Selasa, 30 September 2014
On 10:30 by elsapuspita in Bunda's Poetry No comments
Tak kuucapkan selamat padamu hari itu....
Karena aku ,,,
menghitung waktu...
mengetahui dan menyadari
Allah begitu sayangnya sama kita
sehingga kita masih diberi kesempatan hari ini
saat sisa usia ditapaki kembali
Tak kuucapkan selamat padamu hari itu....
Bukan tertinggal atau terlupakan,
Hanya menyadari bahwa setiap kata yang tak terucap
selalu bisa dipahami olehmu, Manis...😊
Semoga selalu sisa usiamu penuh dengan berkahNYA
tidak hanya pada hari itu saja
tapi hari-hari selanjutnya dimana kita kan selalu bersama
merangkai kata indah tentang persahabatan dan persaudaraan
selamat menapaki sisa-usia yang diberikanNYA
penuhi dengan semangat kebaikan
berkah dan kasih sayangNYA insyaAllah tercurah untukmu. amiin
(Untuk Saudaraku, Sahabatku Mita Rugeri Permata)
Karena aku ,,,
menghitung waktu...
mengetahui dan menyadari
Allah begitu sayangnya sama kita
sehingga kita masih diberi kesempatan hari ini
saat sisa usia ditapaki kembali
Tak kuucapkan selamat padamu hari itu....
Bukan tertinggal atau terlupakan,
Hanya menyadari bahwa setiap kata yang tak terucap
selalu bisa dipahami olehmu, Manis...😊
tidak hanya pada hari itu saja
tapi hari-hari selanjutnya dimana kita kan selalu bersama
merangkai kata indah tentang persahabatan dan persaudaraan
selamat menapaki sisa-usia yang diberikanNYA
penuhi dengan semangat kebaikan
berkah dan kasih sayangNYA insyaAllah tercurah untukmu. amiin
(Untuk Saudaraku, Sahabatku Mita Rugeri Permata)
Senin, 15 September 2014
On 09:19 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
#Cerita ini sebenarnya sudah lama ditulis. Pengennya tayang pas tahun
ajaran baru (Juli kemarin). Karena sempat 'hilang' dari file, jadinya
posting sekarang nih... Gpp ya... Alhamdulillah, akhirnya bisa bercerita lagi. Selamat membaca... 😊
Dari usia 4 bulan anakku selalu dibawa ke tempat kerja. Selain karena ingin memberi ASI juga karena saya nggak punya baby sitter juga sih. Jadi nggak heran kalau pagi-pagi anakku juga sudah harum dan terlihat kece😉 Di kantor c baby sepertinya sudah paham kalau bundanya lagi kerja, jadi jarang rewel-rewel gimanaaa... gitu. Waktunya mimi ya dimimiin waktunya bobo, saya bisa ngerjain aneka macam kerjaan yang harus diselesaikan. Begitulah setiap hari sampai anakku kumasukkan ke RA yang berada tepat dibelakang kantor.
Dari usia 4 bulan anakku selalu dibawa ke tempat kerja. Selain karena ingin memberi ASI juga karena saya nggak punya baby sitter juga sih. Jadi nggak heran kalau pagi-pagi anakku juga sudah harum dan terlihat kece😉 Di kantor c baby sepertinya sudah paham kalau bundanya lagi kerja, jadi jarang rewel-rewel gimanaaa... gitu. Waktunya mimi ya dimimiin waktunya bobo, saya bisa ngerjain aneka macam kerjaan yang harus diselesaikan. Begitulah setiap hari sampai anakku kumasukkan ke RA yang berada tepat dibelakang kantor.
Pertama masuk kelas, anakku tak mau ditinggal.
Saya susah payah membujuknya agar berani belajar sendiri tanpa ditemani
bundanya. Jadi dengan sembunyi-sembunyi
saya keluar pelan-pelan saat anak sedang belajar. Waktu itu kebetulan
‘Uu’nya juga salah satu guru di RA. Jadi proses ‘pelepasan’ anak pertamaku ke
dunia luar untuk pertama kalinya berjalan lancar, walaupun memang anakku
memerlukan waktu yang agak sedikit lama untuk beradaptasi dengan teman-temannya.
![]() |
| Ini T' Salma saat pertama masuk RA Persis. Imut-imut ya... (Berpose bareng teman sekelasnya yang juga sepupunya, Syauqi) |
Lain lagi dengan anakku yang ke-2. Sekolah
pertama kali memang diantar. Saya memperhatikan dibalik jendela. Bukannya
anakku yang tak mau ditinggalkan, tapi aku yang agak sedikit ga karuan harus
meninggalkan anakku ini. Maklum, anak keduaku ini, anak yang super lincah.
Bergerak kesana-kemari. Loncat-loncat, lari-lari. Hadeuhhh... tapi saya harus
bisa untuk meninggalkan dan membiarkan dia belajar mengenal lingkungan barunya.
Jadi, saya mulai tinggalkan dia. Dia sempat melihatku dan sepertinya mau
menangis tapi bu guru mengalihkan perhatiannya. Hingga akhirnya dia lebih cepat
bisa ‘menguasai’ dirinya, dan bisa ditinggal di sekolah tanpa harus saya
tunggui. Alhamdulillah...
| Lihat! Aa Helmi semangat sekali, sudah siap berangkat ke sekolah |
![]() |
| Sebelum berangkat sekolah boleh dong Teteh & Aa di Photo dulu. (Ini photo saat T' Salma sudah masuk SD, sementara Aa Helmi di RA Persis kelas B) |
Tahun ajaran baru, ketika Salma memasuki
tingkat Sekolah Dasar. Pertama kali terlihat raut mukanya yang nampak takut.
Memperhatikan orang-orang (yang tak lain calon teman-temannya di SD, juga
banyak orang tua murid yang juga mengantar anaknya yang baru masuk SD). Kelas 1
memang tepat berada di depan lapang upacara. Seperti ketika masuk RA, dia
memegang tanganku erat. Andai Bapak pembina Upacara tidak mengatakan, “Silahkan
ibu-ibunya, bapak-bapaknya tunggu di luar lapang, biarkan anaknya ikut
upacara”, pasti anakku tak mau melepaskan pegangan tangannya. Saya lepaskan
pegangan tangannya. Matanya berkaca-kaca dan mukanya cemberut. Saya perhatikan
dia dari jauh. Sepanjang upacara kulihat anakku hanya melihatku dan ketika saya
berpindah tempat. Matanya menyusuri semua ibu-ibu yang ada di sana, sampai
akhirnya dia berhasil menemukanku diantara ibu-2 tadi. Sepanjang upacara dia
tidak memperhatikan jalannya upacara. Sepertinya dia lebih konsentrasi agar
saya tak hilang dari pandangannya. Itu anakku yang pertama.
Bagaimana dengan Helmi saat memasuki
Sekolah Dasarnya? Kami, saya dan suami sempat berbincang karena anak kedua ini
sangat super lincah dan supel jadi kami berpendapat jika dia akan lebih bisa
dengan cepat beradaptasi dengan kelas barunya. Saat diperjalanan menuju sekolah
dia sangat ceria dan bersemangat. Nampak dia sangat ingin segera tiba di
sekolah barunya dengan cepat. Malamnya saja dia begitu gelisah dan selalu
bilang ingin cepat ke sekolah barunya. Sampai bangun tidur pun dia sangat
cepat. Cepat mandi, cepat berseragam, juga cepat menghabiskan sarapannya. Tidak
seperti biasanya.
Hari pertama di tahun ajaran baru, suami juga
ikut mengantarnya ke sekolah baru. Saat itu dia mulai memperhatikan orang-orang
disekitarnya. Kemudian saya memberikan tas kepadanya dan menyuruhnya menyimpan
tasnya di bangku depan. Anakku terlihat ragu. Saya masuki kelasnya kemudian
memberitahukan jika dia nanti akan duduk dibangku tersebut dengan temannnya
yang baru. Heiiii... mengapa dia jadi tak seperti biasanya? Wajahnya tegang,
kulit mukanya juga berubah pucat. Apalagi saat bel berbunyi, anak-anak
berkumpul di lapang untuk upacara. Sementara anakku berkata jika dia tidak mau
sekolah. Akhirnya saya menemaninya untuk berbaris. Sementara suamiku
menguatkannya dengan memegang tangannya dan menghiburnya.
Seperti 2 tahun lalu saat saya mengantar anak
pertama, bapak pembina Upacara mengatakan, “Silahkan ibu-ibunya, bapak-bapaknya
tunggu di luar lapang, biarkan anaknya ikut upacara.” Saya menepi begitu juga
suami. Kami memperhatikannya dari jauh. Anakku terlihat gelisah dan tampak
seperti akan menangis. Dia menunduk, beberapa saat dia memperhatikan
sekelilingnya. Kemudian dia mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya. seterusnya dia
sudah mulai tampak relax, memainkan kakinya dan terlihat berbincang dengan
temannya :) alhamdulillah....
Mengenal lingkungan baru memang akan terasa
begitu menyeramkan/menakutkan bagi anak-anak. Jangankan anak kecil, kita juga
saat pertama masuk kuliah, atau saat wawancara kerja, masuk tempat kerja baru
atau saat akan bertemu dengan klien baru, akan begitu sangat berusaha keras
untuk menekan ketakutan itu. Rasa cemas, gelisah, takut salah, grogi, semangat,
juga takut, bercampur baur jadi satu. Apatah anak kecil. Yang dirasakannya
tentu lebih takut, karena dia merasa kecil di dunia ini.
Dulu, saat saya dan kakak masuk sekolah TK.
Mam’ (almh.-InsyaAlloh beliau berada di tempat terindah disisiNYA) selalu
menunggui kami hingga beberapa waktu. Saat istirahat kami akan bermain sambil
merasakan suapan makan siang dari bekal yang dibawa Mam dari rumah. Saya sangat
bersyukur, dengan saya sekarang --- yang tidak bisa seperti Mam’ yang selalu
menemani anaknya --- anak-anak bisa menjalani proses yang baik saat bergabung
di dunia baru mereka.
Mereka anak-anak yang luar biasa. Di sekolah, mereka juga bisa
mencapai prestasi yang juga sangat membanggakan kami sebagai orang tua.
Terima kasih, Nak. Kalian memang istimewa.
We love you... 😙😙
Langganan:
Komentar (Atom)
Search
Tamu Bunda
Popular Posts
-
Pernah ga saat mencuci lap penuh dengan minyak? Kalau bertemu lap seperti itu, wajar lah agak sedikit malas mencucinya. Dulu itu sering ...
-
Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. ...
-
Gaya bareng soulmate Hampir tiap pekan, anakku Helmi "janjian" sama sepupunya Syauqi buat nginep di rumahnya. Instruktur D...
-
pic. by : yagakgitujuga Mengenangmu sangat menyakitkan Tapi tak bisa kuhindari Saat aku kembali di tempat ini Aku tahu a...
-
Rabu Pagi, 29 Oktober 2014, kurang lebih jam 9-an, sedang On Air # NgoPi “Ngobrol Pagi ”, kantorku kedatangan tamu istimewa. Bapak...
Follower
Me Just
Seorang Ibu dengan 2 anak yang perlu banyak belajar. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing.Haaa...

