Kamis, 26 September 2013
On 12:15 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
![]() |
| pic. by : depositphotos.com |
Diseluruh Indonesia tanggal 21 April
diperingati sebagai hari Kartini. Katanya berkat Kartini maka lahirlah
emansipasi wanita. Kesetaraan gender. Saya nggak mengerti mengapa orang-orang
kemudian begitu memuja Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita. Hanya karena
Kartini bisa berbahasa Belanda, dan menulis surat kepada teman-teman korespondesi
yang berasal dari Belanda sehingga timbul keinginannya untuk memajukan
perempuan pribumi. Dari situ kemudian orang berpikir bahwa dia begitu pintar,
beberapa langkah lebih maju daripada apa yang dipikirkan wanita-wanita lainnya
saat itu.
Kenapa tidak dengan Cut Nyak Dien? Padahal Cut
Nyak Dien melakukan sesuatu yang nyata pada masa penjajahan yaitu berani
menggangkat senjata melawan penjajah, memimpin perlawanan terhadap
Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukannya. Bukan hanya mengangkat
senjata, tetapi juga memberi semangat kepada kaum wanita agar ikut membantu
kaum pria di setiap medan pertempuran sehingga Belanda kewalahan menghadapi
kaum wanita yang ikut berjuang. Tapi tak ada Hari Cut Nyak Dien
Kenapa tak ada juga Hari Dewi Sartika yang
juga jelas berjuang mendirikan sekolah untuk kemajuan kaum perempuan, atau
kenapa juga tak ada Hari Martha Christina Tiahahu yang dikenal sebagai gadis
pemberani. Diusianya yang baru 17 tahun waktu itu mengangkat senjata melawan
penjajahan Belanda dalam perang Patimura. Yaaa... banyak tanya di kepalaku
kenapa ya hanya RA. Kartini yang diperingati sebegitu rupa, seolah-olah kalau
tanpa Kartini maka perempuan Indonesia tak bisa maju.
Maaf! Bukan saya tak menghormati Kartini,
hanya bertanya saja karena tiba-tiba muncul dipikiranku “Kenapa ya seperti
itu?” Kenapa yang ada hanya hari kartini yang kemudian tanggal lahirnya
diperingati setiap tahunnya di Indonesia, bahkan dijadikan tonggak dimana
wanita meminta untuk disejajarkan dengan kaum pria.
Padahal dalam Islam sudah sangat jelas
bagaimana kedudukan dan peran wanita begitu sangat istimewa. Wanita tidak
berada di bawah laki-laki untuk diinjak, tidak di atas untuk menginjak, tidak
berada dibelakang untuk ditinggalkan, tidak berada di depan untuk memimpin,
tapi berada di samping sebagai pendamping.
Bagaimana tidak luar biasa kedudukan wanita
ketika dikatakan bahwa wanita/ibu sebagai madrasah bagi anak-anaknya, bahkan
ada pepatah yang menyatakan bahwa syurga berada di bawah telapak kaki ibu.
Dalam Islam pria atau wanita sama-sama mempunyai ladang jihad. Ketika kaum
bapak dikatakan jihad ketika mencari nafkah, maka pada saat ibu mengasuh anak-2
dan mengerjakan pekerjaan di rumah adalah juga merupakan jihad.
Jika kesetaraan gender yang digembar-gemborkan
karena wanita ingin eksistensinya diakui, menuntut agar wanita bisa bekerja
agar dapat mengaktualisasikan dirinya, kenapa tak ingat bahwa istri Nabi saw,
Siti Khodijah ra. juga berkiprah sebagai pengusaha yang kaya dan handal yang
dengan usahanya itu mendukung Nabi saw dalam menyebarkan agama Islam. Tak ada
larangan wanita untuk berkarya. Luar biasa !!!
Lalu kenapa wanita ingin menuntut kesetaraan
gender hanya karena hari Kartini yang selalu diperingati Bangsa Indonesia
setiap tgl 21 April? Padahal Islam memberikan tuntunan yang sangat jelas.
Memberikan penghargaan yang tinggi pada wanita. Mengangkat harkat dan martabat
wanita.
Saya pikir tanpa ada hari Kartini pun wanita Indonesia bukanlah wanita yang
lemah. Tanpa ada hari Kartini pun wanita Indonesia akan diakui eksistensinya.
Wanita yang bisa berkarya. Wanita yang akan memperoleh haknya untuk mendapatkan
pendidikan. Ada pepatah mengatakan carilah ilmu sampai ke liang lahat. Nabi saw pun pernah bersabda "Barangsiapa menempuh satu jalan untuk
mencari ilmu, niscaya Alloh mudahkan baginya jalan masuk surga. Para malaikat
itu membentangkan sayapnya untuk orang yang mencari ilmu karena ridho dengan
apa yang ia cari. Sesungguhnya orang 'alim itu dimintakan ampunan oleh penduduk
langit dan bumi, hingga ikan yang ada di dalam air." - HR. Abu Dawud, Ibn
Majah, Ibn Hibban
Jadi.... Ayooo wahai wanita tambahlah ilmumu! Berkaryalah!
Apapun pekerjaanmu berkaryalah dengan baik dan ingatlah! menjadi ibu rumah
tangga bukanlah pekerjaan yang hina tapi lebih utama.
Kata Bunda :
Ketika ada yang bertanya padamu, sementara
kamu bukanlah wanita karier, jangan malu untuk katakan, “Saya ibu rumah
tangga. Dan saya bangga menjadi ibu rumah tangga.”
Kenapa? Karena disanalah ladang jihad saya,
yang terbaik, yang Alloh berikan untukku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Tamu Bunda
Popular Posts
-
Pernah ga saat mencuci lap penuh dengan minyak? Kalau bertemu lap seperti itu, wajar lah agak sedikit malas mencucinya. Dulu itu sering ...
-
Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. ...
-
Gaya bareng soulmate Hampir tiap pekan, anakku Helmi "janjian" sama sepupunya Syauqi buat nginep di rumahnya. Instruktur D...
-
pic. by : yagakgitujuga Mengenangmu sangat menyakitkan Tapi tak bisa kuhindari Saat aku kembali di tempat ini Aku tahu a...
-
Rabu Pagi, 29 Oktober 2014, kurang lebih jam 9-an, sedang On Air # NgoPi “Ngobrol Pagi ”, kantorku kedatangan tamu istimewa. Bapak...
Follower
Me Just
Seorang Ibu dengan 2 anak yang perlu banyak belajar. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing.Haaa...

0 komentar:
Posting Komentar