Jika ini disebut kesempatan, gunakan dengan baik. Jika ini adalah jalan, ikuti alurnya dengan yakin. Tak ada sesuatu yang sia-sia. Karena siapa menanam dia akan menuai. Berbuat baiklah.

Jumat, 17 Oktober 2014

On 18:17 by elsapuspita in    1 comment
16 Oktober 2014
Rutinitas pagi bersama Mita, saya memandu sebuah program #NgoPi 07-10Pagi di Radio Inspirasi Hati Rugeri 93.4 FM. “NgoPi” itu Ngobrol Pagi. Disela obrolan si cantik Mita mengirimku pesan lewat FB, orang suka bilang inbox-an. ada lomba blog "IdeKU Untuk PLN" begitulah kira-kira isinya. 
Wahhh,,, jadi keingetan lagi deh, kemarin sore saya memang sempat nengok blogdetik dan sempat menangkap tulisan tersebut. Hanya sayang jaringan nampaknya lagi kurang bersahabat sehingga saya tidak terlalu ngeh. Dan pagi ini yang cantik mengingatkanku kembali. Segeralah saya klik dan mulai melihat syarat dan ketentuan. Agak kecut juga sih ternyata batas waktu pengiriman tinggal satu hari lagi. Wahhh... bisa ga ya saya dapat ide dalam waktu mepet begini? Nampaknya saya harus rela melepaskan kesempatan bagus ini.
Planning hari ini adalah setelah selesai on air, saya dan Mita akan berkunjung ke PLN Area Garut untuk bertemu dengan Pak Wahyudin, Humas PLN Area Garut. Selain ada yang harus disampaikan dari kantor, juga mengantar surat khusus, eitssss... jangan pikir macam-macam ya... surat khusus ini berupa undangan pernikahan. :)
Nah, akhirnya kami bertemu dengan Pak Humas. Senyumnya mengembang saat mendapati kami dalam pandangannya. Kami mulai berbincang. Saya menyerahkan surat dari kantor + undangan Mita. Pak Humas sangat senang sekali mendengar kabar pernikahan itu. Sesaat Pak Humas mendoakan calon pengantin. Kami aminkan doa yang baik itu. Kemudian kami mendapat ilmu tentang keluarga sakinah mawaddah warohmah. (terima kasih Pak, ilmunya sangat bermanfaat sekali bagi saya juga calon pengantin. Heeee... ). Suasananya akrab itu yang saya suka dari Pak Humas ini. Lepas itu kami diperkenalkan dengan Bapak Epi, Supervisori Administrasi & Umum.
Pas mau pamit, tiba-tiba saya lihat di dinding sebelah kanan kami ada tulisan “Hari Listrik Nasional”. Pikiran saya langsung melayang pada satu segment NgoPi #Hari_Ini_Dalam_Sejarah. Kebetulan saya juga editor materi untuk segment itu. Pernah saya lihat di file mengenai hari listrik nasional ini. Meluncurlah percakapan tentang HLN ini. Dan entah darimana juga tiba-tiba meluncurlah dari mulutku cerita soal lomba blog ini. Saya bilang “... sayang, Pak. Besok hari terakhir... “
Pak Humas memberi saya semangat, “Ayo Neng ikutan. Pasti, Eneng mah bisa...”
Heiiii!!! lihat wajahnya yang sumringah saya jadi termotivasi. Apalagi Pak Humas memberi masukan, bercerita banyak tentang listrik yang seringkali byar pet. “Apalagi sekarang musim layangan, Neng. Pakai benang kawat itu yang bahaya.....”, Pak Humas menjelaskan. Pak Humas juga memberikan materi-materi yang berhubungan dengan layangan benang kawat itu. Mendengar penuturan Pak Humas, saya jadi mulai berfikir apa ya ide bagus untuk PLN-ku di Hari Listrik Nasional ini.....?


Pas mau pulang sempet cerita-cerita soal layang-layang











Malam hari pikiran mulai melayang-layang. Aduhhhh, masa harus nyerah sih! 😔

Selasa, 30 September 2014. Sore itu walaupun sudah tiba waktu pulang, saya dan Mita masih berada di kantor. Kebetulan ada tamu yang berkunjung ke kantor, GielangGumilang Setra, Desainer Acuk Lalaki. Kami ngobrol banyak. Seru mendengar cerita-ceritanya yang luar biasa... ketika tiba-tiba pret! Mati lampu. Hadeuhhhhh..... mana hpku baru saja di-charge. Bagaimana mungkin bisa segera dinyalakan. Tiba-tiba HP si cantik Mita berdering kemudian terjadilah percakapan  beberapa saat. Kemudian Mita menyampaikan pesan dari penelpon tadi yang ternyata tak lain adalah Pak Humas PLN Area Garut. Katanya Pak Humas tadi telp saya. karena hapenya ga nyambung jadi hubungi Neng Puti, begitu pak Humas manggil Mita 😉 Mati lampu kali ini bisa jadi akan sangat lama, begitu katanya. Akibat pemain layang-layang yang menggunakan benang kawat sehingga mengakibatkan putusnya 2 penyulang listrik, yaitu penyulang Suci dan Cilawu. Apalagi putusnya penyulang Cilawu sangat parah. Sehingga akan memerlukan waktu yang lama untuk memperbaikinya. Dan hal ini membuat sebagian wilayah Kota Garut mengalami mati lampu.😔
Ini potongan inbox dari Mita
Ini potongan inbox dari Mita

Ini potongan inbox dari Mita

Selepas Maghrib, saya, Mita dan juga Gielang meninggalkan kantor. Sementara Mita dan Gielang lebih dulu menuju “Mocin” Mita, saya bertemu dengan pak Asep-Vertikal dan Pak Dadang dari Intan Foto Copy. Mereka tengah bercakap dan mengeluh dengan yang mereka sebut pemadaman listrik. Saya yang tahu masalahnya menjelaskan dong kalau itu bukan pemadaman listrik tapi mati lampu akibat ulah layang-layang benang kawat yang menyebabkan 2 penyulang listrik rusak. Saya jelaskan juga kalau mati lampu kali ini akan sedikit lama karena memerlukan waktu yang untuk perbaikan. Sembari saya ajakin bapak-bapak itu untuk turut berpartisipasi menghimbau anak-anak yang suka main layangan agar tidak menggunakan benang kawat. Xixixiii... serasa petugas PLN deh heheee...😁
Sepanjang perjalanan gelap gulita. Bisa jadi karena gelap, saya yang sudah tiba di rumah harus kembali lagi ke kantor karena ternyata kunci rumah tertinggal di laci meja (hadeuhhh..... #tepokjidat) .😁Mita yang mengantarku dengan mobil cintanya berhati-hati mengendarai mocinnya. Kali ini dia ga lupa menyalakan lampu mobilnya 😉. Jadi hari ini, 30 September adalah pengalaman yang seru. Mengendarai mocin dalam gelap gulita .😁
Padam listrik atau mati lampu gara-gara layangan. Ini memang bukan kejadian pertama kalinya. PLN melalui Pak Humas memang sudah menghimbau berkali-kali. Tapi ternyata pecinta layang-layang itu begitu gemarnya menggunakan benang kawat. Padahal itu sangat membahayakan bukan saja dirinya tapi juga orang lain. Bahkan kerugian bukan hanya ditanggung sendiri tapi juga oleh masyarakat. Apatah lagi dengan kerugian yang dialami oleh PLN yang ternyata sampai puluhan milyar. Humas PLN Area Garut mengatakan, “Hampir 80% gangguan listrik di Garut ini diakibatkan oleh kawat layang-layang. Dan akibat layang-layang ini PLN rugi hingga 14 milyar rupiah” (PR). Memang, saat bertemu di Gedung PLN Area Garut, Pak Humas juga bercerita jika hanya di Garut saja ada kejadian mati lampu gara-gara kawat layang-layang. MasyaAlloh.
Soal benang kawat layang-layang ini, PLN bersama Satpol PP pernah melakukan razia yang dilakukan di 4 kecamatan rawan penggunaan tali kawat, yakni di Kecamatan Garut Kota, Tarogong Kidul, Tarogong Kaler dan Karangpawitan ternyata belum bisa maksimal. Terlebih lagi masyarakat yang ternyata kurang pengetahuan tentang bahayanya menggunakan benang kawat pada layangan. Padahal yang harus sangat disadari adalah selain dapat menimbulkan gangguan listrik, juga bisa membahayakan keselamatan jiwa penggunanya sendiri. Saya jadi ingat, saat makan mie baso RC di Jl. Copong, Ibu Hj. Herni (pemilik RC) bercerita. Beberapa waktu lalu di daerahnya itu pernah terjadi mati lampu yang dikiranya pemadaman listrik oleh PLN. Ternyata bukan. Mati lampu itu terjadi karena ada pemuda yang bermain layangan menggunakan benang kawat tersengat listrik. Dan pemuda tersebut pada akhirnya meninggal dunia. Mudah-mudahan tidak ada lagi kejadian serupa.
Bermain layangan memang masih sangat populer sampai saat ini. Saya saja yang bukan penggemar layangan sangat menikmati pemandangan langit yang berhias layang-layang. Rasanya meriah dan menyenangkan bisa melihat layang-layang itu berlari kesana kemari ditiup angin. Apalagi pecinta layangan, saya yakin, biarpun terik matahari memanggang kulit, sangat senang jika bisa menerbangkan layang-layang. Apalagi bisa sampai mendapat / menggaet layangan orang lain. Nah,,, karena banyak diantara pemain layangan ini anak-anak pelajar atau anak-anak remaja, maka ada baiknya PLN juga melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah. Mulai dari Sekolah dasar, Menengah Pertama sampai Menengah Atas. 
Pada pelajar tingkat SMP atau SMA bisa dijelaskan bahayanya menggunakan benang kawat pada layangan. Mengajak mereka untuk peduli dengan aset negara sehingga tidak merugikan negara ataupun masyarakat. Kalau untuk tingkat SD, misalnya bisa dengan menggunakan poster yang bergambar kartun menarik. Sehingga anak-anak pun akan tertarik untuk membaca, sehingga pesan tersampaikan.   (nahhhh... untuk mencetak posternya bisa hubungi saya ya,,, saya punya jasa percetakan juga xixiiii... 😉 )
Itu yang pertama. Nah yang kedua bagaimana jika PLN mengadakan kontes layang-layang sehat yang diadakan pada suatu moment tertentu semacam Festival Layang-layang di Pangandaran. Atau ketiga nih, PLN bikin lomba membuat layang-layang. Setidaknya, jika layang-layang bukan bentuk ketupat, mereka penggemar layangan itu akan saling menjaga untuk tidak “ngabandang” layangan temannya dengan benang kawat. Jadi cita-citanya nih, ingin menumbuhkan kreatifitas anak muda sekaligus menggalang rasa kebersamaan lewat layang-layang.
Atauuuuu..... ke-empat bisa jadi PLN membuat area/lapang khusus untuk para penggemar layang-layang. Ini bisa dijadikan obyek wisata saat musim kemarau tiba. Usulan yang aneh barangkali. Tapi saya juga jadi membayangkan jika setiap sore, para remaja bisa berkumpul dan bermain layangan tanpa mengganggu jaringan listrik kemudian mereka juga bisa berbagi ilmu tentang layangan. Buat layangan yang bentuknya wayang gimana ya??? Atau gimana ya cara buat layangan bentuk hello kitty... .😁(Idealis sekali ya...). Jadiiii... saya yang juga suka lihat layangan yang terbang di langit akan merasa lebih senang melihat layang-layang dan tenang (Kan aman ga meleng lihat layangan di jalanan, apalagi saat naik kendaraan). Trus bisa ajak anak-anak juga ke lapang (kan udah jadi tempat tujuan wisata di bulan kemarau. Heeee...) untuk menikmati sore yang cerah sambil menikmati indahnya langit berhias layang-layang beraneka bentuk, juga sambil makan es krim atau kripik kesukaan. Wahhh... kalau ini bisa terwujud saya akan sangat senang sekali .😁
Itu ide saya yang muncul tiba-tiba, terlintas saat membuat tulisan ini. Semoga bisa membantu. Walaupun tak banyak tapi saya berharap yang sedikit bisa membangkitkan semangat untuk saling menjaga. Menjaga agar PLN tetap bisa memasok aliran listrik dengan lancar. Menjaga agar masyarakat bisa menikmati listrik dengan tenang. Menjaga untuk kepentingan bersama.
PLN Area Garut telah memberikan himbauan lewat media, melakukan sosialisasi ke desa-desa, bekerjasama dengan Satpol PP untuk melakukan razia benang kawat layangan dan juga mengajukan Perda layangan ini ke DPRD. Tapi tanpa peran serta dari masyarakat apatah guna? Jadi yuk turut berperan menjaga aset jaringan listrik untuk kepentingan bersama.
Selamat Hari Listrik Nasional. 😊
(Sampai tulisan ini selesai, saya masih takjub. Bisa menulis seperti ini. Subhanalloh! Jadi terima kasih ya Alloh, Kau telah tuntun jari ini untuk menekan tuts keyboard menjadi sebuah cerita persembahan untuk “IdeKU untuk PLN”. Terima kasih Bapak Wahyudin, Humas PLN Area Garut juga si cantik Mita untuk semangatnya, maylopelopemayeperiting & anak-anakku yang selalu mendoakanku.  Alhamdulillah)

1 komentar:

  1. Salam kenal juga, Bang.
    Terima kasih sudah mampir di blog saya. :)

    BalasHapus