Rabu, 11 Februari 2015
On 10:45 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
Siang sangat panas menyengat dan gak
lama kami tiba di studio, hujan turun. Langsung inget anak-anak. Pulang sekolah
kehujanan ga ya??? Ehhh.... ternyata mereka sudah nangkring di studio.
Alhamdulillah. Nunggu hujan reda sambil bolak-balik nelpon klien, sementara
anak-anak menikmati makan siangnya.
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika (BMKG), Januari-Februari memang dipastikan puncaknya musim penghujan. Jadi kalau turun hujan ya... gitu deh. Tadi saja pulang kerja, saya sama anak-anak kehujanan. Tapi gapapa... menyenangkan juga. Dan ternyata membawa saya buat nulis. Karena abis beres-beres, mandi, trus buka laptop,,,
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi & Geofisika (BMKG), Januari-Februari memang dipastikan puncaknya musim penghujan. Jadi kalau turun hujan ya... gitu deh. Tadi saja pulang kerja, saya sama anak-anak kehujanan. Tapi gapapa... menyenangkan juga. Dan ternyata membawa saya buat nulis. Karena abis beres-beres, mandi, trus buka laptop,,,
Buka-buka file photo ketemu photo-photo
yang menggambarkan kegiatan yang rata-rata anak-anak pasti suka. Ya, main air.
Lihat saja bagaimana mereka riang bermain air. Mandi sambil main air, main air di
sungai, atau main air hujan. Berlari kesana kemari tanpa alas kaki, bernyanyi,
berteriak senang tanpa beban. Apa yang ada dalam pikirannya adalah hal yang
menyenangkan. Bisa merasakan setiap tiktik hujan yang menyentuh kulitnya dengan
lembut dan bahkan keras, mereka tetap tertawa lepas.
![]() |
| Lihat anak-anak yang ceria bermain air. Byurrr.... (ini photo saya dapat dari bbnya maylope-lope) |
Ini waktu kami mampir di Panti Ummi
Naila - Jatinangor. Salma & Helmi ga nahan buat nyemplung ke kolam ikan.
Dikubek-kubek tuh air sampai ikan-ikan pada pusing 😁
![]() |

Main
air dilakukan juga sama teman-temannya saat akhir pekan. Di depan rumah,
ceritanya mau bantuin nyiram tanaman. Akhir-akhirnya semprot-semprotan.Ya
begini ini situasinya... basahhhhh kuyup. Apalagi kalau ponakan lagi pada
nginep, mandi pun bisa di luar bareng-bareng. Xixixiii 😁
![]() |
| Fahriiiii.... celanamu kemana darlingggg! |
![]() |
| nyemprot anak laki-laki biar sama basahnya. :D |
![]() |
| Salma & her fren, Cica |
![]() |
| Helmi & his fren, Iki |
![]() |
| Menikmati hujan dari balik kemudi |
Dulu, saat masih kecil, kalau hujan
turun, akan dengan senangnya saya dan juga kakakku (usia kami ga jauh, jadi
kami memang selalu bermain bersama) menanggalkan baju. Hanya dengan kaos dalam
dan celana dalam saja kami akan segera berlarian dengan teman-teman yang
lainnya. Membawa payung tapi tak kami kenakan. Malah payung tersebut kami
gunakan untuk menadah air hujan kemudian kami angkat bareng-bareng sehingga
mengguyur badan kami dan kami berteriak kegirangan. Berlari-lari di pabrik
penggilingan beras yang ada di samping rumah. Tempat yang luas membuat kami
leluasa berlari kesana-kemari, menyusuri setiap sudut pabrik. Hingga akhirnya
kami akan mandi di jamban pabrik bergantian. Menimba air dari sumur yang juga
berair hujan dan langsung menyiram ke tubuh-tubuh kecil kami. Dan saat kami
pulang dengan basah kuyup, kami akan kena marah Mam’ yang khawatir. Khawatir
kami sakit, khawatir kami terkena petir, khawatir kami kenapa-napa. Waktu itu
kami tak paham. Kami hanya senang main air dan hujan-hujanan.
Beberapa waktu kemudian kami mempunyai
kolam ikan di dekat ruang makan. Ada tamannya dan jembatan kecil yang
menghubungkan ruang makan dan taman kecil. Beberapa ikan berwarna merah,
orange, dan hitam menjadi mainan kami. Seingat saya, kami ga pernah sekalipun
turun ke sana untuk bermain dengan ikan-ikan lucu itu. Ga boleh sama Mam’. “Nanti
ikannya mati,” begitu Mam bilang. Lagian kami juga takut Apa (panggilan kami
sama Bapak) marah. Jadi, kami hanya menatap dan menjulurkan tangan untuk
menyapa ikan-ikan itu.
Tapi, saat turun hujan waktu itu
tampaknya kami sudah tak kuasa membendung hasrat bercengkrama bersama air hujan
di kolam ikan kami. Kami tanggalkan baju rok kami dan mulai bermain air. Saat
itu di rumah entah kenapa, sepi. Sehingga kami bebas bermain. Air bercipratan kemana-mana.
Dan kami berlarian senang sambil menakut-nakuti ikan... Wahhh ini permainan
yang luar biasa sangat-sangat menyenangkan, pikir kami waktu itu.
Sampai ketika kaka kesatu datang dan
menyuruh kami untuk segera beranjak dengan sedikit ancaman kami akan dilaporkan
kepada Mam’. Kami tak peduli, tetap bermain, karena kami merasa senang. Tak
mempan dengan jurus pertama, kaka kesatu mulai menakut-nakuti kami. “Cepat
mandi,,, nanti ada guludug,”ancamnya. Kami malah mengejeknya, karena kami ga
tahu guludug itu siapa? Dan bagaimana bentuknya kami belum pernah melihatnya. Yang
saya tahu sekarang, pastinya waktu itu kakak kesatu kesal sekali dengan tingkah
kami yang membuat rumah basah dan berantakan tak karuan. Karena dia yang akan
membereskan semuanya. Kami kan masih terlalu kecil untuk membereskan semua itu.
Xixixiii.... tapi waktu itu kami ga berpikir ke sana. Kami hanya merasa senang
bermain air. Sampai tiba-tiba DHHHARRRR!!! Suara keras itu membuat kami
ketakutan. Kami berlari dan bersembunyi di bawah meja makan, sementara kakak
kesatu tertawa menang. “Nahhhh Loh, rasain! Tah, guludug tah budak bangor,”
gitu katanya. 😂
Walaupun begitu, kami sempat turun lagi
ke kolam setelah memastikan ga ada suara guludug alias petir. Upppsss!!!
Ternyata kami salah! Guludug itu ada lagi dan kami menjadi ketakutan hingga
akhirnya kami dimandiin sama asisten rumah tangga kami waktu itu, Bi Engo. Kami
menggigil,,,, brrrrrr antara kedinginan dan ketakutan dengan guludug.
Xixixiiiii... dan beberapa hari kemudian kami bersin-bersin. Kena flu
rupanya...
Pernah juga saking besarnya hujan,
sampai-sampai terjadi banjir di daerah kami. Sungai Cimanuk yang hanya beberapa
meter dari rumah kami, meluap. Sangat besar. Barang-barang plastik dan ringan
terapung-apung. Bahkan, ada tiang listrik yang runtuh sehingga otomatis listrik
dipadamkan untuk menjaga keselamatan. Rumah kami pun tergenang air.
Saat itu saya merasa takut melihat air
yang luar biasa itu tapi juga merasa senang, bukan senang karena banjir. Tapi
karena banjir, saya bisa melihat banyak orang. Saya merasa nyaman, hangat dan
senang menikmati kebersamaan, melihat orang-orang yang bergotong-royong saling
membantu. Sementara orang-orang yang berpakaian satpam, yang berpakaian
coklat-coklat itu, yang berpakaian biru, dan masyarakat bahu membahu saling bantu dan mengamankan
lokasi, Mam’ menyediakan kopi yang banyak dan membuat makanan kecil. Yang saya
ingat, pada saat kejadian itu mereka semua bekerja sama tanpa mengenal lelah
dan tak pamrih, tak membedakan siapa yang menolong dan siapa yang ditolong. Semuanya
bersatu. Itu yang saya ingat dan itu saya suka.
Sayang waktu itu dokumentasi belum
semudah sekarang, yang kalau ada kejadian menarik atau bisa jadi berita bisa
langsung jepret atau di video lewat henpon. Jadi ga punya photo yang jadi
saksi. Lagian waktu itu kan saya masih kecil juga ya... heee. Saya hanya bisa bercerita
untuk mengenangnya. Itupun sambil mengingat dengan keras. Sebagian ada yang
terrekam memori dan sebagian hilang... Dunia anak itu indah dan menyenangkan.
Tak ada beban dan semua fine-fine aza.
diingat-ingat lagi, setelah itu kami ga
ngahajakeun hujan-hujanan. Apalagi kami mulai beranjak ABG. Heheee paling
huhujanan kalau pulang sekolah, pas ditengah jalan tiba-tiba turun hujan,
yaaa... huhujanan deh....😁
Itu, dulu. Sekarang, jika hujan turun,
saya tetep suka ngeri kalau dengar suara petir. Apalagi kalau angin juga sudah
ikut gabung. Wahhhh... deg-degannya itu... ampyuuunnnn. Saya sedih... ingat
saudara-saudara yang berada di wilayah yang rentan dengan bencana.
Tampaknya Garut memang harus selalu siap
dengan berbagai bencana yang kerap melanda saat musim penghujan. Siap-siap
dengan banjir, angin puting beliung, longsor atau pergerakan tanah. Terutama
Garut bagian selatan. Dari Dchannel - Selama 2014, tanah longsor, angin
kencang, dan banjir, mendominasi bencana yang terjadi di Kabupaten Garut. Hal
tersebut tertera pada data yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Kabupaten Garut.
Kabid
Kesiapsiagaan pada BPBD Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan seperti dikutip
dari Tribun Jabar, mengatakan bencana terparah terjadi di akhir 2014, yakni
longsor di 7 kecamatan di kawasan selatan Garut. Bencana tanah longsor ini
menyebabkan 141 rumah rusak berat, 108 rusak sedang, 117 rusak ringan, dan 455
terancam.
Dari
Inilahkoran.com dapat kabar, Minggu, 8 Februari di tengah guyuran hujan deras,
sekitar pukul 16.30 WIB, sebuah tebing berketinggian sekitar 12m dan panjang 9m
di Kp. Cipondok Ds. Lebakjaya Kec. Karangpawitan ambruk, dan nyaris
menimpa tiga rumah warga yang berada di bawahnya. Pada waktu hampir bersamaan,
banjir juga terjadi di wilayah Karangpawitan, tepatnya di Kampung Sutapura RT.
01 RW. 09 Ds. Suci akibat meluapnya kali Cigulampeng. Banjir tersebut
mengakibatkan belasan rumah warga, serta sebuah bangunan Pendidikan Anak Usia
Dini (PAUD) terendam air berketinggian sekitar 70 centimeter. Menurut Ketua
Rukun Tetangga 01 RW 09 Dadang Juarna, banjir pada sore itu merupakan terparah
dari beberapa kali kejadian terakhir ini.
In syaa Allah,
saat hujan maka rahmat dan berkahNYA juga tercurah bersama turunnya hujan. Allah
berfirman, “Allahlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan
dan Alloh membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari
celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia
kehendaki tiba-tiba mereka bergembira. Padahal sebelum hujan diturunkan kepada
mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas
rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh
itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Ar-Ruum : 48-50)
Maka
jangan lupa, ketika turun hujan itu cepatlah berdoa memohon pada Alloh, karena
salah satu doa yang diijabah itu adalah saat turun hujan. Dari Sahl bin Sa’d,
beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Dua
do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)
Doa
Ketika Turun Hujan “Alloohumma shoyyiban
naafi'an”, artinya : “Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa
manfaat.”
Aamiin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Tamu Bunda
Popular Posts
-
Pernah ga saat mencuci lap penuh dengan minyak? Kalau bertemu lap seperti itu, wajar lah agak sedikit malas mencucinya. Dulu itu sering ...
-
Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. ...
-
Gaya bareng soulmate Hampir tiap pekan, anakku Helmi "janjian" sama sepupunya Syauqi buat nginep di rumahnya. Instruktur D...
-
pic. by : yagakgitujuga Mengenangmu sangat menyakitkan Tapi tak bisa kuhindari Saat aku kembali di tempat ini Aku tahu a...
-
Rabu Pagi, 29 Oktober 2014, kurang lebih jam 9-an, sedang On Air # NgoPi “Ngobrol Pagi ”, kantorku kedatangan tamu istimewa. Bapak...
Follower
Me Just
Seorang Ibu dengan 2 anak yang perlu banyak belajar. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing.Haaa...







0 komentar:
Posting Komentar