Sabtu, 09 April 2016
On 12:31 by elsapuspita in Cerita Bunda No comments
![]() |
| pic. by tharanaikata |
Beberapa
waktu lalu saya sudah merasa kurang enak dengan tubuh ini, terutama saat buang
air kecil. Sebentar sebentar ke belakang tapi berasa nggak tuntas. Bulak balik
terus sampai cape. Perut bagian bawah berasa penuh dengan air tapi nggak lancar
keluar. Jadinya merasa ‘berat’.
Saat
perjalanan pulang ke rumah saya curhat sama maylopelope :
“yah, udah 3 hari nih rasanya Bunda nggak
enak banget kalau buang air kecil. Kayak udah pipis tapi di sini tuh berasa ga
keluar semua,” kataku sambil menunjuk perut bagian bawah
“Periksa ke dokter atuh,”
“Justru itu, Yah. Bunda nggak mau ke
dokter. Ayah antar Bunda ke Ustad saja ya, Yah?” pintaku. Maylopelope nggak
bersuara.
***
Sampai
rumah saya coba nge-chat Teteh via WA.
“Bu, Ustad besok ada di rumah ga ya?”
tulisku di pesan WA.
“Kenapa?”
“Ini, Bu.... blablabla... saya ceritain
keluhannya
“Ooohhh,,, ke dokter saja. Dulu juga Teteh
pernah ngalamin kayak gitu. Periksa ke dokter.” Itu sarannya
“Ok deh kalo begitu,” tulisku tergugu
Malam
itu tidurku gelisah. Bukan karena takut ke dokter tapi karena perutku seperti
menyimpan bergalon-galon air. Wahhhh terlalu lebay ya??? Ahhh pokoknya
sakit weh...
***
Pagi,
sekalian mengantar anak sekolah, akhirnya saya putuskan untuk ijin kerja dan
minta maylope-lope antar ke dokter. Jam belum menunjukkan angka 8, loket
pendaftaran pun belum dibuka tapi pasien sudah berjajar dan terus bertambah.
Okey,,, harus sabar.
Beberapa
saat kemudian loket dibuka. Dan saya mendapat antrian pertama sebagai pasien
dokter Ag*st*n*. Tak lama kemudian saya dipanggil. Hati, perasaan dan pikiran
dibuat enjoy. Saya tersenyum sambil menyapa wanita berbaju putih itu. Wanita
yang saya yakin dokter itu memberi isyarat dengan tangannya mempersilahkan saya
duduk.
“Apa
keluhannya, Bu?”
“Ini,
Dok,,,” bla-bla-bla saya ceritakan keluhannya. Belum selesai, dokter kemudian
menyuruh saya untuk periksa air seni. “Silahkan periksa di Lab”, perintahnya
tegas. “Nanti kembali lagi ke sini.”
Klinik
ini memang lengkap. Saya nggak perlu keluar untuk cek lab. Masih di gedung ini
juga saya kemudian menuju lab. Cek urine.
Setelah
menunggu kurang lebih 30-45 menit, akhirnya hasilnya keluar juga. Saya sempet
ngintip hasilnya, tapi ya nggak ngerti, hasilnya itu apa??? Hihiiii... okey,
nanti saya akan mendapatkan penjelasan dari dokter. Langsunglah saya
menuju ruangan dokter utnuk memberikan hasil cek lab.
Dokter
membuka hasil report lab. Kemudian dengan lantang dia berkata (senada dengan
hampir membentak) “Ibu mau kerjasama dengan saya, nggak?”
Jujur
saja mendengar kata dengan nada seperti itu saya kaget. “Kerja sama untuk apa
Dok?” tanyaku
“Iya,
Ibu mau kerjasama dengan saya nggak?”
“Siap,
dok.”
“Bener,
nih?” tanyanya keras, mengetahui jawabanku seolah tak yakin. Okey,
terus terang saya bingung dengan dokter ini. Tentunya, saya akan mau
bekerjasama dengan dokter, kan kepengen sehat.
“Kalau
Ibu mau sehat ibu harus mau kerjasama dengan saya. Setiap pasien yang mau sehat
harus kerjasama dengan dokternya kan.”
“Iya,
Dok saya siap bekerjasama. Memang hasil labnya kenapa ya, Dok?” tanyaku.
“Udah,
Ibu banyak minum air putih. Ingat ya, air putih. Setiap 1 jam sekali minum satu
gelas. Ga ada alasan lupa. Simpan dekat ibu satu gelas air putih. OK?” katanya
meminta persetujuanku.
Sementara
dipikiranku berputar keraguan,,, bagaimana harus banyak minum? Rasa-rasanya
diperut ini saja rasanya air belum terkeluarkan. Trus itu hasil
labnya gimana? Penjelasannya...
“Ok,
Dok,,, memang hasil labnya kenapa, Dok?” tanyaku
“Ooooo
ini sudah jelas, Ibu positif infeksi kandung kemih. Ibu kurang minum.” Saya mau
mangap ketika dokter itu berseru, “Jangan bilang Ibu rutin minum. Bohong itu!”
“Apa
bukan karena nahan pipis, Dok?” tanyaku penasaran, karena memang beberapa hari
terakhir saya harus nahan-nahan b a k. Lagi diperjalanan, susah nyari toilet,
atau Wc nya lagi dipake lah atau ketika lagi on air,,, tiba-tiba kebelet, ya
diselesaiin dulu bahasannya baru bisa melenggang ke tandas.
“Nggak,,,
bukan itu. Ibu kurang minum air putih. Lihat hasilnya air seni ibu keruh
sekali,” jelasnya sementara matanya memperhatikan hasil lab.
“Kalau
minum air teh boleh nggak, Dok?” tanyaku. Soalnya saya memang paling senang
minum air teh, apalagi teh hangat agak-agak panas.
“Masih
ngebantah juga. Minum air putih. Titik.” Serunya. “Okey, saya beri antibiotik
untuk infeksinya. Habiskan ya...”
Walau
sedikit upset dengan cara menjelaskannya, saya tetep bilang terima kasih untuk
pelayanannya.
Pulang
dari klinik langsung ke kantor dan bertugas lagi. Hari ini, gelas di meja
selalu terisi penuh, agar tidak lupa minum air. Saya harus banyak minum air
putih. Itu pesan ibu dokter.
#ODOP
#OneDayOnePost
#Tulisanke22
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Search
Tamu Bunda
Popular Posts
-
Pernah ga saat mencuci lap penuh dengan minyak? Kalau bertemu lap seperti itu, wajar lah agak sedikit malas mencucinya. Dulu itu sering ...
-
Tak terasa ya... satu semester berlalu. Setelah melalui Ulangan Akhir Semester, tiba saatnya anak-anakku mendapatkan hasil belajarnya. ...
-
Gaya bareng soulmate Hampir tiap pekan, anakku Helmi "janjian" sama sepupunya Syauqi buat nginep di rumahnya. Instruktur D...
-
pic. by : yagakgitujuga Mengenangmu sangat menyakitkan Tapi tak bisa kuhindari Saat aku kembali di tempat ini Aku tahu a...
-
Rabu Pagi, 29 Oktober 2014, kurang lebih jam 9-an, sedang On Air # NgoPi “Ngobrol Pagi ”, kantorku kedatangan tamu istimewa. Bapak...
Follower
Me Just
Seorang Ibu dengan 2 anak yang perlu banyak belajar. Pernah sempat bercita-cita pengen jadi guide biar bisa jalan-jalan sama turis asing.Haaa...

0 komentar:
Posting Komentar