Senin, 23 Februari 2015
On 21:39 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
![]() |
| Ini dia buku yang masih hangat. Baru tiba di studio, langsung dilahap mata :) |
Menulis menjadi hal sangat sulit dilakukan
disela-sela kegiatanku. Membaca buku juga adalah hal yang sama. Diantara
setumpuk pekerjaan, termasuk jalan-jalan 😉, kesempatan untuk membaca atau
menulis menjadi moment yang berharga jika saya dapatkan. Apalagi saya juga
sebenarnya sangat sulit menumpahkan apa yang ada dalam pikiran dalam bentuk
tulisan. Jangankan tulisan formal untuk nulis kayak gini z selalu ‘risih’.
Rasanya selalu salah. Kata-kata yang kurang pas atau tanda baca yang tidak
tepat. Jika dibaca ulang kemudian bisa berubah dan akhirnya tulisan jadi aneh.
Kalau bisa menulis sampai akhirnya bisa diposting, itu saya suka takjub
sendiri. Luar biasa! Luar biasa Alloh menuntun saya untuk menekan huruf demi
huruf, merangkainya menjadi sebuah tulisan yang kemudian saya jadi takjub
sendiri. Alloh MahaKuasa, tak ada yang mustahil bagiNya, termasuk menggerakkan
tanganku yang lentik (yaelahhhh lentik... ).
Alhamdulillah... tahun 2015 ini saya sudah
membaca 2 buah buku yang isinya memotivasi saya buat bikin tulisan. Yang
pertama saya baca buku “Pertama” ini adalah kumpulan cerpen anak-anak Penulis
Muda Garut. Dan saya merasa luar biasa bisa membaca buku ini. Kan tadi saya
sudah bilang, saya sulit mendapat waktu untuk membaca buku. Nah buku ini
menjadi pendobrak ketika rasa penasaran muncul. Saya baca buku itu setelah
menerimanya langsung dari motor PMG, Gielang Gumilang. Perlu waktu dua hari
memang. Dan buku kedua yang saya baca adalah #Miss_Freaky. Yang ini saya perlu
waktu agak sedikit lama. Dua buku ini mendorong saya untuk mulai lagi menulis.
Saya juga jadi ngebayangin bisa bikin buku sendiri. Ini virus bagus amat ;)
virus menulis dan membaca.
Soal membaca ini saya mendapat ilmu yang
luar biasa dari guru ngaji. Jika sebenarnya kelemahan muslim kita itu salah
satunya adalah malas membaca. Membaca buku-buku sebagai bahan pengetahuan
merasa susah apalagi membaca Al-Quran. Al-Quran dengan Bahasa Arab, belum lagi
membacanya yang tak lancar membuat orang alergi. Selain itu kita harus memperhatikan
panjang pendeknya bacaan, belum lagi tajwid dan makhroj. Wahhhh sepertinya
lengkap sudah alasan kita makin enggan membacanya. Padahal lagi Al-Quran itu
sumber segala ilmu. Padahal lagi, seandainya kita kaji bahwa sebenarnya Alloh
meminta pertama kali kepada umat manusia adalah untuk membaca. Saat
diturunkan 5 ayat pertama dalam QS. Al-Alaq ayat 1 – 5 dimulai dengan
kata Iqro ! Bacalah!
Orang yang membaca Al-Quran dengan lancar
ia akan mendapat pahala, pun bagi orang yang membaca dengan terbata tak akan
hilang pahalanya. Dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra berkata, bahwa Rasululloh saw
bersabda : “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia
bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia
tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua
pahala.” (HR. Bukhari, Muslim)
Dari Ibnu Mas'ud ra. ia berkata: “Barangsiapa
membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan
sama dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud 'Alif, Laam, Miim' satu huruf,
melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR.
Ad-Darami & Tirmizi)
Maka sangat sayang sekali kalau kita punya
banyak waktu luang dan kita menyia-nyiakannya. Lebih celaka lagi jika kita tak
meluangkan waktu sesaat saja untuk menengok surat-surat cinta yang Allah
persembahkan untuk umat pilihanNya ini. Padahal dari Usman bin 'Affan ra. telah
berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik manusia di antara
kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR.
Bukhari)
Jadi, apakah sekarang kita masih mau menyia-nyiakan
saat-saat terindah membaca surat cintaNya untuk kita umat terpilih?
Rabu, 18 Februari 2015
On 15:53 by elsapuspita in Cerita Bunda 1 comment
![]() |
| Pic. by : dnaberita |
Sore
yang cerah. Pulang kerja sangat menyenangkan. Tahu nggak kenapa? Ya karena bisa
pulang lebih cepat walaupun lewat jam 4 sore juga 😁 dibilang lebih cepat
karena biasanya pulang lewat jam 5, maghrib atau bahkan jam 8 malam, tergantung
jemputan Maylope-lope.
Karena
pulang lumayan rada awal dari biasanya, sooooo terbayang dipikiran bisa melakukan
kesenangan. Misalnya, kencan dengan si hitam. Kebayang huruf-huruf yang wara
wiri di dalam kepalaku bisa berubah menjadi tulisan dengan cara menekan tuts si
hitam ini. Apalagi di rumah sangat mendukung sekali. Helmi nginep di rumahnya
Syauqi dan Maylope-lope masih sibuk dengan kerjaannya dipercetakkan. So,
bersama Salma saya mempunyai waktu yang cukup luang buat merealisasikan
cita-cita berkencan yang sudah lama terpendam ini. ;)
Dalam
bayangan bisa sesegera mungkin saya melaksanakan niat. Tapi ternyata sampai
rumah tugas emak-emak menanti uluran tanganku dengan heppinya. Piring-piring
yang kotor, baju-baju yang juga ingin kusentuh, jemuran yang harus diangkat,
lantai yang walaupun kelihatan bersih tetap juga harus dipel karena debu-debu
halus menganggu pemandangan. Walaupun agak kelelahan sepulang kerja,
tugas-tugas rumah ini harus dikerjakan dengan speed super. Dalam pikirku jika
cepat selesai ni pekerjaan berarti saya juga bisa dengan cepat menekan-nekan si
hitam.
Tapi
tampaknya saya harus menambah kesabaran karena ternyata semua pekerjaan rumah
tadi bisa diselesaikan hampir menjelang maghrib. Pikiran mulai bercabang,,,,,
antara tekan tuts si hitam untuk buat tulisan/cerita tapi jadi galau saat lihat
ada beberapa CD film yang belum sempat kutonton, ada juga buku-buku bacaan yang
menggelitik untuk kutelanjangi, juga baju-baju yang baru kuangkat dari jemuran
menantang untuk kusetrika. Hadddoooohhhh.... mana dulu ya yang harus didahulukan?
Mikir itu saja sampai akhirnya berkumandang adzan maghrib.
Berkencan
denganNYA membuat pikiran fresh dan semangatku bangkit lagi. Tapi waktu itu
sudah pukul 08pm. Salma sudah pulang dari mengaji di Masjid Komplek. Sediain
makan malam dilanjut makan bareng. Lepas nonton tayangan tv beberapa saat, Salma
masuk kamar tidur sambil membawa buku karya Gielang Gumilang #Mis_Freaky. Dia
baca lagi tuh buku yang ingin segera diselesaikannya sampai tertidur. Dan jam
10pm saya baru bisa buka si hitam. hmmmm.... gapapa lah... sambil nunggu Maylope-lope
pulang saya bisa ketik-ketik sesuatu.
Tuhhh
kan, pas udah didepan laptop, huruf-huruf yang tadi banyak desak-desakan di
kepala tiba-tiba nguap. Kelamaan kali ya jadi tuh huruf-huruf dah pada kabur.
Yaaaelllah.... sebenarnya saya mo nulis apa ya tadi???
Rabu, 11 Februari 2015
On 15:16 by elsapuspita in Cerita Bunda 1 comment
Bagaimana
perasaanmu saat naik mobil dengan pengemudi yang baru belajar nyetir???
Ohoooohoooo... deg-degan pastinya. Dan itu saya alami pas Mita bawa mobilnya ke
studio. Dengan alasan biar cepat lancar, maka dibawalah si mocin yang baru
beberapa minggu nangkring di depan rumahnya. Sementara, baru kemarin dia cerita
si mocin mundur di tanjakan karena dia belum terlalu menguasai medan. Karena
akan menemui klien, Mie Baso RC di Copong, akhirnya saya rela mendaratkan
tubuh dikursi depan si mocin. Saya sudah banyak berdoa dalam hati, tak
henti-henti, “Ya Alloh, selamatkan kami dalam perjalanan ini .” Sementara Mita
sudah menyalakan mobilnya, saya semakin lebat berdoa padaNya.😊
Hari
pertama kami lalui dengan aman. Karena kami mencari jalan tanpa tanjakan. 😁 biarin keliling-keliling asal ga nemu tanjakan, itu prinsip yang pertama. Tapi
itu tak berhasil dihari-hari berikutnya. Mau tak mau tanjakan ini harus
ditaklukkan. Dan saat moment itu di depan mata, maka saya akan duduk dengan
tegak dan berusaha untuk enjoy dan tenang, menatap jelas ke depan dan siap-siap
buka pintu jika mobil tiba-tiba mundur..... jhiaahhahaaa... ga sebegitunya juga
kaleee... saya hanya memastikan Mita bisa melakukannya dengan baik. Dia pasti
bisa koq! Dan saya percaya ini bukan suatu kebetulan jika saat-saat pertama
kami melalui tanjakan keadaan jalan lancar dan tenang. Ga macet. Ini memudahkan
kami melalui tanjakan tanpa kendala. Alhamdulillah... Alloh sudah setting
dengan sempurna untuk melatih kami. Melatih Mita dengan gas dan rem di tanjakan. Melatih saya agar
bisa tenang juga. 😁 luar biasa!
Suatu
hari, lepas kerja, tepatnya 15 September 2014, Mita memaksa mengantarku & anak-anak ke rumah.
alasannya, biar tambah lancar mengemudi. Iya juga sih, makin sering mengemudi
kan semakin terlatih ya....
Walau begitu, agak cekot-cekot juga menerima permintaannya. Bukannya apa-apa, jalan
menuju rumah sudah kebayang..... wuihhhh!!! nanjaknya itu..... sehingga kami
sepakat, nanti kami ga diantar sampai rumah, alias ga harus si mocin melalui
jalan nanjak menuju rumah. Pengemudi belum berani, penumpang juga sama.
Xixiiii... Ok, kalau begitu. Deal!
Saya
menikmati perjalanan, begitu juga anak-anak. Sampai ketika kami menemukan
tanjakan sekaligus belokan tajam di komplek. Haduhhhh.... anak-anak sampai
panik dan sedikit ketakutan. Mocin sempat mundur memang, sampai akhirnya Mita
menekan gas dalam-dalam sekaligus pedal koplingnya juga... akhirnya si mocin
kentut. Kata anakku, ada asapnya hitam. Xixixiiii... alhamdulillah jalan
komplek ga terlalu sibuk dengan kendaraan dan kami bisa lalui itu walau sempat
deg-degan.
Tanjakan
mini z anak-anak sudah empot-empotan, apalagi pas mocin sudah dekat tanjakan
menuju rumah. Halahhhhh, anak-anak langsung lompat keluar. Xixiiiii... anyway,
kami tiba di rumah dengan selamat. Yang jadi pertanyaan apakah Mita bisa lewati
tantangan melalui tanjakan menuju gerbang ke luar? Saya jadi ikut deg-degan...
“Ya Alloh, lancarkan perjalanannya.”
Besoknya,
dapat cerita kalau kemarin menurut Mita adalah petang yang paling gelap baginya.
Ternyata eh ternyata bukannya sudah
gelap, tapi selama perjalanan ternyata lampu luarnya ga dia nyalain. Hadeuhhhh ! 😁
Seminggu
kemudian, kejadian serupa terulang. Mita menawarkan diri untuk mengantar sampai
rumah. Saya juga anak-anak sepakat akan turun seperti minggu sebelumnya, di
jalan sebelum memasuki tanjakan menuju rumah.
Sampai
di komplek hampir menuju tanjakan rumah, ketika tiba-tiba Mita menancap gas
mengarungi tanjakan super duper. Anak-anak sudah teriak, tapi Mitmot tetap pede
injak gas sambil menenangkan anak-anak. Sementara saya selain sibuk menenangkan anak-anak juga berdoa deras dalam hati. “Tenang, Teh Mita pasti
bisa nyampai ke atas.” Yaahhh kurang lebih begitulah saya bilang ke anak-anak,
padahal dalam hati juga luar biasa cenat-cenut. MasyaAlloh, bakal sampe rumah
atau si mocin bakal mundur lagi??? Dan ternyata kami tiba di depan rumah dengan
selamat. Alhamdulillah.... salut! Mita, bisa! Dia bernafas lega sambil berkata,"Kalau ga dicoba ga bakal bisa-bisa, Teh!" Iya juga sih... sampai kapan menyimpan ketakutan mobil mundur di tanjakkan. Bagaimana kita tahu bisa melalui atau tidak jika tidak dijalani?
Malam
itu saya buatkan ‘trophy’ keberhasilan. Trophy untuk memperingati penaklukan
tanjakan Cijati. Dibuat dari kardus bekas susu bubuk. Diukur sedemikian rupa.
Ditulis dengan spidol warna-warni, langsung dilem setiap bagiannya. Besoknya,
saat siap-siap on air #NgoPi saya kasih tuh trophy.
"Tarrrranggg! selamat! Kamu sudah taklukkan ketakutanmu," seruku.
Coba bayangkan bagaimana reaksi c’ cantik Mita?
Selamat membayangkan.... 😉
"Tarrrranggg! selamat! Kamu sudah taklukkan ketakutanmu," seruku.
Coba bayangkan bagaimana reaksi c’ cantik Mita?
Selamat membayangkan.... 😉
Ingin lihat Trophynya??? Ini dia!!! Bentuknya dibuat seperti jam, menandakan waktu. Artinya
segala sesuatu butuh waktu/proses. Begitu juga jika ingin bisa mengendarai
mobil. Belajar nyetir ga bisa sekali dua kali tapi perlu terus dilatih
sampai akhirnya mahir.
![]() |
| foto design by. my lope-lope 😉 |
![]() |
| Sisi kiri ditulisi catatan tentang kisah "menaklukkan tanjakan I" |
![]() |
| Sisi kanan ditulisi catatan kisah penaklukkan tanjakan episode II |
![]() |
| Bagian bawahnya ditulisi juga,,,,, Ahhhayy... :D |
On 10:45 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
Siang sangat panas menyengat dan gak
lama kami tiba di studio, hujan turun. Langsung inget anak-anak. Pulang sekolah
kehujanan ga ya??? Ehhh.... ternyata mereka sudah nangkring di studio.
Alhamdulillah. Nunggu hujan reda sambil bolak-balik nelpon klien, sementara
anak-anak menikmati makan siangnya.
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika (BMKG), Januari-Februari memang dipastikan puncaknya musim penghujan. Jadi kalau turun hujan ya... gitu deh. Tadi saja pulang kerja, saya sama anak-anak kehujanan. Tapi gapapa... menyenangkan juga. Dan ternyata membawa saya buat nulis. Karena abis beres-beres, mandi, trus buka laptop,,,
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika (BMKG), Januari-Februari memang dipastikan puncaknya musim penghujan. Jadi kalau turun hujan ya... gitu deh. Tadi saja pulang kerja, saya sama anak-anak kehujanan. Tapi gapapa... menyenangkan juga. Dan ternyata membawa saya buat nulis. Karena abis beres-beres, mandi, trus buka laptop,,,
Buka-buka file photo ketemu photo-photo
yang menggambarkan kegiatan yang rata-rata anak-anak pasti suka. Ya, main air.
Lihat saja bagaimana mereka riang bermain air. Mandi sambil main air, main air di
sungai, atau main air hujan. Berlari kesana kemari tanpa alas kaki, bernyanyi,
berteriak senang tanpa beban. Apa yang ada dalam pikirannya adalah hal yang
menyenangkan. Bisa merasakan setiap tiktik hujan yang menyentuh kulitnya dengan
lembut dan bahkan keras, mereka tetap tertawa lepas.
![]() |
| Lihat anak-anak yang ceria bermain air. Byurrr.... (ini photo saya dapat dari bbnya maylope-lope) |
Ini waktu kami mampir di Panti Ummi
Naila - Jatinangor. Salma & Helmi ga nahan buat nyemplung ke kolam ikan.
Dikubek-kubek tuh air sampai ikan-ikan pada pusing 😁
![]() |

Main
air dilakukan juga sama teman-temannya saat akhir pekan. Di depan rumah,
ceritanya mau bantuin nyiram tanaman. Akhir-akhirnya semprot-semprotan.Ya
begini ini situasinya... basahhhhh kuyup. Apalagi kalau ponakan lagi pada
nginep, mandi pun bisa di luar bareng-bareng. Xixixiii 😁
![]() |
| Fahriiiii.... celanamu kemana darlingggg! |
![]() |
| nyemprot anak laki-laki biar sama basahnya. :D |
![]() |
| Salma & her fren, Cica |
![]() |
| Helmi & his fren, Iki |
![]() |
| Menikmati hujan dari balik kemudi |
Dulu, saat masih kecil, kalau hujan
turun, akan dengan senangnya saya dan juga kakakku (usia kami ga jauh, jadi
kami memang selalu bermain bersama) menanggalkan baju. Hanya dengan kaos dalam
dan celana dalam saja kami akan segera berlarian dengan teman-teman yang
lainnya. Membawa payung tapi tak kami kenakan. Malah payung tersebut kami
gunakan untuk menadah air hujan kemudian kami angkat bareng-bareng sehingga
mengguyur badan kami dan kami berteriak kegirangan. Berlari-lari di pabrik
penggilingan beras yang ada di samping rumah. Tempat yang luas membuat kami
leluasa berlari kesana-kemari, menyusuri setiap sudut pabrik. Hingga akhirnya
kami akan mandi di jamban pabrik bergantian. Menimba air dari sumur yang juga
berair hujan dan langsung menyiram ke tubuh-tubuh kecil kami. Dan saat kami
pulang dengan basah kuyup, kami akan kena marah Mam’ yang khawatir. Khawatir
kami sakit, khawatir kami terkena petir, khawatir kami kenapa-napa. Waktu itu
kami tak paham. Kami hanya senang main air dan hujan-hujanan.
Beberapa waktu kemudian kami mempunyai
kolam ikan di dekat ruang makan. Ada tamannya dan jembatan kecil yang
menghubungkan ruang makan dan taman kecil. Beberapa ikan berwarna merah,
orange, dan hitam menjadi mainan kami. Seingat saya, kami ga pernah sekalipun
turun ke sana untuk bermain dengan ikan-ikan lucu itu. Ga boleh sama Mam’. “Nanti
ikannya mati,” begitu Mam bilang. Lagian kami juga takut Apa (panggilan kami
sama Bapak) marah. Jadi, kami hanya menatap dan menjulurkan tangan untuk
menyapa ikan-ikan itu.
Tapi, saat turun hujan waktu itu
tampaknya kami sudah tak kuasa membendung hasrat bercengkrama bersama air hujan
di kolam ikan kami. Kami tanggalkan baju rok kami dan mulai bermain air. Saat
itu di rumah entah kenapa, sepi. Sehingga kami bebas bermain. Air bercipratan kemana-mana.
Dan kami berlarian senang sambil menakut-nakuti ikan... Wahhh ini permainan
yang luar biasa sangat-sangat menyenangkan, pikir kami waktu itu.
Sampai ketika kaka kesatu datang dan
menyuruh kami untuk segera beranjak dengan sedikit ancaman kami akan dilaporkan
kepada Mam’. Kami tak peduli, tetap bermain, karena kami merasa senang. Tak
mempan dengan jurus pertama, kaka kesatu mulai menakut-nakuti kami. “Cepat
mandi,,, nanti ada guludug,”ancamnya. Kami malah mengejeknya, karena kami ga
tahu guludug itu siapa? Dan bagaimana bentuknya kami belum pernah melihatnya. Yang
saya tahu sekarang, pastinya waktu itu kakak kesatu kesal sekali dengan tingkah
kami yang membuat rumah basah dan berantakan tak karuan. Karena dia yang akan
membereskan semuanya. Kami kan masih terlalu kecil untuk membereskan semua itu.
Xixixiii.... tapi waktu itu kami ga berpikir ke sana. Kami hanya merasa senang
bermain air. Sampai tiba-tiba DHHHARRRR!!! Suara keras itu membuat kami
ketakutan. Kami berlari dan bersembunyi di bawah meja makan, sementara kakak
kesatu tertawa menang. “Nahhhh Loh, rasain! Tah, guludug tah budak bangor,”
gitu katanya. 😂
Walaupun begitu, kami sempat turun lagi
ke kolam setelah memastikan ga ada suara guludug alias petir. Upppsss!!!
Ternyata kami salah! Guludug itu ada lagi dan kami menjadi ketakutan hingga
akhirnya kami dimandiin sama asisten rumah tangga kami waktu itu, Bi Engo. Kami
menggigil,,,, brrrrrr antara kedinginan dan ketakutan dengan guludug.
Xixixiiiii... dan beberapa hari kemudian kami bersin-bersin. Kena flu
rupanya...
Pernah juga saking besarnya hujan,
sampai-sampai terjadi banjir di daerah kami. Sungai Cimanuk yang hanya beberapa
meter dari rumah kami, meluap. Sangat besar. Barang-barang plastik dan ringan
terapung-apung. Bahkan, ada tiang listrik yang runtuh sehingga otomatis listrik
dipadamkan untuk menjaga keselamatan. Rumah kami pun tergenang air.
Saat itu saya merasa takut melihat air
yang luar biasa itu tapi juga merasa senang, bukan senang karena banjir. Tapi
karena banjir, saya bisa melihat banyak orang. Saya merasa nyaman, hangat dan
senang menikmati kebersamaan, melihat orang-orang yang bergotong-royong saling
membantu. Sementara orang-orang yang berpakaian satpam, yang berpakaian
coklat-coklat itu, yang berpakaian biru, dan masyarakat bahu membahu saling bantu dan mengamankan
lokasi, Mam’ menyediakan kopi yang banyak dan membuat makanan kecil. Yang saya
ingat, pada saat kejadian itu mereka semua bekerja sama tanpa mengenal lelah
dan tak pamrih, tak membedakan siapa yang menolong dan siapa yang ditolong. Semuanya
bersatu. Itu yang saya ingat dan itu saya suka.
Sayang waktu itu dokumentasi belum
semudah sekarang, yang kalau ada kejadian menarik atau bisa jadi berita bisa
langsung jepret atau di video lewat henpon. Jadi ga punya photo yang jadi
saksi. Lagian waktu itu kan saya masih kecil juga ya... heee. Saya hanya bisa bercerita
untuk mengenangnya. Itupun sambil mengingat dengan keras. Sebagian ada yang
terrekam memori dan sebagian hilang... Dunia anak itu indah dan menyenangkan.
Tak ada beban dan semua fine-fine aza.
diingat-ingat lagi, setelah itu kami ga
ngahajakeun hujan-hujanan. Apalagi kami mulai beranjak ABG. Heheee paling
huhujanan kalau pulang sekolah, pas ditengah jalan tiba-tiba turun hujan,
yaaa... huhujanan deh....😁
Itu, dulu. Sekarang, jika hujan turun,
saya tetep suka ngeri kalau dengar suara petir. Apalagi kalau angin juga sudah
ikut gabung. Wahhhh... deg-degannya itu... ampyuuunnnn. Saya sedih... ingat
saudara-saudara yang berada di wilayah yang rentan dengan bencana.
Tampaknya Garut memang harus selalu siap
dengan berbagai bencana yang kerap melanda saat musim penghujan. Siap-siap
dengan banjir, angin puting beliung, longsor atau pergerakan tanah. Terutama
Garut bagian selatan. Dari Dchannel - Selama 2014, tanah longsor, angin
kencang, dan banjir, mendominasi bencana yang terjadi di Kabupaten Garut. Hal
tersebut tertera pada data yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Kabupaten Garut.
Kabid
Kesiapsiagaan pada BPBD Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan seperti dikutip
dari Tribun Jabar, mengatakan bencana terparah terjadi di akhir 2014, yakni
longsor di 7 kecamatan di kawasan selatan Garut. Bencana tanah longsor ini
menyebabkan 141 rumah rusak berat, 108 rusak sedang, 117 rusak ringan, dan 455
terancam.
Dari
Inilahkoran.com dapat kabar, Minggu, 8 Februari di tengah guyuran hujan deras,
sekitar pukul 16.30 WIB, sebuah tebing berketinggian sekitar 12m dan panjang 9m
di Kp. Cipondok Ds. Lebakjaya Kec. Karangpawitan ambruk, dan nyaris
menimpa tiga rumah warga yang berada di bawahnya. Pada waktu hampir bersamaan,
banjir juga terjadi di wilayah Karangpawitan, tepatnya di Kampung Sutapura RT.
01 RW. 09 Ds. Suci akibat meluapnya kali Cigulampeng. Banjir tersebut
mengakibatkan belasan rumah warga, serta sebuah bangunan Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) terendam air berketinggian sekitar 70 centimeter. Menurut Ketua
Rukun Tetangga 01 RW 09 Dadang Juarna, banjir pada sore itu merupakan terparah
dari beberapa kali kejadian terakhir ini.
In syaa Allah,
saat hujan maka rahmat dan berkahNYA juga tercurah bersama turunnya hujan. Allah
berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan
dan Alloh membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari
celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia
kehendaki tiba-tiba mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada
mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas
rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh
itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Ar-Ruum : 48-50)
Maka
jangan lupa, ketika turun hujan itu cepatlah berdoa memohon pada Alloh, karena
salah satu doa yang diijabah itu adalah saat turun hujan. Dari Sahl bin Sa’d,
beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua
do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)
Doa
Ketika Turun Hujan “Alloohumma shoyyiban
naafi'an”, artinya : “Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa
manfaat.”
Aamiin.
Langganan:
Komentar (Atom)
Search
Tamu Bunda
Popular Posts
-
Pernah ga saat mencuci lap penuh dengan minyak? Kalau bertemu lap seperti itu, wajar lah agak sedikit malas mencucinya. Dulu itu sering ...
-
Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. ...
-
Gaya bareng soulmate Hampir tiap pekan, anakku Helmi "janjian" sama sepupunya Syauqi buat nginep di rumahnya. Instruktur D...
-
pic. by : yagakgitujuga Mengenangmu sangat menyakitkan Tapi tak bisa kuhindari Saat aku kembali di tempat ini Aku tahu a...
-
Rabu Pagi, 29 Oktober 2014, kurang lebih jam 9-an, sedang On Air # NgoPi “Ngobrol Pagi ”, kantorku kedatangan tamu istimewa. Bapak...
Follower
Me Just
Seorang Ibu dengan 2 anak yang perlu banyak belajar. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing.Haaa...












