Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Selasa, 26 November 2013

On 16:08 by elsapuspita in    3 comments


Anak-anak suka sekali jajan dogput. Beberapa kali saya melihat mereka - ponakan-ponakanku, Farah dan Hana, juga putriku, Salma - membeli jajanan itu. Saya agak sedikit kurang suka jika anakku sering jajan makanan seperti itu. Beberapa kali saya pernah mengingatkan agar tak terlalu sering atau bahkan ga perlu jajan jajanan seperti itu. Saya lebih menyarankan anak-anak untuk membeli kue-kue atau biskuit-biskuit, daripada jajanan yang diolah begitu rupa yang banyak ditemui di sekolah-sekolah. Ngeri juga ya... melihat maraknya pewarna makanan atau pemberian bumbu-bumbu yang berlebihan pada jajanan-jajanan itu. Saya juga sarankan jika mau makanan seperti jajanan itu lebih baik membuat sendiri di rumah.
            Suatu hari putriku memintaku untuk dibelikan bihun dan telur puyuh. “Buat apa?” tanyaku. “Mau bikin dogput,” jawabnya. Hey! Saya sedikit ragu apa bisa putriku ini membuat sendiri jajanan dogput itu. Tapi, yaaa.... bolehlah nanti saat belanja atau mampir ke warung saya akan belikan bihun juga telur puyuh pesanannya. Beberapa kali putriku menagih pesanannya. Wadduhhhh kenapa juga tiap ke warung saya lupaaa aza dengan pesanannya. I’m sorry, honey.
            Untunglah saat berbelanja bulanan, selain keperluan rumah tangga juga sayuran, saya tak lupa memasukan bihun juga telur puyuhnya. Hmmmm... putriku pasti seneng nih.
Mengetahui pesanannya sudah ada, putriku begitu semangat sekali masuk dapur. Selepas mandi sore, layaknya seorang chef dia mulai mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukannya. Saya sedang mencuci baju-baju sore itu jadi sesekali saat anakku bertanya, saya juga sesekali ngintip. Sebagai master chef, saya perlu memberi pengarahan juga kan? 😁
Saya lihat putriku menyiapkan bahan-bahannya : bihun, telur puyuh, kulit lumpia dan bumbu-bumbu. Sederhana ya? Selesai mencuci dan mandi saya pun ikut nimbrung di dapur. Saya perhatikan gaya dan cara putriku memasak. Saya lihat bihunnya sudah ditiriskan, pastinya dia sudah merebusnya ya... trus dia menaburi bihunnya dengan bumbu penyedap. Saya ingatkan untuk menabur bumbu secukupnya saja. Kemudian dia mengambil piring besar dan mengambil selembar kulit lumpia. Dia juga siapkan telur puyuh didekatnya. Setelah itu kulit lumpia diberi 1-2 sendok bihun lalu dipecahkannya telur puyuh diatasnya. (Nah, di sini saya ingatkan putriku untuk membuang kulit telur langsung dibuang ke tempat sampah) Kemudian kulit lumpia itu dilipatnya. Lalu dia sisihkan dipiring lain. Dia buat beberapa. Kemudian digorengnya satu persatu dalam minyak panas yang cukup banyak. Minyak bercipratan kemana-mana. Tetesan-tetesan telur juga ada di lantai. Piring-piring kotor sepertinya jadi double. Dapurku terlihat sedikit berantakan. Tapi biarlah..... biar putriku asyik berkreasi. Kalau diperhatikan dari caranya memasak, putriku ini seperti chef yang ahli banget. Sambil melihatnya memasak, kami ngobrol-ngobrol santai. Dia cerita kalau saat jajan dogput, dia suka memperhatikan cara c’ Mang membuatnya. Haaaa...  πŸ˜
Akhirnya setelah semua selesai digoreng, kami mulai membersihkan sisa-sisa kotoran yang tersisa. Membersihkan cipratan minyak dan mengepel lantai. Setelah semuanya beres, akhirnya... kami bisa menikmati dogput ala Chef Salma. Dia penuh semangat menyantapnya. Saya pun kebagian. Wawww... begini toh rasa jajanan dogput? Saya sampai nyomot dua atau tiga ya... Xixiiii...  
Eh ngomong-ngomong kenapa ya makanan ini diberi nama dogput. Kenapa ga bihun lipat gitu... setelah survey saya baru tahu kalau dogput itu artinya endog nyumput. Xixiiii ada-ada saja  πŸ˜
Saat berkecimpung di dapur itu, saya sebagai Master Chef juga sekaligus fotografer. Pertama sih sembunyi-sembunyi memotret aktifitas si sulung ini, tapi akhirnya ketahuan juga.... 😊
Inilah gaya putriku memasak... 
like mother like daugther😊
Kalau anak ’masuk’ dapur, jangan kaget kalau jadi agak-agak sedikit berantakan gitu. Biarkan anak asyik berkreasi. Tapi jangan meninggalkan anak yang sedang asyik di dapur ya... walaupun masak makanan yang sederhana sekalipun tetap harus diawasi. Saat anak di dapur, ini merupakan waktu yang tepat untuk memberikan petunjuk penggunaan alat-alat memasak, menggunakan kompor gas, bagaimana dia harus hati-hati dengan api, minyak panas, dan juga memberikan penjelasan jika memasak itu ga harus selalu membuat dapur menjadi kotor dan berantakan.

3 komentar: