Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Senin, 23 Februari 2015

On 21:39 by elsapuspita in    No comments
Ini dia buku yang masih hangat. Baru tiba di studio, langsung dilahap mata :)

Menulis menjadi hal sangat sulit dilakukan disela-sela kegiatanku. Membaca buku juga adalah hal yang sama. Diantara setumpuk pekerjaan, termasuk jalan-jalan 😉, kesempatan untuk membaca atau menulis menjadi moment yang berharga jika saya dapatkan. Apalagi saya juga sebenarnya sangat sulit menumpahkan apa yang ada dalam pikiran dalam bentuk tulisan. Jangankan tulisan formal untuk nulis kayak gini z selalu ‘risih’. Rasanya selalu salah. Kata-kata yang kurang pas atau tanda baca yang tidak tepat. Jika dibaca ulang kemudian bisa berubah dan akhirnya tulisan jadi aneh. Kalau bisa menulis sampai akhirnya bisa diposting, itu saya suka takjub sendiri. Luar biasa! Luar biasa Alloh menuntun saya untuk menekan huruf demi huruf, merangkainya menjadi sebuah tulisan yang kemudian saya jadi takjub sendiri. Alloh MahaKuasa, tak ada yang mustahil bagiNya, termasuk menggerakkan tanganku yang lentik (yaelahhhh lentik... ).

             Soal membaca, sebaiknya memang kita luangkan waktu untuk itu.  Membaca pastinya akan sangat bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan kita. Bersyukurnya saya, membaca buku memang agak kesulitan, namun alhamdulillah pekerjaan amat membantu saya (atau menuntut y???😁). Saya bisa mengetahui banyak hal dengan membaca berbagai informasi yang saya dapatkan dari media online. Perkembangan zaman bisa diketahui lewat layar komputer. Dengan 3 jam membawakan Program #NgoPi di Rugeri banyak membantu saya untuk kegiatan membaca ini. Sehingga saya bisa mengetahui banyak hal. Dari dunia ekonomi, politik, olahraga, bahkan kriminal. Saya sangat terbantu, ga oon jika sedang membicarakan sesuatu, walaupun sebenarnya kadang banyak lupanya juga. Haaahaaa... 
Alhamdulillah... tahun 2015 ini saya sudah membaca 2 buah buku yang isinya memotivasi saya buat bikin tulisan. Yang pertama saya baca buku “Pertama” ini adalah kumpulan cerpen anak-anak Penulis Muda Garut. Dan saya merasa luar biasa bisa membaca buku ini. Kan tadi saya sudah bilang, saya sulit mendapat waktu untuk membaca buku. Nah buku ini menjadi pendobrak ketika rasa penasaran muncul. Saya baca buku itu setelah menerimanya langsung dari motor PMG, Gielang Gumilang. Perlu waktu dua hari memang. Dan buku kedua yang saya baca adalah #Miss_Freaky. Yang ini saya perlu waktu agak sedikit lama. Dua buku ini mendorong saya untuk mulai lagi menulis. Saya juga jadi ngebayangin bisa bikin buku sendiri. Ini virus bagus amat ;) virus menulis dan membaca. 
Soal membaca ini saya mendapat ilmu yang luar biasa dari guru ngaji. Jika sebenarnya kelemahan muslim kita itu salah satunya adalah malas membaca. Membaca buku-buku sebagai bahan pengetahuan merasa susah apalagi membaca Al-Quran. Al-Quran dengan Bahasa Arab, belum lagi membacanya yang tak lancar membuat orang alergi. Selain itu kita harus memperhatikan panjang pendeknya bacaan, belum lagi tajwid dan makhroj. Wahhhh sepertinya lengkap sudah alasan kita makin enggan membacanya. Padahal lagi Al-Quran itu sumber segala ilmu. Padahal lagi, seandainya kita kaji bahwa sebenarnya Alloh meminta pertama kali kepada umat manusia adalah untuk membaca. Saat diturunkan 5 ayat pertama dalam QS. Al-Alaq ayat 1 – 5 dimulai dengan kata Iqro ! Bacalah! 

Orang yang membaca Al-Quran dengan lancar ia akan mendapat pahala, pun bagi orang yang membaca dengan terbata tak akan hilang pahalanya. Dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra berkata, bahwa Rasululloh saw bersabda : “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari, Muslim) 
Dari Ibnu Mas'ud ra. ia berkata: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan sama dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud 'Alif, Laam, Miim' satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Ad-Darami & Tirmizi)

Maka sangat sayang sekali kalau kita punya banyak waktu luang dan kita menyia-nyiakannya. Lebih celaka lagi jika kita tak meluangkan waktu sesaat saja untuk menengok surat-surat cinta yang Allah persembahkan untuk umat pilihanNya ini. Padahal dari Usman bin 'Affan ra. telah berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Jadi, apakah sekarang kita masih mau menyia-nyiakan saat-saat terindah membaca surat cintaNya untuk kita umat terpilih?


Rabu, 18 Februari 2015

On 15:53 by elsapuspita in    1 comment

Pic. by : dnaberita

Sore yang cerah. Pulang kerja sangat menyenangkan. Tahu nggak kenapa? Ya karena bisa pulang lebih cepat walaupun lewat jam 4 sore juga 😁 dibilang lebih cepat karena biasanya pulang lewat jam 5, maghrib atau bahkan jam 8 malam, tergantung jemputan Maylope-lope.
Karena pulang lumayan rada awal dari biasanya, sooooo terbayang dipikiran bisa melakukan kesenangan. Misalnya, kencan dengan si hitam. Kebayang huruf-huruf yang wara wiri di dalam kepalaku bisa berubah menjadi tulisan dengan cara menekan tuts si hitam ini. Apalagi di rumah sangat mendukung sekali. Helmi nginep di rumahnya Syauqi dan Maylope-lope masih sibuk dengan kerjaannya dipercetakkan. So, bersama Salma saya mempunyai waktu yang cukup luang buat merealisasikan cita-cita berkencan yang sudah lama terpendam ini. ;)
Dalam bayangan bisa sesegera mungkin saya melaksanakan niat. Tapi ternyata sampai rumah tugas emak-emak menanti uluran tanganku dengan heppinya. Piring-piring yang kotor, baju-baju yang juga ingin kusentuh, jemuran yang harus diangkat, lantai yang walaupun kelihatan bersih tetap juga harus dipel karena debu-debu halus menganggu pemandangan. Walaupun agak kelelahan sepulang kerja, tugas-tugas rumah ini harus dikerjakan dengan speed super. Dalam pikirku jika cepat selesai ni pekerjaan berarti saya juga bisa dengan cepat menekan-nekan si hitam.
Tapi tampaknya saya harus menambah kesabaran karena ternyata semua pekerjaan rumah tadi bisa diselesaikan hampir menjelang maghrib. Pikiran mulai bercabang,,,,, antara tekan tuts si hitam untuk buat tulisan/cerita tapi jadi galau saat lihat ada beberapa CD film yang belum sempat kutonton, ada juga buku-buku bacaan yang menggelitik untuk kutelanjangi, juga baju-baju yang baru kuangkat dari jemuran menantang untuk kusetrika. Hadddoooohhhh.... mana dulu ya yang harus didahulukan? Mikir itu saja sampai akhirnya berkumandang adzan maghrib.
Berkencan denganNYA membuat pikiran fresh dan semangatku bangkit lagi. Tapi waktu itu sudah pukul 08pm. Salma sudah pulang dari mengaji di Masjid Komplek. Sediain makan malam dilanjut makan bareng. Lepas nonton tayangan tv beberapa saat, Salma masuk kamar tidur sambil membawa buku karya Gielang Gumilang #Mis_Freaky. Dia baca lagi tuh buku yang ingin segera diselesaikannya sampai tertidur. Dan jam 10pm saya baru bisa buka si hitam. hmmmm.... gapapa lah... sambil nunggu Maylope-lope pulang saya bisa ketik-ketik sesuatu.
Tuhhh kan, pas udah didepan laptop, huruf-huruf yang tadi banyak desak-desakan di kepala tiba-tiba nguap. Kelamaan kali ya jadi tuh huruf-huruf dah pada kabur. Yaaaelllah.... sebenarnya saya mo nulis apa ya tadi???

Rabu, 11 Februari 2015

On 15:16 by elsapuspita in    1 comment


Bagaimana perasaanmu saat naik mobil dengan pengemudi yang baru belajar nyetir??? Ohoooohoooo... deg-degan pastinya. Dan itu saya alami pas Mita bawa mobilnya ke studio. Dengan alasan biar cepat lancar, maka dibawalah si mocin yang baru beberapa minggu nangkring di depan rumahnya. Sementara, baru kemarin dia cerita si mocin mundur di tanjakan karena dia belum terlalu menguasai medan. Karena akan menemui klien, Mie Baso RC di Copong, akhirnya saya rela mendaratkan tubuh dikursi depan si mocin. Saya sudah banyak berdoa dalam hati, tak henti-henti, “Ya Alloh, selamatkan kami dalam perjalanan ini .” Sementara Mita sudah menyalakan mobilnya, saya semakin lebat berdoa padaNya.😊
Hari pertama kami lalui dengan aman. Karena kami mencari jalan tanpa tanjakan. 😁 biarin keliling-keliling asal ga nemu tanjakan, itu prinsip yang pertama. Tapi itu tak berhasil dihari-hari berikutnya. Mau tak mau tanjakan ini harus ditaklukkan. Dan saat moment itu di depan mata, maka saya akan duduk dengan tegak dan berusaha untuk enjoy dan tenang, menatap jelas ke depan dan siap-siap buka pintu jika mobil tiba-tiba mundur..... jhiaahhahaaa... ga sebegitunya juga kaleee... saya hanya memastikan Mita bisa melakukannya dengan baik. Dia pasti bisa koq! Dan saya percaya ini bukan suatu kebetulan jika saat-saat pertama kami melalui tanjakan keadaan jalan lancar dan tenang. Ga macet. Ini memudahkan kami melalui tanjakan tanpa kendala. Alhamdulillah... Alloh sudah setting dengan sempurna untuk melatih kami. Melatih Mita dengan  gas dan rem di tanjakan. Melatih saya agar bisa tenang juga. 😁 luar biasa!
Suatu hari, lepas kerja, tepatnya 15 September 2014, Mita memaksa mengantarku & anak-anak ke rumah. alasannya, biar tambah lancar mengemudi. Iya juga sih, makin sering mengemudi kan semakin terlatih ya.... Walau begitu, agak cekot-cekot juga menerima permintaannya. Bukannya apa-apa, jalan menuju rumah sudah kebayang..... wuihhhh!!! nanjaknya itu..... sehingga kami sepakat, nanti kami ga diantar sampai rumah, alias ga harus si mocin melalui jalan nanjak menuju rumah. Pengemudi belum berani, penumpang juga sama. Xixiiii... Ok, kalau begitu. Deal!
Saya menikmati perjalanan, begitu juga anak-anak. Sampai ketika kami menemukan tanjakan sekaligus belokan tajam di komplek. Haduhhhh.... anak-anak sampai panik dan sedikit ketakutan. Mocin sempat mundur memang, sampai akhirnya Mita menekan gas dalam-dalam sekaligus pedal koplingnya juga... akhirnya si mocin kentut. Kata anakku, ada asapnya hitam. Xixixiiii... alhamdulillah jalan komplek ga terlalu sibuk dengan kendaraan dan kami bisa lalui itu walau sempat deg-degan.
Tanjakan mini z anak-anak sudah empot-empotan, apalagi pas mocin sudah dekat tanjakan menuju rumah. Halahhhhh, anak-anak langsung lompat keluar. Xixiiiii... anyway, kami tiba di rumah dengan selamat. Yang jadi pertanyaan apakah Mita bisa lewati tantangan melalui tanjakan menuju gerbang ke luar? Saya jadi ikut deg-degan... “Ya Alloh, lancarkan perjalanannya.”
Besoknya, dapat cerita kalau kemarin menurut Mita adalah petang yang paling gelap baginya. Ternyata eh ternyata bukannya sudah gelap, tapi selama perjalanan ternyata lampu luarnya ga dia nyalain. Hadeuhhhh ! 😁 
Seminggu kemudian, kejadian serupa terulang. Mita menawarkan diri untuk mengantar sampai rumah. Saya juga anak-anak sepakat akan turun seperti minggu sebelumnya, di jalan sebelum memasuki tanjakan menuju rumah.
Sampai di komplek hampir menuju tanjakan rumah, ketika tiba-tiba Mita menancap gas mengarungi tanjakan super duper. Anak-anak sudah teriak, tapi Mitmot tetap pede injak gas sambil menenangkan anak-anak. Sementara saya selain sibuk menenangkan anak-anak juga berdoa deras dalam hati. “Tenang, Teh Mita pasti bisa nyampai ke atas.” Yaahhh kurang lebih begitulah saya bilang ke anak-anak, padahal dalam hati juga luar biasa cenat-cenut. MasyaAlloh, bakal sampe rumah atau si mocin bakal mundur lagi??? Dan ternyata kami tiba di depan rumah dengan selamat. Alhamdulillah.... salut! Mita, bisa! Dia bernafas lega sambil berkata,"Kalau ga dicoba ga bakal bisa-bisa, Teh!" Iya juga sih... sampai kapan menyimpan ketakutan mobil mundur di tanjakkan. Bagaimana kita tahu bisa melalui atau tidak jika tidak dijalani?
Malam itu saya buatkan ‘trophy’ keberhasilan. Trophy untuk memperingati penaklukan tanjakan Cijati. Dibuat dari kardus bekas susu bubuk. Diukur sedemikian rupa. Ditulis dengan spidol warna-warni, langsung dilem setiap bagiannya. Besoknya, saat siap-siap on air #NgoPi saya kasih tuh trophy. 
"Tarrrranggg! selamat! Kamu sudah taklukkan ketakutanmu," seruku.
Coba bayangkan bagaimana reaksi c’ cantik Mita? 
Selamat membayangkan.... 😉

Ingin lihat Trophynya??? Ini dia!!! Bentuknya dibuat seperti jam, menandakan waktu. Artinya segala sesuatu butuh waktu/proses. Begitu juga jika ingin bisa mengendarai mobil. Belajar nyetir ga bisa sekali dua kali tapi perlu terus dilatih sampai akhirnya mahir.

foto design by. my lope-lope 😉
Sisi kiri ditulisi catatan tentang kisah "menaklukkan tanjakan I"

Sisi kanan ditulisi catatan kisah penaklukkan tanjakan episode II

Bagian bawahnya ditulisi juga,,,,, Ahhhayy... :D

On 10:45 by elsapuspita in    No comments


Siang sangat panas menyengat dan gak lama kami tiba di studio, hujan turun. Langsung inget anak-anak. Pulang sekolah kehujanan ga ya??? Ehhh.... ternyata mereka sudah nangkring di studio. Alhamdulillah. Nunggu hujan reda sambil bolak-balik nelpon klien, sementara anak-anak menikmati makan siangnya. 

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika (BMKG), Januari-Februari memang dipastikan puncaknya musim penghujan. Jadi kalau turun hujan ya... gitu deh. Tadi saja pulang kerja, saya sama anak-anak kehujanan. Tapi gapapa... menyenangkan juga. Dan ternyata membawa saya buat nulis. Karena abis beres-beres, mandi, trus buka laptop,,,

Buka-buka file photo ketemu photo-photo yang menggambarkan kegiatan yang rata-rata anak-anak pasti suka. Ya, main air. Lihat saja bagaimana mereka riang bermain air. Mandi sambil main air, main air di sungai, atau main air hujan. Berlari kesana kemari tanpa alas kaki, bernyanyi, berteriak senang tanpa beban. Apa yang ada dalam pikirannya adalah hal yang menyenangkan. Bisa merasakan setiap tiktik hujan yang menyentuh kulitnya dengan lembut dan bahkan keras, mereka tetap tertawa lepas.

Lihat anak-anak yang ceria bermain air. Byurrr.... (ini photo saya dapat dari bbnya maylope-lope)



Ini waktu kami mampir di Panti Ummi Naila - Jatinangor. Salma & Helmi ga nahan buat nyemplung ke kolam ikan. Dikubek-kubek tuh air sampai ikan-ikan pada pusing 😁







Main air dilakukan juga sama teman-temannya saat akhir pekan. Di depan rumah, ceritanya mau bantuin nyiram tanaman. Akhir-akhirnya semprot-semprotan.Ya begini ini situasinya... basahhhhh kuyup. Apalagi kalau ponakan lagi pada nginep, mandi pun bisa di luar bareng-bareng. Xixixiii 😁

Fahriiiii.... celanamu kemana darlingggg!
nyemprot anak laki-laki biar sama basahnya. :D
Salma & her fren, Cica
Helmi & his fren, Iki
Menikmati hujan dari balik kemudi



Dulu, saat masih kecil, kalau hujan turun, akan dengan senangnya saya dan juga kakakku (usia kami ga jauh, jadi kami memang selalu bermain bersama) menanggalkan baju. Hanya dengan kaos dalam dan celana dalam saja kami akan segera berlarian dengan teman-teman yang lainnya. Membawa payung tapi tak kami kenakan. Malah payung tersebut kami gunakan untuk menadah air hujan kemudian kami angkat bareng-bareng sehingga mengguyur badan kami dan kami berteriak kegirangan. Berlari-lari di pabrik penggilingan beras yang ada di samping rumah. Tempat yang luas membuat kami leluasa berlari kesana-kemari, menyusuri setiap sudut pabrik. Hingga akhirnya kami akan mandi di jamban pabrik bergantian. Menimba air dari sumur yang juga berair hujan dan langsung menyiram ke tubuh-tubuh kecil kami. Dan saat kami pulang dengan basah kuyup, kami akan kena marah Mam’ yang khawatir. Khawatir kami sakit, khawatir kami terkena petir, khawatir kami kenapa-napa. Waktu itu kami tak paham. Kami hanya senang main air dan hujan-hujanan.

Beberapa waktu kemudian kami mempunyai kolam ikan di dekat ruang makan. Ada tamannya dan jembatan kecil yang menghubungkan ruang makan dan taman kecil. Beberapa ikan berwarna merah, orange, dan hitam menjadi mainan kami. Seingat saya, kami ga pernah sekalipun turun ke sana untuk bermain dengan ikan-ikan lucu itu. Ga boleh sama Mam’. “Nanti ikannya mati,” begitu Mam bilang. Lagian kami juga takut Apa (panggilan kami sama Bapak) marah. Jadi, kami hanya menatap dan menjulurkan tangan untuk menyapa ikan-ikan itu.

Tapi, saat turun hujan waktu itu tampaknya kami sudah tak kuasa membendung hasrat bercengkrama bersama air hujan di kolam ikan kami. Kami tanggalkan baju rok kami dan mulai bermain air. Saat itu di rumah entah kenapa, sepi. Sehingga kami bebas bermain. Air bercipratan kemana-mana. Dan kami berlarian senang sambil menakut-nakuti ikan... Wahhh ini permainan yang luar biasa sangat-sangat menyenangkan, pikir kami waktu itu.

Sampai ketika kaka kesatu datang dan menyuruh kami untuk segera beranjak dengan sedikit ancaman kami akan dilaporkan kepada Mam’. Kami tak peduli, tetap bermain, karena kami merasa senang. Tak mempan dengan jurus pertama, kaka kesatu mulai menakut-nakuti kami. “Cepat mandi,,, nanti ada guludug,”ancamnya. Kami malah mengejeknya, karena kami ga tahu guludug itu siapa? Dan bagaimana bentuknya kami belum pernah melihatnya. Yang saya tahu sekarang, pastinya waktu itu kakak kesatu kesal sekali dengan tingkah kami yang membuat rumah basah dan berantakan tak karuan. Karena dia yang akan membereskan semuanya. Kami kan masih terlalu kecil untuk membereskan semua itu. Xixixiii.... tapi waktu itu kami ga berpikir ke sana. Kami hanya merasa senang bermain air. Sampai tiba-tiba DHHHARRRR!!! Suara keras itu membuat kami ketakutan. Kami berlari dan bersembunyi di bawah meja makan, sementara kakak kesatu tertawa menang. “Nahhhh Loh, rasain! Tah, guludug tah budak bangor,” gitu katanya. 😂

Walaupun begitu, kami sempat turun lagi ke kolam setelah memastikan ga ada suara guludug alias petir. Upppsss!!! Ternyata kami salah! Guludug itu ada lagi dan kami menjadi ketakutan hingga akhirnya kami dimandiin sama asisten rumah tangga kami waktu itu, Bi Engo. Kami menggigil,,,, brrrrrr antara kedinginan dan ketakutan dengan guludug. Xixixiiiii... dan beberapa hari kemudian kami bersin-bersin. Kena flu rupanya...

Pernah juga saking besarnya hujan, sampai-sampai terjadi banjir di daerah kami. Sungai Cimanuk yang hanya beberapa meter dari rumah kami, meluap. Sangat besar. Barang-barang plastik dan ringan terapung-apung. Bahkan, ada tiang listrik yang runtuh sehingga otomatis listrik dipadamkan untuk menjaga keselamatan. Rumah kami pun tergenang air.

Saat itu saya merasa takut melihat air yang luar biasa itu tapi juga merasa senang, bukan senang karena banjir. Tapi karena banjir, saya bisa melihat banyak orang. Saya merasa nyaman, hangat dan senang menikmati kebersamaan, melihat orang-orang yang bergotong-royong saling membantu. Sementara orang-orang yang berpakaian satpam, yang berpakaian coklat-coklat itu, yang berpakaian biru, dan masyarakat  bahu membahu saling bantu dan mengamankan lokasi, Mam’ menyediakan kopi yang banyak dan membuat makanan kecil. Yang saya ingat, pada saat kejadian itu mereka semua bekerja sama tanpa mengenal lelah dan tak pamrih, tak membedakan siapa yang menolong dan siapa yang ditolong. Semuanya bersatu. Itu yang saya ingat dan itu saya suka.

Sayang waktu itu dokumentasi belum semudah sekarang, yang kalau ada kejadian menarik atau bisa jadi berita bisa langsung jepret atau di video lewat henpon. Jadi ga punya photo yang jadi saksi. Lagian waktu itu kan saya masih kecil juga ya... heee. Saya hanya bisa bercerita untuk mengenangnya. Itupun sambil mengingat dengan keras. Sebagian ada yang terrekam memori dan sebagian hilang... Dunia anak itu indah dan menyenangkan. Tak ada beban dan semua fine-fine aza.

diingat-ingat lagi, setelah itu kami ga ngahajakeun hujan-hujanan. Apalagi kami mulai beranjak ABG. Heheee paling huhujanan kalau pulang sekolah, pas ditengah jalan tiba-tiba turun hujan, yaaa... huhujanan deh....😁
Itu, dulu. Sekarang, jika hujan turun, saya tetep suka ngeri kalau dengar suara petir. Apalagi kalau angin juga sudah ikut gabung. Wahhhh... deg-degannya itu... ampyuuunnnn. Saya sedih... ingat saudara-saudara yang berada di wilayah yang rentan dengan bencana.

Tampaknya Garut memang harus selalu siap dengan berbagai bencana yang kerap melanda saat musim penghujan. Siap-siap dengan banjir, angin puting beliung, longsor atau pergerakan tanah. Terutama Garut bagian selatan. Dari Dchannel - Selama 2014, tanah longsor, angin kencang, dan banjir, mendominasi bencana yang terjadi di Kabupaten Garut. Hal tersebut tertera pada data yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut.


Kabid Kesiapsiagaan pada BPBD Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan seperti dikutip dari Tribun Jabar, mengatakan bencana terparah terjadi di akhir 2014, yakni longsor di 7 kecamatan di kawasan selatan Garut. Bencana tanah longsor ini menyebabkan 141 rumah rusak berat, 108 rusak sedang, 117 rusak ringan, dan 455 terancam.

Dari Inilahkoran.com dapat kabar, Minggu, 8 Februari di tengah guyuran hujan deras, sekitar pukul 16.30 WIB, sebuah tebing berketinggian sekitar 12m dan panjang 9m di Kp. Cipondok Ds. Lebakjaya Kec. Karangpawitan ambruk, dan nyaris menimpa tiga rumah warga yang berada di bawahnya. Pada waktu hampir bersamaan, banjir juga terjadi di wilayah Karangpawitan, tepatnya di Kampung Sutapura RT. 01 RW. 09 Ds. Suci akibat meluapnya kali Cigulampeng. Banjir tersebut mengakibatkan belasan rumah warga, serta sebuah bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terendam air berketinggian sekitar 70 centimeter. Menurut Ketua Rukun Tetangga 01 RW 09 Dadang Juarna, banjir pada sore itu merupakan terparah dari beberapa kali kejadian terakhir ini.

In syaa Allah, saat hujan maka rahmat dan berkahNYA juga tercurah bersama turunnya hujan. Allah berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Alloh membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh itu  berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Ar-Ruum : 48-50)

Maka jangan lupa, ketika turun hujan itu cepatlah berdoa memohon pada Alloh, karena salah satu doa yang diijabah itu adalah saat turun hujan. Dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)

Doa Ketika Turun Hujan “Alloohumma shoyyiban naafi'an”, artinya : “Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat.”

Aamiin.