Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Sabtu, 30 November 2013

On 14:45 by elsapuspita in    2 comments


pic. by : akuiniobenk

Ini cerita beberapa bulan lalu yang  sempat tertunda karena belum sempat kutulis. 

     Anakku suka sekali main sepeda. Karena saya sedikit sibuk dan repot dengan pekerjaan di studio, jadinya beberapa hari terakhir ini aku pulang lebih lama. Jika biasanya paling lambat tiba di rumah pukul 5 pm, akhir-akhir ini saya bisa pulang menjelang maghrib bahkan menjelang Isya.  Jadinya anak-anak ga sempat lagi untuk bermain sepeda sore-sore karena keburu maghrib Duhhh... kasihan ya saya.... 😔

     Suatu hari anakku bertanya, “bunda kenapa ban sepeda teteh kempes? Padahal sepedanya ga pernah teteh pake?”.
“Bisa jadi ban sepedanya kempes karena bannya kena dingin dari lantai atau bisa juga karena cuaca yang dingin,” jelasku
Anakku berseru, “makanya Bun, sepedanya pakai selimut aja biar ga kedinginan,”
😁 Xixixiiiii... ada-ada saja anakku

Selasa, 26 November 2013

On 16:08 by elsapuspita in    3 comments


Anak-anak suka sekali jajan dogput. Beberapa kali saya melihat mereka - ponakan-ponakanku, Farah dan Hana, juga putriku, Salma - membeli jajanan itu. Saya agak sedikit kurang suka jika anakku sering jajan makanan seperti itu. Beberapa kali saya pernah mengingatkan agar tak terlalu sering atau bahkan ga perlu jajan jajanan seperti itu. Saya lebih menyarankan anak-anak untuk membeli kue-kue atau biskuit-biskuit, daripada jajanan yang diolah begitu rupa yang banyak ditemui di sekolah-sekolah. Ngeri juga ya... melihat maraknya pewarna makanan atau pemberian bumbu-bumbu yang berlebihan pada jajanan-jajanan itu. Saya juga sarankan jika mau makanan seperti jajanan itu lebih baik membuat sendiri di rumah.
            Suatu hari putriku memintaku untuk dibelikan bihun dan telur puyuh. “Buat apa?” tanyaku. “Mau bikin dogput,” jawabnya. Hey! Saya sedikit ragu apa bisa putriku ini membuat sendiri jajanan dogput itu. Tapi, yaaa.... bolehlah nanti saat belanja atau mampir ke warung saya akan belikan bihun juga telur puyuh pesanannya. Beberapa kali putriku menagih pesanannya. Wadduhhhh kenapa juga tiap ke warung saya lupaaa aza dengan pesanannya. I’m sorry, honey.
            Untunglah saat berbelanja bulanan, selain keperluan rumah tangga juga sayuran, saya tak lupa memasukan bihun juga telur puyuhnya. Hmmmm... putriku pasti seneng nih.
Mengetahui pesanannya sudah ada, putriku begitu semangat sekali masuk dapur. Selepas mandi sore, layaknya seorang chef dia mulai mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukannya. Saya sedang mencuci baju-baju sore itu jadi sesekali saat anakku bertanya, saya juga sesekali ngintip. Sebagai master chef, saya perlu memberi pengarahan juga kan? 😁
Saya lihat putriku menyiapkan bahan-bahannya : bihun, telur puyuh, kulit lumpia dan bumbu-bumbu. Sederhana ya? Selesai mencuci dan mandi saya pun ikut nimbrung di dapur. Saya perhatikan gaya dan cara putriku memasak. Saya lihat bihunnya sudah ditiriskan, pastinya dia sudah merebusnya ya... trus dia menaburi bihunnya dengan bumbu penyedap. Saya ingatkan untuk menabur bumbu secukupnya saja. Kemudian dia mengambil piring besar dan mengambil selembar kulit lumpia. Dia juga siapkan telur puyuh didekatnya. Setelah itu kulit lumpia diberi 1-2 sendok bihun lalu dipecahkannya telur puyuh diatasnya. (Nah, di sini saya ingatkan putriku untuk membuang kulit telur langsung dibuang ke tempat sampah) Kemudian kulit lumpia itu dilipatnya. Lalu dia sisihkan dipiring lain. Dia buat beberapa. Kemudian digorengnya satu persatu dalam minyak panas yang cukup banyak. Minyak bercipratan kemana-mana. Tetesan-tetesan telur juga ada di lantai. Piring-piring kotor sepertinya jadi double. Dapurku terlihat sedikit berantakan. Tapi biarlah..... biar putriku asyik berkreasi. Kalau diperhatikan dari caranya memasak, putriku ini seperti chef yang ahli banget. Sambil melihatnya memasak, kami ngobrol-ngobrol santai. Dia cerita kalau saat jajan dogput, dia suka memperhatikan cara c’ Mang membuatnya. Haaaa...  😁
Akhirnya setelah semua selesai digoreng, kami mulai membersihkan sisa-sisa kotoran yang tersisa. Membersihkan cipratan minyak dan mengepel lantai. Setelah semuanya beres, akhirnya... kami bisa menikmati dogput ala Chef Salma. Dia penuh semangat menyantapnya. Saya pun kebagian. Wawww... begini toh rasa jajanan dogput? Saya sampai nyomot dua atau tiga ya... Xixiiii...  
Eh ngomong-ngomong kenapa ya makanan ini diberi nama dogput. Kenapa ga bihun lipat gitu... setelah survey saya baru tahu kalau dogput itu artinya endog nyumput. Xixiiii ada-ada saja  😁
Saat berkecimpung di dapur itu, saya sebagai Master Chef juga sekaligus fotografer. Pertama sih sembunyi-sembunyi memotret aktifitas si sulung ini, tapi akhirnya ketahuan juga.... 😊
Inilah gaya putriku memasak... 
like mother like daugther😊
Kalau anak ’masuk’ dapur, jangan kaget kalau jadi agak-agak sedikit berantakan gitu. Biarkan anak asyik berkreasi. Tapi jangan meninggalkan anak yang sedang asyik di dapur ya... walaupun masak makanan yang sederhana sekalipun tetap harus diawasi. Saat anak di dapur, ini merupakan waktu yang tepat untuk memberikan petunjuk penggunaan alat-alat memasak, menggunakan kompor gas, bagaimana dia harus hati-hati dengan api, minyak panas, dan juga memberikan penjelasan jika memasak itu ga harus selalu membuat dapur menjadi kotor dan berantakan.

On 10:05 by elsapuspita in    No comments


Saya sedang sibuk memeriksa pesan-pesan di henpon saat putriku Salma bertanya "Bunda, mau foto-foto nggak? UU mau bikin ongol-ongol tuh...". Saya sedikit bingung malah sempat bertanya juga, “apa hubungannya foto dengan bikin ongol-ongol?”. Beberapa saat, setelah diingat-ingat.... Ooopssss... ya, Kakak kesatu mau praktek cemilan tradisional ongol-ongol. Kami memang sudah janjian sebelumnya. Haduhhhh, koq bisa lupa ya... Segera saya menuju dapur untuk ‘mengintip’ Kakak kesatu beraksi.
Di dapur sudah nampak aktifitas. Bahan-bahan ternyata sudah siap sedia dan siap untuk diolah. Wahhhhh, kelihatannya akan ada kegiatan yang mengasyikan nih... dan juga tentu saja saya akan mendapat ilmu baru lagi 😊
Ongol-ongol adalah makanan tradisional Indonesia. Cara membuatnya mudah, bahkan untuk yang belum pernah masuk ke dapur sekalipun pasti bisa membuat ongol-ongol. Hanya perlu sedikit tenaga lebih saja untuk mengocek adonan yang lumayan berat saat adonan mulai lengket... dan satu lagi yang paling penting, membuat ongol-ongol tak banyak menyita waktu alias bisa dibuat dalam waktu yang singkat. Saya suka sekali menyantapnya saat adonan masih terasa hangat-hangat gitu... hmmmmm yummmmmiii be-ge-te. Coba saja. Pas juga jika disajikan bersama secangkir teh.
Wahhh... sudah kebayang aza nih lezatnya... yuk ah kita ke dapur. Kita intip resep dan cara membuatnya. Sebelum mengolahnya kita siapin dulu bahannya, berupa :
bahan-bahan dan cara membuatnya. Simple ya.... :)
 350 gr tepung hunkwee
4 sdm tepung kanji
1400 ml air (bisa dikurangi jika ingin adonan lebih padat atau ditambah jika ingin adonan lebih kenyal)
350 gr gula merah, disisir
150 gr gula putih
½ butir kelapa tua parut (ditambah garam secukupnya), kukus
Cara membuatnya mudah saja, campur 350 gr tepung hunkwee + 4 sdm tepung kanji dalam panci. 150 gr gula putih + 350 gr gula merah yang sudah disisir dicampur bersama air dalam wadah terpisah. Aduk sampai gula larut, saring lalu masukan dalam panci yang berisi tepung. Masak di atas api kecil, aduk hingga mengental dan meletup-letup nanti akan terlihat warnanya menjadi bening. Angkat, kemudian ambil satu sendok lalu gulingkan dalam parutan kelapa. Lakukan sampai adonan habis. Lalu hidangkan.
Kakak kesatu yang selalu semangat :)
Simpel ya..... yang paling penting bagi saya, bikin ongol-ongol ga bikin dapur berantakan. Suwer!  😁 😁 😁
Siap untuk membuat ongol-ongol? Mareeee dicoba.

Selasa, 19 November 2013

On 09:36 by elsapuspita in    2 comments



Pohon manggaku tampak dari dalam
       Halaman rumahku memang ga terlalu luas. Dengan luas yang hanya segitu-gitunya ya saya pergunakan dengan menanam beberapa tumbuhan yang lebih banyak ga berbunga. Bunga ros yang diberi adikku malah layu dan mati. Bunga aster yang dibeli anakku juga malah kering dan layu. Yahhhh barangkali tanganku ga bersahabat dengan tumbuhan berbunga. Jadi saya lebih memilih tumbuhan berdaun saja. Semacam kuping gajah gitu lah, atau kaktus. Xixiiii... kesannya gimana gitu ya...  yang berbunga, paling ada tanaman ephorbia. Eh itu juga batangnya berduri lagi kayak kaktus  😁
      Nah selain tanaman-tanaman yang imut itu, di halaman depan tumbuh juga pohon mangga. Sewaktu beli rumah ini pohon mangga itu memang sudah ada. Tadinya mau ditebang sih, tapi banyak yang bilang sayang kalau dibuang begitu saja. Buahnya manis, katanya. Ga jadi ditebang deh. Tadinya sempet sebel juga, soalnya banyak semutnya sih. Suka gigit-gigit kalau lagi nyapu halaman, sampai masuk rumah pula... tapi lama-lama akhirnya bersahabat juga nih sama ci cemut 🐜
      Sejak beberapa bulan lalu pohon manggaku ini mulai berbunga dan terlihatlah beberapa calon mangga yang imut-imut :D lama-lama akhirnya semakin membesar. Ga banyak sih buahnya, tapi seneng lah lihat pohonnya berbuah. Si sulung segera membawa spidol hitam kemudian menandai mangga yang paling besar. Namanya ditulis di sana besar-besar Salma trus ditandatanganinya. Ketika ditanya kenapa ditulis begitu? Biar ga ada yang metik, katanya. Kemudian dia juga menulis nama-nama sepupunya. Dari Zahran sampai Nasywa. Xixiii... Akhirnya buah-buah itu mempunyai nama. Kemarin saja saat adikku, Ocil dan Lina berkumpul di rumah, spidol kembali beraksi menandai mangga-mangga yang belum bernama.
Mangga-mangga yang sudah bernama
Suatu sore, nggak seperti beberapa hari ke belakang hujan selalu mewarnai, sore itu begitu cerahnya. Jadi saat tiba di rumah, Salma bisa menikmati sore cerah, bermain sepeda dengan teman-teman di komplek. Saya sedang makan saat dia masuk ke rumah dan berkata, “Bunda, kata Mamah Cica sama Mamah Kiki mau ngasih nama mangganya , boleh ga? Hiiiihii...hi akhirnya saya keluar sambil membawa spidol mempersilahkan mereka untuk menandai mangganya. Sambil melihat-lihat mangga yang masih polos,  kami tertawa lucu. Mamah Kiki menuliskan nama Rifki dan Dafi di mangga yang dipilihnya, kemudian menulis nama Cica juga Lutfia. Haaaa... ada-ada saja ya...
Senangnya bisa berbagi dengan para tetangga  😁 Insya Alloh buah mangganya bisa dinikmati bersama-sama.
Sebelum kita makan mangganya, yuk kita cari tahu darimana asal buah ini dan kandungan gizi juga khasiat/manfaat mangga buat tubuh kita. Mareeee .....
Nama buah ini berasal dari Malayalam maanga. Kata ini dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga; dan pada pihak lain, kata ini dibawa ke Eropa oleh orang-orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Inggris) dan lain-lain. Nama ilmiahnya sendiri kira-kira mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”.
Pohon manggaku tampak dari luar
Berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke asia tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun yang silam. Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh.
Tak hanya nikmat dikonsumsi, mangga juga menyehatkan. Dalam secangkir mangga potong, terkandung 105% persen kalori, 76% vitamin C, 25% vitamin A, 11% vitamin B6, 9% serat prebiotik, 9% tembaga, 7% potassium, dan 4% magnesium.
Ada beberapa keutamaan buah ini bagi kesehatan :
1. Mencegah Kanker, penelitian menunjukkan senyawa antioksidan dalam buah mangga melindungi tubuh terhadap risiko kanker usus besar, payudara, leukemia dan prostat.
2. Menurunkan Kolesterol, tingginya kandungan serat, pectin dan vitamin C dalam mangga membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
3. Mencerahkan Kulit,senyawa dalam mangga mampu membersihkan pori-pori dan menghilangkan jerawat pada kulit wajah. Dapat digunakan baik secara internal maupun eksternal bagi kulit.
4. Menyehatkan Mata,secangkir mangga memasok 25% nilai harian vitamin A yang diperlukan. Karenanya, konsumsi mangga baik untuk kejernihan penglihatan dan mencegah mata kering.
5. Memenuhi Kebutuhan Alkali, asam tartrat, asam malat, dan asam sitrat dalam buah ini membantu menjaga cadangan alkali tubuh.
6. Menormalkan Kadar Insulin,daun mangga membantu menormalkan kadar insulin dalam darah. Buah mangga juga memiliki indeks glikemik yang relatif rendah (41-60) sehingga cukup mengkosumsi mangga tidak berbahaya bagi kadar gula.
7. Meningkatan Performa Sex,penelitian lebih lanjut menunjukkan asupan buah mangga dapat membantu meningkatkan gairah seks.😉
8. Meningkatkan Pencernaan,serat dalam mangga juga membantu kelancaran pencernaan dan sekresi hasil pencernaan.
9. Mengobati Panas Dalam,teriknya sengatan matahari dapat menyebabkan kelelahan otot dan masalah diuretik. "Serangan panas" menyebabkan ginjal mengalami kelebihan beban dalam menetralkan racun. Pada saat-saat seperti ini pendinginan tubuh dengan mengkonsumsi jus mangga amat disarankan.
10. Meningkatkan Kekebalan Tubuh,jumlah vitamin C dan vitamin A yang cukup, ditambah 25 jenis karotenoid dalam mangga membantu menjaga sistem kekebalan tubuh Anda tetap sehat dan kuat.(Sumber: suaramerdeka)
Selamat menikmati buah mangga....