapi sempat ‘diseret’ teman ikut komunitas PMG
“Penulis Muda Garut”. Sempet juga nulis beberapa cerpen yang tadinya ingin
dibukukan tapi sampai sekarang belum dipublish. Nunggu waktu yang tepat
atau masih malu, entahlah.... barangkali nanti saya posting di blog ini saja.
Semangat berkarya!
Elsa Puspita (Icha)
Fb : Elsa Rugeri
Twitter : @elsa_rugerifm
IG : elsarugerifm
Email : elsa_rugerifm@gmail.com
#ODOP
#One DayOnePost
#Harike9
Jumat, 11 Maret 2016
On 15:18 by elsapuspita in Cerita Bunda 3 comments
Sudah
kenal adik saya, kan? Yups, adikku itu juga adalah teman sehobby. Suka bikin
handycraft. Dia sangat teliti, ide-idenya banyak. Dan kami berdua akhirnya join buat kerja bareng –
berawal dari ngisi waktu luang – dengan bikin macam-macam bros &
jepit. Akhirnya kami coba buat
memasarkan. Yaaaa siapa tahu dapat penghasilan tambahan dari ’kerja’ kami
ini. Makanya saat diajak ikut CFD sama
TDA Garut, bersambut banget.
Sampai
akhirnya kami berani ikut berpartisipasi
di acara Meet & Greet serta Nobar (Nonton Bareng) Film "Tausyiah Cinta" di Pendopo Garut. Ini
pertama kalinya kami mengikuti bazar. Dengan stok barang yang ada kami beranikan diri untuk
gabung dengan teman-teman lain, patungan buat sewa booth-nya . Kami, Teh Dina,
Bu ria (masih ingat kan teman saya yang di TDA Garut itu? Iya,,, yang suka ikut
di CFD juga) dan temennya Teh Dina (booth rame-rame).
![]() |
| Booth rame-ramenya sedia keperluan muslimah, makanan dan aneka bros & jepit Salsa |
Karena
acara nobar, otomatis dong para peserta
di dalam aula semuanya. Awal-awal adik sempet bilang sambil senyum sedikit kecut,
“gimana nih,,, buat bayar stand aja belum ada pemasukan.” Saya bilang, “Tenang... Laa haula”. Sejujurnya
sayapun agak sedikit khawatir, maklum namanya pertama pasti ada perasaan
gimanaaaa gitu...
Saat
istirahat sholat dzuhur, sebelum acara dimulai kembali, ada yang mampir ke stan
dan ada beberapa yang beli juga.
Alhamdulillah.
![]() |
| Kesempatan langka, kapan lagi mejeng di Photo Booth kayak gini ;) |
Saya ga
selamanya jaga booth, sih. Lebih ke sana kemari. Lebih banyak ikutan nonton &
jalin-jalin silaturahim. Banyak bertemu dengan teman-teman sih. Lebih lagi, ada
banyak guest star yang hmmmm... sayang kalau ga photo bareng 😁
Diakhir
acara saya mampir ke booth-nya DPU DT Garut, ngobrollah saya sama Kang Asjun.
Saya nggak tahu kalau pada saat yang sama juga sedang berjalan penggalangan
dana untuk muslim Suriah. Wah kalau saya nggak mampir ke booth ini, kesempatan
saya untuk membantu Muslim Suriah lewat deh. Bismillah, saya niat bareng-bareng
bantu saudara di Suriah lewat selembar uang kertas yang saya masukkan diantara
setumpuk uang yang sudah terkumpul. Bahkan saat itu saya juga ditawari untuk
membantu menghitung hasil penggalangan dana yang akan dilaporkan ke pusat.
Setelah selesai semuanya, saya pamit dan kembali ke booth kami.
Karena
cuaca nampak mulai redup, maka saya kasih kode ke adik buat beres-beres. Sambil
berkemas itulah sambil kami menghitung hasil penjualan hari itu. Adik bercerita
tadi ada ibu-ibu yang beli gelang-gelang Salsa. Nggak Cuma satu, tapi 3 pieces. Saya begitu
takjub,,, dengan hasil yang diperoleh hari itu. Alhamdulillah ya, Rab saya
nggak menyangka. Saya yakin ini bukan
hanya usaha kami tapi juga peran Allah yang menggerakkan semua ini.
Bagaimana
Allah menggerakkan saya untuk menjadi bagian dari kegiatan ini, membantu
teman-teman di DPU DT, berbagi lewat selembar uang kertas untuk saudara di
Suriah. Saya menjalani kegiatan yang sepertinya
biasa saja.
Tapi
saat perjalanan pulang ditengah hujan yang turun deras, saya tak
henti mengucap syukur. Saya ingat apa yang dikatakan Ustad Yusuf Mansyur “Tak
akan berkurang harta kita saat kita bersedekah. Allah jamin itu. Tak ada yang
jatuh miskin karena banyak bersedekah”.
Tak
seberapa saya memberi tapi Allah balas dengan begitu banyak. Uang yang terkumpul
dari hasil jualan dan 2 pack risoles dari Bu Ria. Itu tidak sedikit.
“Maka
Barangsiapa yang memberikan (hartanya di Jalan Allah) dan bertakwa dan
membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan
baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)”
QS. Al-Lail :5-7
#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike8
Langganan:
Komentar (Atom)
Search
Tamu Bunda
Popular Posts
-
Pernah ga saat mencuci lap penuh dengan minyak? Kalau bertemu lap seperti itu, wajar lah agak sedikit malas mencucinya. Dulu itu sering ...
-
Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. ...
-
Gaya bareng soulmate Hampir tiap pekan, anakku Helmi "janjian" sama sepupunya Syauqi buat nginep di rumahnya. Instruktur D...
-
pic. by : yagakgitujuga Mengenangmu sangat menyakitkan Tapi tak bisa kuhindari Saat aku kembali di tempat ini Aku tahu a...
-
Rabu Pagi, 29 Oktober 2014, kurang lebih jam 9-an, sedang On Air # NgoPi “Ngobrol Pagi ”, kantorku kedatangan tamu istimewa. Bapak...
Follower
Me Just
Seorang Ibu dengan 2 anak yang perlu banyak belajar. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing.Haaa...









