Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Sabtu, 28 Desember 2013

On 17:21 by elsapuspita in    No comments


Sabtu, 21 Desember 2013
Biar belum dapet permit bawa motor sendiri...
minimal dalam foto bisa ngebonceng...
    Sebenarnya saya ingin segera pulang. Ga pulang ke rumah sih, karena memang beberapa hari ini saya juga anak-anak tengah menginap di rumah Mam’ di jalan Pasundan. Ceritanya liburan hemat PLUS. Plus hematnya, Plus deket sama sodara-sodara, plus hepinya.... soalnya jarang-jarang bisa ngumpul semua gini. Ada Kaka n the gank dari cianjur (T’ Ida’s Family), Ina’s Family dari Cijati, Eka’s family dari Sanding, juga Heni’s Family yang bentar lagi mo pindahan rumah ke Karisma Regency. Tuh kan kebayang serunya..... ngumpul semua-mua di rumah Mam’.

     Tapi karena tiba-tiba ada sms (disusul dengan telpon) dari manager akan ada tamu ke radio maka aku sedikit mengundur waktu pulang.  Tapi sedikit ada catatan (dengan sedikit merajuk 😊) jika sampai maghrib tamunya belum datang saya minta ijin bisa pulang duluan.  
     Adzan maghrib bergema tamunya belum datang juga. C’ cantik Mita sdh mondar-mandir melihatku masih ada di studio (dia memang suka begitu, takut aku tinggalkan. Hahaaaa.....). Mita menawarkan diri emmh pasnya menawarkan adiknya - yang juga sedang menemani di studio - untuk mengantarku pulang, soalnya Mita harus segera on air. Oke... saya akan segera going home.  Setelah sholat maghrib Jimmy mulai siap-siap.
     Saya memang menerima tawaran baik Mita. Nggak enak kan kalau dia khawatir memikirkan saya yang pulang sendiri, nanti malah dia ga konsen siaran gara-gara mikirin saya.... cieeee.... ke ge-eran.
Nah, setelah siap diboncengan, Jimmy tanya, “Teh kemana nih jalannya?”
“Ke Jalan Karacak.”
“Owhhh... jalan karacak itu yang mana ya?” tanyanya
“Ok kalau gitu nanti ditunjukin deh...”
Akhirnya Jimmy mengikuti arahanku ..... turn left... straight... turn right... turn left...
“Nah... ini Jl. Karacak Jim....”
“O iya... saya pernah ke sini cuma ga tahu nama jalannya...”
“Terussss lurus jim.... nahhh nanti ada pertigaan itu namanya Jl. Ciledug”
“O iya... bener saya juga sempet ke sini teh.... Cuma ga tahu nama jalannya
Di tengah jalan itu saya berseru : “Jimmy kamu tahu ga?
“Ya Teh?” tanyanya.
“Sekarang teteh yakin kamu tuh adiknya Mita”
Jimmy : ?????#@#?????
     Hihihiii... sorry ya Mit. Jadi kebawa-bawa. Tapi harusnya sih bangga ya kusebutkan namamu di blog-ku. Bisa jadi terkenal tuh. Xixiiii. Memang begitu ceritanya, Sist’. Setiap jalan tugas luar sama c’ cantik Mita ini, dia ga tahu nama jalan, setelah dilewati dan aku sebutin nama jalannya baru “o... iya o...iya.” pas dibilangin lagi harus lewat jalan tadi, dia suka nanya lagi jalannya kemana ya, Teh?  
#tepokjidat
Pas sampai di depan rumah Mam’,  jimmy berseru,,, “o iya..... kan Jimmy pernah ke sini, Teh.”
Yaaaa amploppp..... Jimmyyyy... Jimmyyyy...!
On 14:14 by elsapuspita in    No comments


Tak perlu menyuruh untuk melakukan sesuatu yang tak ku inginkan
Jika aku berubah itu karena Tuhan telah membuatnya demikian
Tak bisa kau paksakan sesuatu sampai kau membenci ketidakmampuanmu mengubahku

tiap orang mempunyai peran sesuai dengan pilihannya
Seperti aktor yang memilih perannya
Ia akan melakukan peran itu sebaik-baiknya agar cerita sesuai dengan skenario yang ditulis
Maka tiap orang akan memainkan peran itu sebagaimana pilihannya

Jadi jangan pernah paksa aku untuk memainkan peran yang kamu inginkan
Karena aku bukan kamu
Jangan memaksaku!
Jika sampai kau membenciku dan membuat peranku seolah kotor
Maka berhentilah membual
Karena Tuhan tidak diam
DIA mahakuasa yang memberiku peran ini
Jadi aku akan melakukannya dengan penuh rasa
Tidak dengan nafsu dan amarah

Kau tunjukkan begitu, itu sudah cukup bagiku
Menjawab peran apa yang kau ingin lakukan
Peranku tak mengganggumu
Jadi ada apa dengan dirimu?
Meramu kata membuat orang-orang membenciku
Tak mengapa, toh Tuhan tidaklah tidur
Aku bukanlah siapa-siapa yang bisa menghentikanmu

Aku tak salahkan pilihanmu, MAKA
Kau JUGA jangan salahkan pilihanku
Aku memilih ini dan menikmatinya.
Tuhan tunjukkan caraNYA
Karena dengan yang kau bilang “begini” hidupku selalu penuh warna
Tak perlu kucari warna-warni ini dari kotak pensilmu
Maka nikmatilah peranmu
Lukislah dengan warna-warna sesukamu yang menurutmu indah

Dengan caraNYA sendiri DIA sudah tunjukkan siapa dirimu
Pada saatnya nanti kau akan tahu
Tak ada salah dengan peran yang kita ambil
Kau hanya perlu berpikir lebih jernih
Mungkin perlu waktu agak sedikit lama
Karena sekarang kamu tengah berpikir bahwa aku tak pandai memilih peran
Dan peranmu adalah peran yang sangat BERARTI
Aku tak akan berusaha meyakinkan kamu
Tak perlu...
Itu pilihanmu

Mengapa pula kau pikir tak ada keberhasilan dengan pilihanku
Melakukan peranku di sini kau pikir sia-sia
Padahal berhasil bukan berarti mengkhianati peran kita
Atau berpura-pura berperan menjadi baik lalu mencakar
Bukan ... bukan itu
Keberhasilan itu jika kita mampu menjalani sebaik-baiknya peran yang sudah kita pilih
Kau tetap tangkis dengan kata sinis
Kenapa???
Jika kau yakin peranmu baik dan sangat baik
Kenapa tak kau hargai peran lain yang ikut mendukungmu?
Kenapa kau hanya berpikir dan yakin bahwa peranmu saja yang baik....
Kalau begitu bagaimana kamu menghargai peran orang lain
Peran yang dipilih orang yang menunggumu dengan gelisah
menghitung waktu bertemu denganmu

Kamis, 26 Desember 2013

On 12:52 by elsapuspita in    No comments

Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. Hari ini Sabtu, 21 desember 2013 raport akan dibagikan. Seperti tahun lalu, orang tua murid telah berjubel menanti guru wali kelas masuk kelas dan membagikan raportnya. Saya juga berada dalam kerumunan ibu-ibu yang riuh bercerita tentang anak-anaknya.
Saya jadi ingat, tahun lalu Mamah Noval bilang “Wahhh,,, jadi mamahnya Salma enak, ga perlu deg-degan. Anaknya pinter, pasti juara lagi.” Saya hanya tersenyum. Sebelum mengambil raport Salma yang sekarang duduk di bangku kelas IV, saya masuk ke kelas II dulu untuk mengambil raport anakku yang ke-2, Helmi. Ibu guru memberi pembukaan, selanjutnya membacakan 10 besar dengan nilai tertinggi. Dan Helmi ternyata masuk sepuluh besar itu (berada diurutan ke-8). Untuk raport PAI-nya dia masuk dalam sepuluh besar juga (urutan ke-7). Helmi senang sekali mendapat hadiah dari guru wali kelasnya, Ibu Eka. Alhamdulillah....
Helmi 'n Friends yang berhasil mendapat nilai tertinggi


"Bunda... Helmi dapat hadiah dari Bu Guru!"

Beberapa jam kemudian... Giliran pembagian raport anakku, Salma. Seusai memberikan prakata, Ibu Wida (wali kelas IVB) menyebutkan 10 nama dengan nilai tertinggi... giliran menyebutkan, “dan..... rangking ke satu adalah ....“ anak-anak serentak menyebut nama anakku. “SALMAaaaa....“ Begitu pun saat pembagian raport PAI saat guru mengatakan rankingsatu adalah.... anak-anak serentak menyebut nama anakku lagi. “SALMAaaaa....“ , Salma mendapat ranking kesatu. Alhamdulillah.....
Alhamdulillah,,, juara lagi.    
Sebelum pulang, photo dulu ah sama Bu Wida
Bagiku bukan masalah anak mendapat ranking atau tidak. Tapi bagaimana mereka belajar, mengerti dan memahami. Pelajaran anak SD sekarang kan minta ampun. Kadang saya kelimpungan juga kalau anak-anak bertanya saat mengerjakan PR-nya. pernah anak bertanya, contoh binatang amfibi? Apa arti binatang amfibi? Waduhhh pelajaran biologi itu dulu saya pelajari di bangku SMP. Soal matematika perkalian atau pembagian kalau ga salah dulu saya pelajari di bangku kelas 5 atau kelas 6 ya... yang membuat aku mlotot saat anak bertanya bagaimana menghitung centimeter ke dekameter, lalu hektometer dan kilometer hadeuhhhh ini pelajaran sd apa PELAJARAN SD.
Semoga kamu kuat, Nak!
Bunda bangga dengan kalian 



Senin, 23 Desember 2013

On 16:46 by elsapuspita in    No comments

pic. by :123mpat
Petir di siang hari, mana mungkin terjadi
Seperti itu juga pertanyaan dalam hati,,, banyak kata mana mungkin yang hadir
Tentang cerita-cerita yang sempat terlontar juga kebersamaan yang ingin kuingkari
Tapi ternyata tak bisa,
hal itu tetap ada

Tak kupungkiri kehadiranmu memberi arti,
Hingga kuterpaku saat kau akan pergi
Rasa sayang bercampur pengharapan
agar dapat bersama melalui apapun kenyataan di depan
Tapi aku bukan siapa-siapa
Yang dapat memberikan setiap apapun yang menjadi keinginanmu
Aku,,, tak bisa mengikuti cara dan langkahmu

Jangan! Jangan begitu
Aku bukanlah Tuhan tempat bergantung
Aku masih mengharap dariNYA juga,  jadi rasanya kau tak layak berharap banyak padaku
Dan kurasa kau kecewa padaku, ‘ku tak bisa jadi pengharapanmu

Kupikir dan berkhayal, mencoba mencari alasan yang tepat untuk kepergianmu
Tak bisa ..... tak bisa juga!
Kau tetap pergi  dan aku tak bisa menahanmu
Walau begitu, kau tetap ada dalam bingkai hidupku
Tak akan kuhapus karena kutakkan mampu
Kutak punya penghapus yang dapat menghilangkan ingatanku tentangmu
Kecerianmu, kekonyolanmu, bahkan lakumu yang mengesalkan semua terekam jelas
Aku makin sakit mengingatmu
Saat semua terbuka, dan sangat nyata kau lebih memilihnya daripada aku
Tak mengapa, barangkali dia memang lebih menarik untukmu melakukan petualangan
Aku terluka... aku terluka
Harusnya ku sadari itu sejak awal
Agar tak kurasakan torehan luka yang dalam
Merasa tersentak, kaget dengan semua yang terjadi menimpaku
Rasanya tak adil kau perlakukan aku layaknya kau tak mengenalku
Padahal kau bilang aku sangat spesial untukmu
Setiap titik pernah kau tulis dalam lembar kenang kita
Dan kini kau menyangkal,,,
Mengingkari kebersamaan yang kau bilang sangat berarti

Tidak! Kau penuh dengan dusta
Tidakkah kau sadari itu menyakitkanku... sangat
Jika sore ini turun hujan sementara mentari bersinar terang
Itu tanda langit pun turut berduka karenamu

Kau tetap berusaha meyakinkanku agar aku percaya
Tahukah kau?
Kepercayaan itu ibarat kertas
Sekali kita remas ia takkan kembali sempurna
Tampaknya juga begitu denganku
Maaf...
Jangan lagi kau lakukan itu,
Kau akan lelah menutupi semua bohongmu

Hujan mulai reda,
Sementara hatiku berdarah mengingatmu dalam kenang yang mulai buram

Mengenang hujan sore itu
Mengenang luka yang kau toreh, seperti kertas yang telah kau remas

pic. by : umamismind