Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Jumat, 27 September 2013

On 17:35 by elsapuspita in    No comments

pic by : forumpba
Sudah lama saya tidak menulis. Padahal waktu sekolah biasanya suka tulas tulis di diary. Biasaaaa.... anak muda, curhat lah... heee. atau kadang bikin-bikin puisi gitu. Sewaktu kecil saya pernah mengirim puisi kesebuah harian terkenal di Jawa Barat dan alhamdulillah... ternyata dimuat juga di kolom Percil. Saat kuliah tulisanku berupa cerpen berhasil muncul di buletin fakultasku. Sayang gak ada arsipnya ya... (dulu belum jaman flash disk ya...) buletinnya juga entah dimana kini. Padahal saya sempet simpen tuh dalam kardus yang berisi bundelan tabloid kesayanganku.... tapi sekarang malah ga inget dimana nyimpen kardusnya :D Yang saya ingat sekarang hanya judulnya saja "Batman Kasarung" yang bercerita tentang masa orientasi mahasiswa baru. 
       Lepas kuliah, coba-coba bikin cerpen dan mengirimkannya ke redaksi sebuah majalah anak muda. Lama tak ada kabar. Saya sampai lupa pernah ngirim cerpen andai saja tak ada surat itu..... Cerpen yang kukirim kembali lagi dengan banyak catatan dari redaksi majalah tersebut. Setelah itu kegiatan tulis menulisku mulai jarang. Bahkan hanya sekedar menulis dibuku harian yang biasanya tiap hari saya curcor..... hanya saya tulisi jika ada sesuatu hal yang tak biasa, hal-hal yang "sesuatu" banget gitu. Jika tak ada yang menarik apalagi kalau badmood.... no comment... no writing. Sepertinya saya "patah hati" dengan dunia menulis ini.. Apalagi setelah punya junior-juniorku yang luar biasa, kebiasaan menulis bener-bener ga dijamah.
       Nahhhh........... sekarang saya mulai membiasakan diri menulis lagi. Selain "dibujuk" oleh new comer di tempat kerjaku, aku jadi ingin mengekspresikan diri lewat tulisan, ingin berbagi juga (nampaknya pengen eksis... :) ), juga ingin meyakinkan diri bahwa saya bisa menulis 😊
      Dalam hal menulis kelihatannya saya seperti bayi yang sedang belajar melangkah. Ya.... karena tak terbiasa, kaku sekali rasanya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku. Hadeuhhhh.... 
Tapi tak boleh menyerah dong! hingga akhirnya tulisan pertamaku jadilah.... just like writing in my diary. But it's so hard for me.... menurutku itu sangat sulit. Banget! 3-5 kali bahkan lebih, koreksian melulu... rasanya kalimat ini salah-lalu dicoret.... bukan ini yang kumaksud - lalu didelete.... padahal tulisannya pendek sekali....😊
       At last.... saya beranikan diri untuk go public dengan tulisan pertamaku. Muncullah di blog-ku dengan judul "Praktis Buat Sarapan". 
       Barangkali (atau memang bener sekali) tulisanku jauh dari sempurna. But I'm so surprise! I can write it. So....

Kata Bunda : Yakinlah bahwa kamu bisa maka Insyaalloh kamu bisa. Kalau kata Kang Ahmad Heryawan yang Gubernur Jabar itu loh.... "Sabisa-bisa kudu bisa Insyaalloh pasti bisa"



Kamis, 26 September 2013

On 12:15 by elsapuspita in    No comments

pic. by : depositphotos.com
  Setelah penampilan pertamaku membaca puisi 21 April lalu, timbul banyak pertanyaan dikepalaku : mengapa..... mengapa..... mengapa..... ?
Diseluruh Indonesia tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Katanya berkat Kartini maka lahirlah emansipasi wanita. Kesetaraan gender. Saya nggak mengerti mengapa orang-orang kemudian begitu memuja Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita. Hanya karena Kartini bisa berbahasa Belanda, dan menulis surat kepada teman-teman korespondesi yang berasal dari Belanda sehingga timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi. Dari situ kemudian orang berpikir bahwa dia begitu pintar, beberapa langkah lebih maju daripada apa yang dipikirkan wanita-wanita lainnya saat itu.
Kenapa tidak dengan Cut Nyak Dien? Padahal Cut Nyak Dien melakukan sesuatu yang nyata pada masa penjajahan yaitu berani menggangkat senjata melawan penjajah,  memimpin perlawanan terhadap Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukannya. Bukan hanya mengangkat senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita agar ikut membantu kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi kaum wanita yang ikut berjuang. Tapi tak ada Hari Cut Nyak Dien
Kenapa tak ada juga Hari Dewi Sartika yang juga jelas berjuang mendirikan sekolah untuk kemajuan kaum perempuan, atau kenapa juga tak ada Hari Martha Christina Tiahahu yang dikenal sebagai gadis pemberani. Diusianya yang baru 17 tahun waktu itu mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dalam perang Patimura. Yaaa... banyak tanya di kepalaku kenapa ya hanya RA. Kartini yang diperingati sebegitu rupa, seolah-olah kalau tanpa Kartini maka perempuan Indonesia tak bisa maju.
Maaf! Bukan saya tak menghormati Kartini, hanya bertanya saja karena tiba-tiba muncul dipikiranku “Kenapa ya seperti itu?” Kenapa yang ada hanya hari kartini yang kemudian tanggal lahirnya diperingati setiap tahunnya di Indonesia, bahkan dijadikan tonggak dimana wanita meminta untuk disejajarkan dengan kaum pria.
Padahal dalam Islam sudah sangat jelas bagaimana kedudukan dan peran wanita begitu sangat istimewa. Wanita tidak berada di bawah laki-laki untuk diinjak, tidak di atas untuk menginjak, tidak berada dibelakang untuk ditinggalkan, tidak berada di depan untuk memimpin, tapi berada di samping sebagai pendamping.  
Bagaimana tidak luar biasa kedudukan wanita ketika dikatakan bahwa wanita/ibu sebagai madrasah bagi anak-anaknya, bahkan ada pepatah yang menyatakan bahwa syurga berada di bawah telapak kaki ibu. Dalam Islam pria atau wanita sama-sama mempunyai ladang jihad. Ketika kaum bapak dikatakan jihad ketika mencari nafkah, maka pada saat ibu mengasuh anak-2 dan mengerjakan pekerjaan di rumah adalah juga merupakan jihad.
Jika kesetaraan gender yang digembar-gemborkan karena wanita ingin eksistensinya diakui, menuntut agar wanita bisa bekerja agar dapat mengaktualisasikan dirinya, kenapa tak ingat bahwa istri Nabi saw, Siti Khodijah ra. juga berkiprah sebagai pengusaha yang kaya dan handal yang dengan usahanya itu mendukung Nabi saw dalam menyebarkan agama Islam. Tak ada larangan wanita untuk berkarya. Luar biasa !!!
Lalu kenapa wanita ingin menuntut kesetaraan gender hanya karena hari Kartini yang selalu diperingati Bangsa Indonesia setiap tgl 21 April?  Padahal Islam memberikan tuntunan yang sangat jelas. Memberikan penghargaan yang tinggi pada wanita. Mengangkat harkat dan martabat wanita.
          Saya pikir tanpa ada hari Kartini pun wanita Indonesia bukanlah wanita yang lemah. Tanpa ada hari Kartini pun wanita Indonesia akan diakui eksistensinya. Wanita yang bisa berkarya. Wanita yang akan memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan. Ada pepatah mengatakan carilah ilmu sampai ke liang lahat. Nabi saw pun pernah bersabda "Barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Alloh mudahkan baginya jalan masuk surga. Para malaikat itu membentangkan sayapnya untuk orang yang mencari ilmu karena ridho dengan apa yang ia cari. Sesungguhnya orang 'alim itu dimintakan ampunan oleh penduduk langit dan bumi, hingga ikan yang ada di dalam air." - HR. Abu Dawud, Ibn Majah, Ibn Hibban
Jadi.... Ayooo wahai wanita tambahlah ilmumu! Berkaryalah! Apapun pekerjaanmu berkaryalah dengan baik dan ingatlah! menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang hina tapi lebih utama.  

Kata Bunda :
Ketika ada yang bertanya padamu, sementara kamu bukanlah wanita karier,  jangan malu untuk katakan, “Saya ibu rumah tangga. Dan saya bangga menjadi ibu rumah tangga.”
Kenapa? Karena disanalah ladang jihad saya, yang terbaik, yang Alloh berikan untukku.


Rabu, 25 September 2013

On 11:49 by elsapuspita in    2 comments


     Tgl 21 April 2013 ini merupakan hari yang tak biasa. Kenapa? Karena hari ini saya akan "pentas" di acara "Baraya Rugeri Club Berbagi Dengan Cinta" sekaligus juga memperingati hari Kartini.
Sehari sebelumnya penyebar virus narsis Mitha Ria sudah mengomporiku untuk eksis di acara ini. Dan memang rayuannya sangat dahsyat bin maut bahkan Mitha dengan sekejap telah membuatkanku puisi yang judulnya aneh menurutku jika didampingkan dengan judul-judul lain yang berbau wanita atau kartini. Tapi entah saya terbius atau terhipnotis sehingga dengan rela saya mengiyakan untuk melakukan sesuatu yang bukan biasa-biasa saja. Halahhhhhh sepertinya Mitha berguru pada master magician Deddy Corbuzier atau pada Demian?
    Semalaman saya baca puisi itu dan saya sudah membacanya dengan berbagai macam gaya. Sampai berkali-kali, sampai akhirnya saya memutuskan akan membuat puisi ini menjadi seperti yang saya inginkan. Begini... begini... begini... Mantap! Kataku dalam hati sambil tersenyum.
   Entah kenapa juga sampai-sampai terbawa mimpi. Apa saya terlalu memikirkan bagaimana penampilanku nanti atau saya ketakutan jika penonton nanti terhipnotis oleh gayaku? :) eitssss... G boleh protes kalau saya narsis 😀
     21 April - Pagi, setelah pekerjaan rumah beres dengan segera saya dan putriku meluncur ke lokasi di depan gedung KNPI Garut. Karena hari Minggu, jadi lokasi sepanjang Jl. A.Yani merupakan arena yang menyenangkan karena bebas kendaraan bermesin alias car free day. 
     Diluar dugaan. Tak seperti yang kubayangkan. Saya kira akan membaca biasa saja tapi.... Ternyata layaknya pertunjukan seni yang luar biasa. Bersama dengan anak-anak dari Post Theatron Garut yang menyuguhkan Garut Memartung, aksi teatrikal Kuda Lumping juga sederet performance anak-anak dari Padepokan Sobarnas yang terkenal itu.
     Baru datang, tiba-tiba harus segera bersiap untuk perform bersama BRC. Walahhhh..... tadinya saya akan mundur. Sepertinya saya ga bakalan bisa baca puisi di tempat yang sangat ramai ini.... hhhhh.... tapi kenapa kepala mengangguk dan kaki melangkah ke depan ketika namaku dipanggil oleh si jelita Mitha. Konyolnya saya.... tanpa basa basi langsung membaca puisi yang berjudul "Tablet".
     Haaahaaa... saya melihat mata2 itu terpesona melihatku. Apalagi saat kukeluarkan androidku. Apa karena saya begitu  manis atau karena tablet putihku yg mempesona? Apalagi ketika saya mulai membacakan puisi yang kucontek dalam androidku itu. 
Tablet........  Oh tablet...
Tablet putihku yang unyu-unyu :)
Persegi berwarna putih layar lebar ukuran 12 inchi  (maaf tablet yang saya bawa ini hanya 5 inchi krn memang hanya ini yang  saya punya heeee)
Bukan maksud menyombongkan diri namun saat itu kartini tak miliki... Tablet
Tablet.... Bukan obat puyer untuk perempuan ber-rok mini yang pusing bayar kartu kredit. Bukan pula obat tidur buat anda lelaki yang ingin bermimpi tentang perempuan cantik...
Tablet....... dulu perempuan itu tak pernah menggunakannya. Jari jemarinya selalu menari dengan lincah di atas kertas. (Di atas kertas yaaa... bukan menekan tuts keyboard komputer atau sms-an dg temannya, tp dia kartini selalu menulis surat pd teman-2nya bahkan suratnya sampai ke Belanda)
Tapi ....... tablet......adalah sejarah betapa dunia semakin canggih.
Namun sayang duhai tablet dirimu tak memiliki nama harum bak ibu kartini.
Kecanggihanmu tak jua mampu membuat perempuan bangkit. (coba tanya.... Kenapa?) Karena mereka malah lebih asyik dengan dunianya sendiri. Karena dirimulah pula di rumah, seorang istri menjadi no. 2 bagi suami.
Tablet,  hargamu mahal namun tak mampu menjadi pahlawan dunia
Oh.... tablet bahkan jeniusnya programmu tetap tak mampu membuat kartini terganti

Persembahan khusus Tablet vs Kartini - karya Mitha Ria yang mendapat sentuhan ajaib dari kartini masa kini.
* tulisan berwarna merah adalah tambahanku karena 'groginya' saat membaca puisi

Penampilanku saat membacakan puisi "Tablet"
     Hahaaaaa saya ingin tertawa gakgakgakkkk...... Ini kali pertama saya baca puisi dan ditengah-tengah performku, saya bilang "haduh kenapa saya gemetar gini ya?." Saya pingin lari waktu itu. Apalagi ketika tulisan ditabletku berlari ke atas ke bawah tak terkendali akibat tanganku yang bergetar. Huupsss ...grogi. Tangan kiriku bergetar hebat. Saya pindahkan tablet ke tangan kananku agar tak terlihat grogi.... eitssss tetap saja tanganku bergetar. Haduhhhhh kenapa begituni? (Haduh saking groginya saya juga sampai salah tulis begini) :| Untungnya sih suaraku tetap lantang dan terdengar tak bergetar. Sampai akhirnya kuucapkan terima kasih. Applause dari penonton mengiringiku berlalu ke belakang podium. Hmmmm..... Akhirnya..... Alhamdulillah selesai juga performku.
     Ya Alloh..... saya merasa takjub dgn apa yang telah kulakukan. Rasanya yang kukira beban itu telah terangkat. Tubuhku pun terasa lebih ringan melangkah. Dan pada akhirnya merasa geli, "Koq bisa ya saya sekeren itu". 
      Yes! I can do it!
Ya Alloh, that's so amazing! Funtastic!!! I proud of making it real. Reading a poetry in front of public. I'm so special.
Bergaya bersama properties anak seni
Mita Jelita juga ikut baca puisi
Hari Kartini ini menyisakan pertanyaan "mengapa?" 
(Jangan lupa ya.... ikuti tulisanku selanjutnya tentang "Wanita Luar Biasa" .... 😏 )

Ikut ambil bagian dalam pengumpulan 1000 tanda tangan untuk "Stop Pelecehan Terhadap Perempuan"
Mita Jelita tetap melaksanakan tugas reportase, setelah performance


Kata Bunda : Terkadang kita butuh sedikit tekanan untuk dapat bersinar. Karena tuntutan kadang membuat kita "siap" dalam kondisi apapun.