Kamis, 17 Maret 2016
On 18:42 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
Saat duduk di bangku kelas 6, saya dan kakak dipercaya oleh wali kelas untuk tampil di acara perpisahan sekolah. Kami tak lihai, tapi buat mereka (Teman-teman & guru), kami ini istimewa karena bisa menari tarian tradisional. Kami sekolah di sekolah swasta, sekolah non Muslim, teman-teman kami dominan Chinese. Terlihat mereka sangat kagum dengan sesuatu yang berbau tradisional. Kami bisa menari karena Mam’ memasukkan kami di Pondok Olah Seni Sari Kota Inten. Beberapa tarian kami kuasai, yaitu Tari Yapong, Tari Dewi dan Tari Pohaci.
Kami sempat tampil saat acara kunjungan sekolah satu yayasan dari Tasik. Jadwal menari kami sesuai dengan rundown yang kami terima adalah +- jam 6/7 malam (saya kurang yakin * lebih banyak ke lupa lagi. xixiii...) yang saya ingat penampilan kami di jadwal lebih dulu dari tarian yang akan dibawakan oleh tim tamu. Namun karena acara molor dan tim tamu kegerahan dengan pakaian yang meriah dan dandanan yang super, serta ‘menghormati’ tamu (denger-denger guru kami, bilang begitu) maka penampilan kami mundur ke penghujung acara dengan beberapa gelintir penonton, diantaranya guru kami dan orang-orang yang kasihan karena kami tak ada yang nonton. (tragis ya... heheee... banget!). Setelah tim tamu tampil dengan modern dance-nya yang energik, para penonton berhamburan keluar, memilih berphoto ria dengan grup dance yang penampilannya seperti penari-penari Guruh Soekarno Putra yang di jamannya benar-benar menjerat mata.
Waktu itu, perasaan kami biasa-biasa saja. Hanya memang menari kami tak ‘bersemangat’. Bukan karena kami down, tapi lebih karena memang tari Dewi itu halus dan lembut, kesannya kalau dalam basa Sunda itu seperti leuleus meuyeu (lemes). Ditambah kami sudah terserang ngantuk. Bayangkan saja, dandan dan nunggu tampil dari jam 5 sore, ternyata naik panggung jam 9 malam. Sebagai anak yang masih imut waktu itu, jam segitu ya waktunya ketemu bantal, dong. Ya sudah, kita abaikan saja pengalaman yang kurang menyenangkan, sebenarnya. Kami dicuekin.
Barangkali karena teman dan guru kami sangat appreciate dengan kemampuan menari kami. Maka saat perpisahan itu kami didaulat untuk menari jaipongan. Padahal jujur saja, kami tak bisa menari jaipong. Hanya saja saat itu lagi booming tari jaipong Daun Pulus. Kami sudah jelaskan kalau kami tak bisa jaipongan. Kami hanya ikut-ikutan goyang saja. Tak pakai pakem atau aturan yang penting enak jatuhnya saja. Belum layak buat tayang di panggung. Tapi guru kami tetep keukeuh kami harus jaipongan.
Karena request itulah, maka kami belajar nari jaipong dari Teh Atik, teman Mam’. Tapi belajar nari itu ga bisa sehari dua hari, lho. Kami belajar nari Dewi saja perlu waktu lama sampai akhirnya kami bisa mengikuti ujian kenaikan tingkat ke tari selanjutnya yaitu tari Pohaci. Ini kami harus belajar nari jaipong +- seminggu dua minggu. Jujur saja tidak semua gerakan dapat dikuasai. Sementara acara perpisahan semakin mendekat. Yaaa,,, akhirnya gerakan kami modif sesuai kemampuan kami saat itu. Poko’e joged! Ehhh salah poko’e kami harus tampil jaipongan. Begitulah kira-kira kasusnya. :D
Apakah kami bisa tampil menari Jaipong di acara perpisahan sekolah?
lanjutannya di episode berikutnya ya.... 😉😉😉
#ODOP
#OneDayOnePost
#Harike11
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Tamu Bunda
Popular Posts
-
Pernah ga saat mencuci lap penuh dengan minyak? Kalau bertemu lap seperti itu, wajar lah agak sedikit malas mencucinya. Dulu itu sering ...
-
Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. ...
-
Gaya bareng soulmate Hampir tiap pekan, anakku Helmi "janjian" sama sepupunya Syauqi buat nginep di rumahnya. Instruktur D...
-
pic. by : yagakgitujuga Mengenangmu sangat menyakitkan Tapi tak bisa kuhindari Saat aku kembali di tempat ini Aku tahu a...
-
Rabu Pagi, 29 Oktober 2014, kurang lebih jam 9-an, sedang On Air # NgoPi “Ngobrol Pagi ”, kantorku kedatangan tamu istimewa. Bapak...
Follower
Me Just
Seorang Ibu dengan 2 anak yang perlu banyak belajar. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing.Haaa...
0 komentar:
Posting Komentar