Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Selasa, 29 Maret 2016

On 14:55 by elsapuspita in ,    6 comments
pic. by vavai


"Tuh kan pas ada kesempatan, pas saya harus segera on air. Dari tadi memang di depan komputer. ngecek medsos, nyari-nyari bahan,, surfing kemana-mana, buka gmail n akhirnya inget kalau saya punya blog... setumpuk ide sudah meracau sejak beberapa bulan lalu tapi ya itu lahhhhh... saya keteter waktu euy... mo nulis, anak minta makan, ke dapur dulu dong. Giliran mo lanjutin nulis lihat setrika setumpuk,,, beres nyetrika mata dah ngantuk. Hadeuhhhh.... gini amat ya nasib ... 😩 "

Itu tulisan saya dulu yang tertinggal di draft. Sudah lama bersarang, tapi tak pernah berkembang. Ya... iyaaa lah nggak bakalan kalau bukan kita yang mengembangkannya dengan menambahkan tulisannya. Tulisan di atas tadi menggambarkan betapa sulitnya saya membagi waktu saat itu. Keinginan besar tapi kesempatan seolah tak pernah mampir. Selalu saja ada halangan yang membuat waktu menulis tak pernah terjadi. Betapa susahnya "mencuri-curi" waktu untuk menulis. Dan keadaan itu yang membuat saya merasa permisif sekali. Andai tak bisa membuat tulisan tak apalah, toh kamu cape, toh kamu punya pekerjaan di rumah yang wajib kamu kerjakan, toh kamu juga banyak kerjaan di kantor, belum lagi nemenin anak-anak belajar, nyiapin keperluan mereka, nyiapin makannya juga, dlsb, dlsb,,,, kamu juga harus punya waktu buat santai dong,,, Dan banyak alasan yang lainnya yang menjadi pembenaran saat saya tak menulis.

Belum lagi alasan mandek, nggak ada ide. Padahal ide kan bisa dimana saja ya? Bang Syaiha bilang, kejadian sehari-hari saja bisa jadi ide tulisan, koq. Memang bener, Bang. tapi ide-ide itu akan terkalahkan dengan kata malas. ya,,, malas. Ini barangkali yang sangat tepat untuk keadaan saya waktu itu (sekarang juga masih ada,,, tapi kadarnya mulai berkurang-kurang. heeee...). Saya malas menuliskan setiap ide yang mampir. Sepertinya memang butuh buku catatan atau notes agar setiap ide yang terlintas langsung bisa terekam lewat tulisan.

Pensil kalau ujungnya sudah terlalu bulat, bagi saya agak kurang enak buat digunakan. Tulisan terlihat bengkak-bengkak, menulispun jadi tak bersemangat. Ibarat kata perlu menajamkan pensil, tak ada serutannya, ditambah nggak ada usaha buat nyari cutter keq atau menggunakan pisau dapur saja... hihiii... jadinya yaaa,,, tumpul gitu deh. Nahhh,,, begitu juga dengan ide menulis, kalau nggak diasah pasti selalu ada alasan dan kata "nggak ada ide" atau "otak lagi tumpul" menjadi teman yang setia.

Tampaknya memang harus ada perubahan yang saya lakukan. Setidaknya dimulai dengan 3M :

1. Mempunyai niat. Ya... Niat menulis agar bisa berbagi. Berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan berbagi kebaikan karena Allah. Ini penting, agar setiap tulisan kita bernilai ibadah :)

2. Mempunyai jadwal untuk menulis. Sooo,,, Menjadwal ulang kegiatan dengan memasukan waktu menulis adalah yang penting. Ini yang saya dapat dari teman-teman di ODOP. Jika membiasakan diri dengan kata "nanti jika ada waktu" maka bersiap saja kita akan sukses tak menuliskan apa pun. Jadi selalu sediakan waktu untuk menulis ya,,, :)

3. Mempunyai buku catatan/notes menjadi wajib untuk menulis ketika tiba-tiba ide mengalir. Apalagi jika menggunakan fasilitas di henpon masih agak kesulitan atau kurang kekinian (seperti saya... hihiii...). Jadi,,, jangan biarkan "moment ide" melenggang begitu saja.

Sebulan di ODOP kemarin, tentunya membawa dampak yang baik (alhamdulillah). Okey, ini hanya mengingatkan diri saja, agar cepat melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang baik, bukan?


#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike22
#Tulisanke21

Jumat, 25 Maret 2016

On 10:10 by elsapuspita in    8 comments


Jumat berkah... Insyaallah rejeki melimpah :)
            Jumat,  Sabtu, Minggu akan jadi hari yang sangat sibuk buatku. Jauh-jauh hari kami (bersama adikku) sudah merencanakan untuk bergabung bersama dengan teman-teman lainnya mengisi bazar di acara Seminar Motivasi Setia Furkon di Pendopo Garut, untuk hari Jumat. Sabtu dan Minggu kami sudah harus ngisi booth di STTG.
            Setelah mengikuti bazar pertama di acara Nonton Bareng Film “Tausyiah Cinta”, kami merasa “ketagihan”. Ini merupakan media yang pas banget untuk memperkenalkan produk yang kami miliki.
            Ingat ketika ada pameran dalam rangka Hari Jadi Garut, kami coba buat nyari partner biar bisa gabung ngisi booth di sana. Tapi hingga pameran menjelang usai kami tak menemukan ‘rekan’ itu. Husnudzon saja. Barangkali belum saatnya, siapa tahu tahun depan jika dipanjangkan usia, kami bisa ikut bergabung di pameran seperti itu.  Dan akhirnya itu menjadi mimpi kami. Sampai ketika kami bertemu dengan panitia Nobar tadi. Itulah jawaban dari mimpi kami.
Sejauh ini kami tak pernah menyangka bisa mengikuti  bazar. Apalagi pekan ini kami akan mengikuti 2 acara dalam waktu yang berturut-turut. Ini artinya, kami juga harus siap dengan ketersediaan barang kami. Walaupun kami harus pontang-panting mempersiapkannya disela kesibukan yang seakan tak pernah bertemu letter S. Tapi, ini menyenangkan dan kami sangat menikmatinya
Ini merupakan salah satu kejadian/pengalaman yang mengesankan. Disaat Allah menjawab setiap mimpi dan doa umatNya dengan caraNya,  menyadarkan betapa nggak ada apa-apanya kita tanpa kekuatan dariNya. Kami yakin, rencana-rencanaNya selalu terukur dengan cermat. 
Ini Accessories Salsa "From the bottom of OUR heart with love" 😉
Jangan lupa mampir di booth kami ya,,,, :)


 #ODOP
#OneDayOnePost
#harike20
#Tulisanke15


#SalsaAccessories, #AccessoriesSalsa, #Souvenir #bros #anekabros #handmade #handycraft


Jumat, 18 Maret 2016

On 18:02 by elsapuspita in    3 comments

Jika disuruh untuk menjelaskan isi buku itu ibarat ditanya mimpi. Mimpi apa semalam? Saya hanya tahu itu mimpi yang menyenangkan atau menakutkan tanpa bisa menceritakan mimpi itu dengan detail. Tidak, saya tidak bisa menceritakan mimpi, termasuk mimpi yang menyenangkan sekalipun. Hanya garis besarnya saja. Misalnya, betapa senangnya saat dalam mimpi itu, saya disapa oleh walikota bandung dan istri. Beda dengan kakak atau adik atau orang lain yang bisa bercerita lancar tentang mimpi-mimpinya.
Begitu juga saat disuruh bercerita tentang buku apa yang saya baca. Beuuuhhh.... ini termasuk kelemahan saya, barangkali. Karena setiap setelah membaca buku, saya nggak bisa menjelaskan dengan detail tentang apa yang saya. Saya hanya bisa berkata “Buku yang bagus. Silakan baca.” Jika ditanya buku tentang apa? Maka saya akan jawab garis besarnya saja. Misalnya, “Tentang komunikasi (Jurnalistik/pemasaran/kehidupan hewan, dll), pokoknya keren deh. Coba kamu baca. Kalau sudah baca, nanti share ya...”
“lhoh!” lha iya, saya akan lebih ingat jika setelah membaca kemudian ada teman yang mengulasnya. Jangankan untuk buku-buku yang serius gitu, kumcer atau novel saja, setelah selesai bacanya, saya nggak bisa ingat. Sepertinya untuk hal ini, saya lebih ke tipe auditory.
Tapi, tunggu dulu. Nampaknya bukan hanya masalah buku saja. Setiap kali nonton film. Begitu keluar dari bioskop, lupa deh saya, tadi ceritanya gimana ya? Lupa semua nggak sih, tapi saya jarang bisa cerita dari a – z dengan lengkap. Pasti ada part-part yang hilang. Dan kalau saya cerita, pasti orang nggak ngerti. Heheeee... ceritanya lompat-lompat nggak karuan. Kalau diingetin, baru bilang, “o,,,iyaa, ya,,, itu setelah adegan yang ini ya?” Sadis banget ya,,,
Makanya saat memasuki tantangan minggu ketiga, saya bingung. Mo nulis apa? Jujur saja sudah cukup lama saya nggak lahap buku. Tapi kalau baca news letter, atau media online (bukan medsos ya...) saya termasuk rajin. Yaaa,,, itu karena memang keharusan sebagai host di program yang saya bawakan di radio. Tapi ya itu tadi,,, informasi yang saya dapat tidak bertahan lama di memory. Apa karena memory saya full ya??? 😁
Entah juga saya belum sempat search atau tanya-tanya, apakah yang saya alami ini suatu penyakit? Atau...???
Tapi karena harus menuliskan buku terbaik yang saya baca. Saya jadi mengingat-ngingat lagi. Ada 3 buku yang saya ingat judul dan covernya.

pic. by google

Pertama “Seni Berbicara, kepada Siapa Saja, Kapan Saja, Dimana Saja” - Larry King. Ini buku tentang seni berkomunikasi. Nggak banyak teori karena lebih cenderung berbicara tentang pengalaman si penulis. Tapi kita bisa dapat banyak ilmu luar biasa tentang cara berkomunikasi yang baik. Yang paling menarik bagi saya adalah bagian dimana dia bercerita saat pertama kalinya dia siaran di radio. Hampir mirip dengan apa yang saya alami saat awal-awal siaran. twewewww!!!
pic. by google
Kedua buku “Chicken Soup For The Couple’s Soul”. Buku yang berisi kisah-kisah yang menginspirasi tentang cinta dan kebersamaan. Kisah-kisah yang menyentuh dan beberapa diantaranya membuat air mata menetes tak terasa.
pic. by google
Ketiga buku “Chicken Soup For The Teenage Soul”. Buku yang berisi kisah-kisah tentang kehidupan, cinta dan pembelajaran. Buku yang menarik. Cerita-ceritanya menyentuh hati.
Yups. Itu 3 buku yang paling saya ingat diantara buku-buku yang lain. Tapi kalau disuruh ceritain apa yang ada didalamnya. Saya nyerah. Pokoknya isinya bagus, menarik dan inspiratif.
Wah,,, saya jadi kangen nih, pengen baca-baca lagi ni buku...  



#ODOP
#OneDayOnePost
#harike15
#Tulisanke13

(*Masih punya hutang 2 tulisan. Pisss! Heeee...)    

Kamis, 17 Maret 2016

On 18:42 by elsapuspita in    No comments


          



Saat duduk di bangku kelas 6, saya dan kakak dipercaya oleh wali kelas untuk tampil di acara perpisahan sekolah. Kami tak lihai, tapi buat mereka (Teman-teman & guru), kami ini istimewa karena bisa menari tarian tradisional. Kami sekolah di sekolah swasta, sekolah non Muslim, teman-teman kami dominan Chinese. Terlihat mereka sangat kagum dengan sesuatu yang berbau tradisional.  Kami bisa menari karena Mam’ memasukkan kami di Pondok Olah Seni Sari Kota Inten. Beberapa tarian kami kuasai, yaitu Tari Yapong, Tari Dewi dan Tari Pohaci.
Kami sempat tampil saat acara kunjungan sekolah satu yayasan dari Tasik. Jadwal menari kami sesuai dengan rundown yang kami terima adalah +- jam 6/7 malam (saya kurang yakin * lebih banyak ke lupa lagi. xixiii...) yang saya ingat penampilan kami di jadwal lebih dulu dari tarian yang akan dibawakan oleh tim tamu.  Namun karena acara molor dan tim tamu kegerahan dengan pakaian yang meriah dan dandanan yang super, serta ‘menghormati’ tamu (denger-denger guru kami, bilang begitu) maka penampilan kami mundur ke penghujung acara dengan beberapa gelintir penonton, diantaranya guru kami dan orang-orang yang kasihan karena kami tak ada yang nonton. (tragis ya... heheee... banget!). Setelah tim tamu tampil dengan modern dance-nya yang energik, para penonton berhamburan keluar, memilih berphoto ria dengan grup dance yang penampilannya seperti penari-penari Guruh Soekarno Putra yang di jamannya benar-benar menjerat mata.
Waktu itu, perasaan kami biasa-biasa saja. Hanya memang menari kami tak ‘bersemangat’. Bukan karena kami down, tapi lebih karena memang tari Dewi itu halus dan lembut, kesannya kalau dalam basa Sunda itu seperti leuleus meuyeu (lemes). Ditambah kami sudah terserang ngantuk. Bayangkan saja, dandan dan nunggu tampil dari jam 5 sore, ternyata naik panggung jam 9 malam. Sebagai anak yang masih imut waktu itu, jam segitu ya waktunya ketemu bantal, dong. Ya sudah, kita abaikan saja pengalaman yang kurang menyenangkan, sebenarnya. Kami dicuekin.
Barangkali karena teman dan guru kami sangat appreciate dengan kemampuan menari kami. Maka saat perpisahan itu kami didaulat untuk menari jaipongan. Padahal jujur saja, kami tak bisa menari jaipong. Hanya saja saat itu lagi booming tari jaipong Daun Pulus. Kami sudah jelaskan kalau kami tak bisa jaipongan. Kami hanya ikut-ikutan goyang saja. Tak pakai pakem atau aturan yang penting enak jatuhnya saja. Belum layak buat tayang di panggung.  Tapi guru kami tetep keukeuh kami harus jaipongan.
Karena request itulah, maka kami belajar nari jaipong dari Teh Atik, teman Mam’. Tapi belajar nari itu ga bisa sehari dua hari, lho. Kami belajar nari Dewi saja perlu waktu lama sampai akhirnya kami bisa mengikuti ujian kenaikan tingkat ke tari selanjutnya yaitu tari Pohaci. Ini kami harus belajar nari jaipong +- seminggu dua minggu. Jujur saja tidak semua gerakan dapat dikuasai. Sementara acara perpisahan semakin mendekat. Yaaa,,, akhirnya gerakan kami modif sesuai kemampuan kami saat itu. Poko’e joged! Ehhh salah poko’e kami harus tampil jaipongan. Begitulah kira-kira kasusnya. :D
Apakah kami bisa tampil menari Jaipong di acara perpisahan sekolah?
lanjutannya di episode berikutnya ya.... 😉😉😉

#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike11

Selasa, 15 Maret 2016

On 17:13 by elsapuspita in    3 comments

Akhirnya saya bisa duduk manis di angkot 02. Bagian depan pula. Sengaja. Saya (maaf) nggak ingin terganggu dengan penumpang lain. Hari ini saya merasa kelelahan, setelah sebelumnya saya ‘diajak’ berlama-lama ngetem di angkot 06. Okey,,, saya bisa rasakan panasnya siang ini sambil menikmati semilir angin dari jendela yang terbuka lebar.
      Di dekat pertigaan Bratayudha Sudirman segerombolan anak muda menyetop mobil yang saya tumpangi. Kemudian anak muda yang saya taksir umurnya belasan  tahun itu meminta uang, “Bah 2 rebu lah, rokok,”katanya sambil mengacungkan 2 jari tangannya. Pak sopir yang dipanggil Abah  itu memberikan uang. “Bah sing ridho nya. Didoakeun sing salamet dan bla bla bla,,,”
Ini bukan kali pertama saya mendapati anak-anak muda ini ‘memalak’ para sopir angkot. Waktu itu, di tempat yang sama ada anak muda yang menyodorkan permen satu biji dan si sopir diharuskan memberinya uang 2 rebu perak. Sambil menjalankan mobilnya si sopir menggerutu. Saya nggak tahu apa setiap angkot yang lewat ke sana harus ‘setor’ uang pada anak-anak itu tiap satu putaran atau pada putaran tertentu, misalnya. Sepertinya ini pungutan liar, toh beberapa kali pula saya dapati, walaupun mereka berikan uangnya tapi para sopir itu agak menggerutu.        
Sedari tadi pas saya duduk manis di depan, dekat pak sopir, baru saat itu saya memperhatikan pak sopir di sebelah saya. Melihat wajah dan perawakannya, ternyata dia orang tua dengan badan kecil, tinggi, rambut yang mulai memutih, gigi yang sudah tidak lengkap lagi, kulit tangan yang terlihat keriput. Pantaslah dia dipanggil abah. Saat itulah saya mulai beranikan untuk bertanya pada si abah. Berceritalah dia. Tiga tahun lagi usianya akan sampai di 60. Baru 2 tahun ia jalani sebagai sopir angkot. Sebelumnya dia pulang pergi bawa bis dari Singaparna – Jakarta. “hiji weh panyawat Abah mah, asma. Pami tos katirisan sok kambuh. Ieu teh salah sahijina kusabab sok ngarokok.” (satu saja penyakit Abah itu, Asma. Kalau kedinginan suka kambuh. Sakit ini salah satu sebabnya karena dulu Abah suka merokok). Begitu, Abah menceritakan dirinya. Karena itu pula 6 tahun lalu Abah mulai meninggalkan rokok. Untuk poin terakhir ini saya sangat senang sekali mendengarnya. Semoga Abah selalu diberi kesehatan.
Dengan 2 anak yang sudah menikah pantasnya Abah bisa beristirahat menikmati masa tuanya. Tapi itu tidak dilakukannya. Selama dia masih bisa berusaha dia tak ingin menyusahkan anak-anaknya.
Kontras sekali dengan anak-anak muda yang hanya menadahkan tangannya, meminta pada setiap sopir angkot yang lewat. Maafkan saya jika saya salah. Tapi melihat anak-anak muda itu hanya duduk-duduk diam di pinggir jalan kemudian memberhentikan angkot dan meminta uang untuk rokok berasa miris. Mereka tidak malu dengan gelar anak muda yang harusnya bisa berkarya lebih dari si Abah. Yang harusnya punya semangat untuk melakukan yang terbaik dalam hidup untuk keluarganya minimal untuk dirinya sendiri. Aahhh,,,, kemana rasa malu mereka?
Sebagai anak muda seharusnya bisa memanfaatkan peluang masa mudanya untuk maju dan berubah pada kebaikan. Bahwa peluang itu tidak akan kembali. Seperti pesan Rasulullah : manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, saat sehat sebelum sakit, masa lapang sebelum sempit, masa terang sebelum masa gelap.
Semoga kita juga anak-anak kita bisa menangkap setiap peluang untuk menuju pada perubahan yang lebih baik.


#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike10

     
        


Sabtu, 12 Maret 2016

On 11:59 by elsapuspita in    4 comments
pic. by sigambar

Perkenalkan, nama saya bukan “Kamu” atau “Hei” apalagi “Hei Kamu”.   Panggil saya Elsa atau Icha. Seorang pemalu yang tidak bisa apa-apa. Addduhhh,,, kata-kata apa ini? Memperdaya sekali.  Salah! Saya bisa menulis. Nah,,, ini kata memberdayakan.
Tulisan pertama di majalah kampus. Waktu itu saya diberi kepercayaan oleh Wiwi, Ketua Hima di Fakultas yang saya ada di dalamnya. Diberi waktu +- 3 hari buat bikin cerpen. Alhamdulillah berhasil. Judulnya “Batman Kasarung”. Luar biasa saya tercengang dengan hasilnya. Haiiii saya bisa menulis!
Walaupun terlambat, 2013 saya baru punya diary digital, itu berkat dorongan seorang teman. Menulis tertatih-tatih dan beberapa kali mengikuti lomba menulis. Bukan untuk mencari gelar atau berburu juara. Saya hanya ingin mengasah kemampuan saja. Lagian kalau ikutan lomba seperti itu saya mau nggak mau harus menulis. Dikejar deadline ternyata mendorong saya untuk berpikir keras membuat suatu tulisan.
Makanya nggak pernah menyangka jika beberapa tulisan saya ternyata berhasil mencuri perhatian juri. Ini beberapa tulisan yang pernah meraih juara (walaupun bukan juara utama, yang terpenting saya juara menaklukkan keraguan dan ketakutan saya tentang dunia menulis ini).
Saya menjadi salah satu pemenang di lomba blog tentang PLN dalam rangka 68th Hari Listrik Nasional #PLN_Bersih. Tulisannya bisa tengok di sini.
Setahun kemudian saya ikut lagi lomba blog masih tentang PLN dalam rangka 69th Hari Listrik Nasional. Kali ini, walaupun saya tidak menjadi pemenangnya tapi saya mendapat penghargaan langsung dari Humas PLN Area Garut saat itu, Bapak Wahyudin yang menyampaikan langsung piagamnya. Tulisannya ada di blog ini juga. Klik di sini ya... 
Ada lagi beberapa perlombaan nulis lainnya yang saya ikuti dan ada diantaranya yang berhasil menjadi pemenangnya walaupun bukan juara utama.  Seperti saat mengikuti lomba menulis di FF-nya Sariayu Martha Tilaar dan  lomba nulis arti cantik yang digelar You C 1000.
Prestasi ini jadi penyemangat saya untuk menulis. Tapi setahun terakhir kemarin semangat menulis drop banget. Kehilangan moment buat menulis bahkan buat nengok lomba-lomba. Data perlombaan hanya sekedar menuhin memori saja tanpa pernah diikuti. Makanya ketika ada ODOP saya merasa  tertantang. Semoga saja saya bisa berhasil melaluinya. Karena pada dasarnya, walaupun tulisan saya beginih inih,,, tapi saya bisa menulis... pede nih... hahaaa...
Saya lebih suka dikenal sebagai ibu rumah tangga yang bekerja dari pada disebut wanita karier dengan 2 anak. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing (cita-cita yang apa adanya). Culun. Sepertinya itu tak tepat untukku, so... alhamdulillah Allah tak ijinkan itu.
Orang nggak bakal percaya kalau saya bilang saya ini introvert. Bagaimana percaya kalau tiap hari nyerocos berakrab ria dengan para pendengar di radio. Itu saat saya siaran. Kalau ketemu langsung saya diem nggak ngomong-ngomong. Hahaaaa... itu dulu. Sekarang lebih bisa menyesuaikan dirilah,,, sedikit. Heeee... Introvert yang kecemplung di dunia broadcast.
Karena kerja di radio ini orang nyangka saya pinter ngomong. Dikit-dikit diminta ngemci padahal jujur weh saya teh malu da kalau di depan banyak orang mah. Beda kalau di radio hanya di depan mic n perangkat siaran saja. Makanya berasa ditodong saat diminta jadi pembicara di acara Sarasehan Forum Pengurangan Risiko Bencana Garut. Ini pertama kali saya berada di depan podium. Makanya saya ajukan juga rekan duet di siaran buat nemani dengan dalih kami adalah satu paket, jika undang saya harus sama rekan saya juga.  Strategi biar ada yang nemenin grogi.... xixiii... akhirnya kami bisa lewati saat-saat horor itu dengan baik walaupun kaki gemeteran dan jantung berdegup-degup.  
Walaupun udah emak-emak (emak-emak muda... hahaaaa...) tapi sempat ‘diseret’ teman ikut komunitas PMG “Penulis Muda Garut”. Sempet juga nulis beberapa cerpen yang tadinya ingin dibukukan tapi sampai sekarang belum dipublish. Nunggu waktu yang tepat atau masih malu, entahlah.... barangkali nanti saya posting di blog ini saja.
Semangat berkarya!


Elsa Puspita (Icha)
Fb : Elsa Rugeri
Twitter : @elsa_rugerifm
IG : elsarugerifm
Email : elsa_rugerifm@gmail.com

#ODOP
#One DayOnePost
#Harike9 

Jumat, 11 Maret 2016

On 15:18 by elsapuspita in    3 comments
Sudah kenal adik saya, kan? Yups, adikku itu juga adalah teman sehobby. Suka bikin handycraft. Dia sangat teliti, ide-idenya banyak. Dan kami  berdua akhirnya join buat kerja bareng – berawal dari ngisi waktu luang – dengan bikin macam-macam bros & jepit.  Akhirnya kami coba buat memasarkan. Yaaaa siapa tahu dapat penghasilan tambahan dari ’kerja’ kami ini.  Makanya saat diajak ikut CFD sama TDA Garut, bersambut banget.
Sampai akhirnya kami  berani ikut berpartisipasi di acara Meet & Greet serta Nobar (Nonton Bareng)  Film "Tausyiah Cinta" di Pendopo Garut. Ini pertama kalinya kami mengikuti bazar. Dengan stok  barang yang ada kami beranikan diri untuk gabung dengan teman-teman lain, patungan buat sewa booth-nya . Kami, Teh Dina, Bu ria (masih ingat kan teman saya yang di TDA Garut itu? Iya,,, yang suka ikut di CFD juga) dan temennya Teh Dina (booth rame-rame).
Booth rame-ramenya sedia keperluan muslimah, makanan dan aneka bros & jepit Salsa
Karena acara nobar,  otomatis dong para peserta di dalam aula semuanya. Awal-awal adik sempet bilang sambil senyum sedikit kecut, “gimana nih,,, buat bayar stand aja belum ada pemasukan.”  Saya bilang, “Tenang... Laa haula”. Sejujurnya sayapun agak sedikit khawatir, maklum namanya pertama pasti ada perasaan gimanaaaa gitu...
Saat istirahat sholat dzuhur, sebelum acara dimulai kembali, ada yang mampir ke stan dan ada beberapa  yang beli juga. Alhamdulillah.
Kesempatan langka, kapan lagi mejeng di Photo Booth kayak gini ;)
Saya ga selamanya jaga booth, sih. Lebih ke sana kemari. Lebih banyak ikutan nonton & jalin-jalin silaturahim. Banyak bertemu dengan teman-teman sih. Lebih lagi, ada banyak guest star yang hmmmm... sayang kalau ga photo bareng 😁
Diakhir acara saya mampir ke booth-nya DPU DT Garut, ngobrollah saya sama Kang Asjun. Saya nggak tahu kalau pada saat yang sama juga sedang berjalan penggalangan dana untuk muslim Suriah. Wah kalau saya nggak mampir ke booth ini, kesempatan saya untuk membantu Muslim Suriah lewat deh. Bismillah, saya niat bareng-bareng bantu saudara di Suriah lewat selembar uang kertas yang saya masukkan diantara setumpuk uang yang sudah terkumpul. Bahkan saat itu saya juga ditawari untuk membantu menghitung hasil penggalangan dana yang akan dilaporkan ke pusat. Setelah selesai semuanya, saya pamit dan kembali ke booth kami.
Karena cuaca nampak mulai redup, maka saya kasih kode ke adik buat beres-beres. Sambil berkemas itulah sambil kami menghitung hasil penjualan hari itu. Adik bercerita tadi ada ibu-ibu yang beli gelang-gelang Salsa.  Nggak Cuma satu, tapi 3 pieces. Saya begitu takjub,,, dengan hasil yang diperoleh hari itu. Alhamdulillah ya, Rab saya nggak menyangka. Saya  yakin ini bukan hanya usaha kami tapi juga peran Allah yang menggerakkan semua ini.
Bagaimana Allah menggerakkan saya untuk menjadi bagian dari kegiatan ini, membantu teman-teman di DPU DT, berbagi lewat selembar uang kertas untuk saudara di Suriah. Saya menjalani kegiatan yang sepertinya  biasa saja.
Tapi saat perjalanan  pulang  ditengah hujan yang turun deras, saya tak henti mengucap syukur. Saya ingat apa yang dikatakan Ustad Yusuf Mansyur “Tak akan berkurang harta kita saat kita bersedekah. Allah jamin itu. Tak ada yang jatuh miskin karena banyak bersedekah”.
Tak seberapa saya memberi tapi Allah balas dengan begitu banyak. Uang yang terkumpul dari hasil jualan dan 2 pack risoles dari Bu Ria. Itu tidak sedikit.


“Maka Barangsiapa yang memberikan (hartanya di Jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)”  
 QS. Al-Lail :5-7


#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike8